Mendekati Ring Road Utara, aku malah terjebak macet di lampu merahnya. Warna langit malam saat itu bukanlah warna hitam cerah dengan kelap-kelip cahaya bintang. Tapi warna hitam yang bercampur warna abu-abu. Melihat pengendara dari arah selatan sudah memakai jas hujan, aku berpikir harus segera menemukan tempat berteduh. Bulan Desember adalah bulan yang dingin dan basah. Bahkan saat ini aku dapat mengatakan bulan yang sangat basah.
“Nyebrang pakai mata, anjing!” Umpat seorang pengendara yang hampir menabrakku dalam bahasa Jawa. Kejadian itu terjadi saat aku hendak menyebrang menuju sebuah mini market untuk membeli jas hujan plastik sekali pakai.
Aku memarkirkan motor. Pengendara yang tadi mengumpatiku akhirnya terjebak di lampu merah. Tak berapa lama setelah aku sampai di pintu masuk mini market, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Derasnya air mengguyur juga orang-orang yang menunggu lampu merah, dan tidak terkecuali orang yang baru saja mengumpatiku tadi. Akhirnya mulut kotor pengendara itu mampu dibilas juga dengan jatuhnya air hujan, batinku.
Setelah sepuluh menit berkeliling di dalam mini market, aku bingung ingin membeli apa lagi setelah mendapat jas hujan. Suara hujan yang mengenai atap mini market berhasil merusak suara spiker yang sedang melantunkan lagu Thank You dari Dido. Mini market itu serasa sedang mengadakan orkestra perkusi dari tong bensin yang pemainnya adalah anak-anak PAUD. Aku memutuskan membeli sekaleng susu berlogo beruang dan dua botol kecil air mineral.
Aku berpikir hujan ini masih akan deras untuk waktu yang lama. Tidak ada petrikor yang tercium hidungku. Pak parkir yang saat aku datang tadi menggunakan rompi oranye, sekarang telah menggenakan jas hujan plastik berwarna hijau. Dan topinya bermerek Huxley yang sangat terlihat bukan produk orisinil berubah menjadi caping yang terdapat tulisan angka “09”.
Angin kencang yang membersamai hujan ini membuat pohon-pohon ketapang di parkiran berayun hingga seperti hendak rubuh. Para pengunjung mini market yang tidak membawa payung untuk menuju parkiran kebanyakan menunggu di pintu keluar. Aku salah salah satunya. Di sebelah timur mini market terdapat tempat senggang, dan mereka yang terjebak hujan memilih untuk menunggu di sana.
Pandanganku saat mencari tempat untuk duduk sedikit teralihkan ketika tidak sengaja bertatap mata sekilas dengan seorang perempuan. Dia baru saja keluar dari mini market dan nampaknya, saat sekilas melihat raut mukanya, kecewa dengan turunnya hujan. Dia kemudian menatap balas pandanganku lalu cepat-cepat mengalihkannya. Sedangkan mataku terpaku sedikit lebih lama padanya.
Dia perempuan yang elegan. Tangannya sedang menggenggam coklat batangan cap Bebek Mandarin. Berstelkan blazer warna oranye dengan dipadu kaos putih di dalamnya, kacamata bundar dengan bingkainya tipis, alisnya yang tebal, hidungnya yang runcing, rambut yang panjangnya melebihi bahu sedikit, rok pendek selutut berwarna coklat muda, sepatu Converse merah maroon dengan kaus kaki hitam tigaperempatnya, dan tas ransel Fjallraven warna biru tua yang ia gendong.
Setelah menemukan tempat yang pas untuk duduk, tas kuletakan kemudian mengeluarkan gawai. “Sorry telat, kejebak hujan,” kuketikan pesan itu kepada temanku.
“Permisi boleh ikutan duduk?”
Suara halus itu terdengar bersamaan saat aku baru saja melihat dua centang abu-abu muncul pada pesan yang kukirim. Aku mendongak, ternyata wanita berblazer oranye tadi. Jawaban “iya silakan” yang ingin kukeluarkan dari mulutku sedikit terlambat. Walhasil aku hanya menjawab “iya”, tidak dengan “silakan”.
Dia duduk disampingku lalu mengeluarkan Iphonenya. Saat memerhatikannya, tentu dengan cara mencuri-curi pandang, aku melihat ekspresi wajahnya yang serius saat berselancar di linimasa media sosialnya atau kemunculan senyum yang manis ketika ia membalas suatu pesan. Namun, tetap saja keheningan selama setengah jam terjadi di antara kami.
Hujan malah semakin deras. Kurang lebih setelah setengah jam, perempuan itu membuka ransel bagian depannya untuk mengambil sesuatu. Ia mengeluarkan sebungkus gula kacang. Ia kemudian menawarkan cemilan itu kepadaku.
“Mas, mau?”
Gula kacangnya seperti meretakkan sekat kaca setebal 20mm di antara kami. Keheningan selama tiga puluh menit pecah. Kami pun berkenalan. Aku menawarkan jabat tangan, tapi ia tolak dengan alasan mengantisipasi penyebaran virus corona.
“Namaku Eva” dan sekejap kemudian dia menyahutkan nama lengkapnya. “Eva Wengert Bratarini.”
Aku tidak bisa menyembunyikan muka kagetku setelah mendengar namanya. Dia menangkap ekspresiku itu, dan tanpa aku perlu bertanya dia pun menjelaskan.
“Masnya ngerasa aneh ya dengernya? Sudah bisa ketebak. Ayahku orang Jerman, dia yang memberikan nama aneh ini.”
Aku sangat tidak enak mendengar perkataannya barusan. Aku pun memberi sangkalan namanya tidak aneh, malahan bagus. Dengan mengada-ngada aku juga menjelaskan bahwa terdapat saudara jauhku yang namanya ada Bratarini nya.
“Kalo nama masnya siapa?” Dia bertanya balik.
“Edi Purwaka. Lokalan mbak.” Dan sifat merendahkan diriku, yang kata seorang teman jurusan sejarah merupakan sifat bawaan orang-orang yang dijajah ini, kumat.
“Ah jangan merendah begitu mas, semua nama dari belahan dunia manapun itu sama. Aku malah tertarik dengan nama lokal seperti nama masnya.”
Aku hanya bisa tertawa kecil, lalu teringat perkataan teman yang sejarah itu bahwa aku kalau bisa jauh-jauhi kebiasaan merendahkan diri ini. Dua pria yang berada di samping kami beranjak pergi, nekat lari ke parkiran dengan hujan-hujan.
“Mas, bawa minum?” setelah menanyakan itu dia mengucir rambutnya.
Gula kacang tadi membuat tenggorokannya seret. Aku memberikan satu botol air mineralku padanya. Ternyata mengapa aku membeli air mineral sejumlah dua buah ini adalah suaratan takdir, pikirku berlebihan. Setelah dia meneguk air minumku, aku kembali menyambung obrolan tentang nama tadi.
“Menurutku nama lokal seperti namaku ini kurang kekinian dan sebaiknya ditiadakan saja. Lebih lagi gampang kena ledek kalo lagi kumpul. Ditulis di gelas kopi juga terkesan gak pantas. Dipanggil di tempat umum malah cuman bikin minder.”
“Tapi mas, tetap menurutku sama saja lho. Terlepas dari alasan tadi, nama lokal atau serapan sama-sama memiliki sebuah arti,” Dia melanjutkan,“bukankah nama adalah sama dengan doa atau pengharapan ‘kan mas? Jadi mengapa harus membuatnya menjadi sebuah gengsi? Dan jika tadi masnya bilang sudah harusnya ditiadakan, bukankah malah nama yang sudah jarang ditemui pada anak zaman sekarang lebih baik jika dilestarikan?”
Aku membeku dan bingung bagaimana menjawab pertanyaan yang diajukannya.
“Sebenarnya gak enak juga punya nama yang bagus tapi rumit dalam susunan hurufnya. Teman saya yang mengalami salah penulisan nama di ijazah pendidikannya, berakhir gagal kerja di luar negeri karena saat registrasi dianggap memalsukan data diri. Penyebabnya adalah susunan huruf pada nama di ijazah SD, SMP, dan SMA ternyata berbeda dengan apa yang ada di KTP dan Paspor. Oh ya, kalau masnya lihat berita malah ada rencana UU untuk mengatur tentang nama. Menurutku itu aneh karena seakan pemerintah juga berhak mengatur sebuah harapan dari orang tua demi administrasi negara.”
Aku semakin bingung dan sepertinya lebih baik kualihkan saja topik pembicaraan ini. Aku hanya mengangguk-angguk, menyimaknya berbicara. Lancarnya dia mengemukakan pendapatnya membuat wajah itu semakin manis saja. Keheningan kembali hadir di antara kami. Aku berpikir mungkin inilah momen yang tepat untuk membuat dia tertawa dengan sebuah pertanyaan: Apakah timun laut bisa dijadikan acar atau tidak? Namun dia duluan yang mengambil kesempatan itu. Selain pertanyaannya juga logis dan tidak garing.
“Masnya suka baca?”
“Tidak begitu.” Kutambahkan sendiri dalam batin aku lebih suka membeli buku dan mengumpulkannya. Aku kemudian bertanya genre apa yang dia suka.
“Saya suka baca tentang pendidikan.” Dan dari situlah aku mengetahui bahwa profesinya sekarang ini adalah guru. Ketika dia menyebutkan nama sekolah tempatnya mengajar, aku terkejut bahwa sekolah itu adalah sekolah “unggulan” di daerahku. Meskipun swasta dan biaya masuknya luar biasa mahal, orang tua-orang tua di daerahku akan mengupayakan agar anaknya dapat bersekolah di sana. Jawaban yang biasanya aku dapat dari orang tua yang kutanyai, supaya anaknya besok gede sukses. Tapi menurutku kesuksesan lulusan sekolah itu tidak terletak dari hasil apa yang dipelajari sang anak saat bersekolah, melainkan relasi yang terjadi di sana. Maklum banyak anak-anak orang penting dan tentu saja tajir yang bersekolah di sekolah itu. Obrolan kami terus mengalir dan cerita Eva saat di sekolah adalah hal yang paling banyak kudengar. Aku tidak menyela saat dia bicara, karena sepertinya ia ingin didengar.
“Aku sedikit kaget saat menjadi guru di sini mas. Ehm, tapi baiknya aku ceritakan semua ini dari awal. Sebelum ke sekolah tersebut, aku mengajar di Jerman, di negaranya ayahku. Aku mengajar sejak lulus dari universitas keguruan di sana. Setelah hampir setahun mengajar, aku pikir, aku perlu tantangan dalam mengajar. Sampai suatu ketika akun Linkedinku dihubungi oleh pihak sekolahan. Tawaran mengajar di Indonesia menarik bagiku. Indonesia bukan tempat asing bagiku karena dari SD-SMP aku bersekolah di sini dan karena itu aku mampu berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia.
Aku lalu mencari latar belakang sekolah yang menawariku, ternyata termasuk sekolah yang favorit. Setelah berdiskusi dengan ayah, dia mengizinkanku dan mengontak keluarga almarhum ibuku membantuku ketika mengajar di Indonesia.”
“Aku mulai mengajar di bulan Desember tahun lalu. Sekolah memberi tugas untuk mengajar matematika untuk kelas dua SD. Aku senang mendengarnya karena sesuai juga dengan latar belakang kuliahku. Hari-hari berjalan dengan lancar. Murid-murid menyukaiku terlebih ketika aku kadang-kadang mengeluarkan bahasa Jermanku. Meski begitu ada juga murid yang kurang ajar ketika berinteraksi denganku. Masnya pahamlah bagaimana anak-anak zaman sekarang itu bagaimana. Jika seperti itu aku lantas menegurnya, dan cukup teguran saja tanpa perlu menggunakan fisik. Sungguh anak kecil itu hanya perlu arahan saja dan mereka akan tersadar dengan sendirinya.”
“Sampai ketika aku sedang mengurusi persiapan pendaftaran murid baru, seorang guru yang juga sekaligus seorang wali kelas datang menemuiku. Ruang tempatku bertugas saat itu sedang sepi. Dia mengajakku berbicara. Basa-basinya pendek dan lekas mengajakku pada persoalan inti. Ia menyinggung kenapa nilai matematika kelas dua kebanyakan hanya sedikit lebih dari nilai KKM. Sebelum menjawab, ia menyambung perkataanya bahwa kejadian ini hanya terjadi di kelas-kelas yang aku ampu. Aku membatin apakah ini sebuah masalah? Tapi guru itu tetap mempermasalahkan. Ia beralasan kalau bisa nilai murid-murid harus tinggi, dan kalau bisa mendekati sempurna ketika dituliskan di rapot. Ia beranggapan bahwa ketika orang tua yang mengeceknya akan menganggap sekolah berhasil mendidik anaknya.”
“Perkataannya itu membuatku tidak nyaman. Tapi aku paham, meladeninya hanya membuat pekerjaanku sekarang terbengkalai. Aku meminta maaf dan akan mengupayakan akan memperbaikinya di semester depan. Guru tersebut mengangguk lalu kemudian meninggalkanku.”
Muka Eva tidak bisa menahan rasa jengkelnya. Aku terus menyimaknya dan sedari tadi pandanganku lurus ke arah matanya. Mata yang sedari bercerita terus menatap ke depan, ke arah Jalan Kaliurang yang remang dan basah. Seekor kalong terbang cepat melintas di atas kepala kami.
“Dan aku bertemu lagi dengan akhir semester mas, dan guru itu mendatangiku lagi. Kali ini ia mengajak dua orang guru lain. Yang satu terlihat lebih tua, yang satu sepertinya seumuran. Ia kembali dengan percakapan yang sama. Guru yang lebih tua menunjukkan pula screenshotan chat dari wali murid siswa yang tidak puas dengan nilai anaknya. Mereka mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Tapi mas, hal yang lebih aku tidak suka adalah kesan suara mereka yang seolah menekanku bersamaan.”
“Aku tidak dapat menahan diri lagi mas. Aku berusaha membela diriku dan menjelaskan apa-apa yang menurutku menyebabkan hal seperti ini terjadi. Beberapa materi, semutakhir apa pun metode pembelajarannya, tetap perlu memerlukan waktu untuk seorang siswa dapat memahami. Dan ingat, yang terpenting bahwa bagaimana proses pemahaman antar siswa satu dengan yang lain berbeda. Prinsip keguruanku yang selama ini kupegang adalah bagaimana seorang siswa itu menguasai materi yang diajarkan alih-alih semata mampu mengerjakan soal dan mendapat nilai yang tinggi. Dan itu malah mendapat tanggapan lain dari mereka. Tanggapan yang menurutku sendiri tidak logis, juga membuatku kecewa.”
Sampai di situ, ada jeda sebentar. Air mata Eva keluar meski ia sendiri masih menahannya agar tidak sampai menangis di depanku. Aku pun berkata padanya untuk tarik nafas dahulu. Ia menarik napas dan mengeluarkannya. Aku ambil tisu di tas kecilku lalu kutawarkan padanya.
“Memang tanggapan apa yang mereka ucapkan padamu mbak?” tanyaku setelah kupikir ia sudah bisa melanjutkan ceritanya.
“Bahwa jangan terlalu idealis jadi guru.” Ia kemudian menirukan perkataan temannya ketika mengatainya “kita di sini dituntut seperti kasir dan murid-murid itu barang yang musti segera diluluskan. Dan sebaiknya kita mengajar dengan cepat. Paham tidaknya materi itu urusan belakangan dan itu dapat ditutupi dengan nilai yang tinggi.”
Dan sekarang dia benar-benar menangis. Aku berpikir dia memang guru yang tulus mengajar. Mungkin juga hidupnya selama ini jauh dari kesusahan. Dapat kubayangkan orang sepertinya dengan harapan yang barangkali sangat indah di pikirannya, dibenturkan dengan kenyataan yang selama ini tidak pernah ada dalam rencananya.
“Mas kalau boleh jujur, aku lebih suka dengan murid yang ketika menyelesaikan soal perkalian 2 x 5 dengan menuliskan 2+2+2+2+2 di depan kelas dari pada murid yang langsung menuliskan angka 10 hasil dari hafalan.” Ia mengatakan itu dengan nada yang sesenggukkan.
“Maaf mas, aku menangis di depanmu dengan hal yang mungkin kamu sendiri tidak mengerti.”
“Aku mengerti kok mbak.”
Bajingan, kenapa momen seperti ini aku musti berbohong, batinku. Seharusnya aku diam saja sambil menunjukkan perhatianku dengan terus memerhatikannya.
****
Aku akhirnya tiba di kos temanku. Perjumpaanku Eva sudah berakhir tiga puluh menit yang lalu. Saat hujan hanya meninggalkan gerimis. Sebenarnya ia ingin mengajakku ke kafe dekat rumah saudaranya untuk melanjutkan cerita. Namun aku tolak karena Aziz terus menyepamku sebanyak sembilan kali dengan kalimat yang sama: Jadi datang nggak su? Syahdan, cerita perjumpaanku dengan Eva kuceritakan pada dua temanku saat kutiba di kos mereka
“Kamu minta nomer WAnya tidak?,” Tanya Mas Widada. Dan aku tersadar betapa bodohnya aku tidak melakukan hal tersebut .
“Wah nggak mas.”
“Goblok, Pur goblok,” saut Aziz sambil bermain laptop. Ternyata dia juga menyimak percakapan kami.
Mas Widada berjalan ke lemari, mengambil sebuah buku yang berjudul “Seni Mencintai” karya Erich Fromm dan menyerahkannya padaku. Namun baru kubuka lima halaman, kutemukan ada sepasang foto di situ. Aku bertanya foto siapa ini? Kemudian Mas Widada terburu-buru menarik buku itu kembali.
“Tolol!,” Aziz kembali mengumpat dengan keras ke arah Mas Widada. Aku dan Aziz tertawa. Selang tiga menit, kuutarakan tujuanku datang ke tempat mereka untuk meminjam uang demi membayar uang kuliahku.
“Tiap akhir semester kok dateng cuman buat minjem uang buat bayar kuliah Pur, Pur.” Jawab Aziz dengan logat Betawinya. Aku membalasnya dengan senyum meringis dan membayangkan saat itu juga di tanganku ada seekor timun laut sepanjang empat puluh senti, yang kemudian kujejalkan ke dalam mulutnya
*****
Editor: Moch Aldy MA
