serendibity
di depan pintu aku menunggu hujan. hujan tak kunjung pulang. kemarin ia datang tapi pintu tak memberi ruang. aku membuka pintu. hujan menjelma aku. pintu menutupku. aku menjadi pintu. akhirnya hujan turun ke jalan. ia demo depan pintu menuntut aku. pintu dan hujan berseteru. hujan menarik lengan pintu. menggedor-gedor aku. aku jatuh dari langit dan hujan masih menggapai-gapai pintu. hujan menangis. pintu berteriak ‘pergi!’. hujan mendatangi aku. aku memanggil pintu.
hujan & pintu berpeluk dalam aku.
(2025)
–
saronen ibu
jauh di seberang pulau, saronen
kutanam di dadamu. jangan sekali-kali
lebih nyaring dari bunyi siut angin.
seperti gempa dari rahim tana
menggerakkan segala benda,
tiuplah di dada dan getarkan semesta.
(2025)
–
rahasia di ruang tamu
malam itu tangan-tangan jendela sibuk berdoa
di hadapan hujan yang debur dan langit yang subur
mimpimu adalah cahaya setengah purnama
bagi rumah tanpa kelip neon dan aji pusaka
tasbih dedaun pohon mangga di beranda
maklum bagi reranting atas luka-luka
sebuah rahasia tergeletak di ruang tamu
terendam genang air mata ibu
lewat pintu belakang angin mengendap-endap
tebar senyum di kamar-kamar hati yang pengap
(2025)
–
di hatiku tumbuh bunga
ada harap penuh hirup
pada bunga yang tumbuh di hatiku
biarkan mekar, sekali saja.
kemarau panjang telah gugurkan, nasib
baik yang lunak. dan kulihat bayang-bayang
perjumpaan makin jauh di batas tanah yang retak.
akan kusirami tiap-tiap kelopak dengan keringat,
dengan darah kata-kata yang mengalir hangat,
dengan kisah penuh kasih di palung kalimat.
mendekatlah!
bunga itu segera mekar
kau kecuplah, sekali saja.
(2025)
–
setancap ciuman melepas kematian
sementara aku duduk menunggu tamu
di vestibula—kulihat samar-samar suar
pilar api langit dan tarian pinggul senja,
kau bangkit dari ranjang. terkapah-kapah
melangkah matikan lampu, nyalakan birahiku
lewat liuk lidahmu. seolah tak kan ada yang dengar
tak ada yang intip dari suatu entah, mungkin
di pojok rumah. di bilik-bilik jendela. bahkan derit
pintu yang mengancam bunuh anak kita, satu
minggu lalu. kautancap bibirmu di bibirku.
(2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
