Konsultan kriminal.

Setan Perawan

Adia Puja

4 min read

Ibu bilang Bapak hilang diambil setan. Para tetangga bilang, Bapak kawin lagi. Bagiku, diambil setan jauh lebih menakutkan dibandingkan kawin lagi. Dan hal yang menakutkan, cenderung membangkitkan rasa penasaran. Kuutarakan rasa penasaran itu kepada Ibu. Setan jenis apa yang mengambil Bapak?

“Setan perawan!” jawab Ibu ketus sambil berlalu.

Semenjak Bapak menghilang, Ibu tidak pernah tidak ketus. Juga selalu uring-uringan. Persoalan kecil selalu menjadi besar. Seperti setitik bara yang mendarat di atas tumpukan jerami.

Ibu bisa mengamuk hebat hanya karena aku menyisakan beberapa butir nasi di piring, atau ketika aku bangun kesiangan, atau ketika bermain hingga lewat Magrib, atau ketika aku berkelahi dengan anak kampung sebelah, atau jika kedapatan bolos mengaji di langgar. Amarahnya bisa meledak. Selain menyambiti betisku dengan sapu lidi, segala makian meluncur dari mulutnya. Aku dikatai tidak tahu diuntung, anak durhaka, atau anak sial. Dan makian pamungkasnya adalah ketika aku dianggap persis seperti Bapak.

“Anak sial! Tidak tahu diuntung! Persis seperti bapakmu!” Nada bicaranya selalu ditekankan pada bagian ‘bapakmu’, seolah kata itu adalah puncak dari segala umpatan.

Meski begitu, aku tidak pernah membantah perkataan Ibu. Selain percuma, aku juga takut durhaka. Kata guru agama di sekolah, mengutip sabda Baginda Rasul: Ibu, Ibu, Ibu, lalu Bapak. Artinya, kita harus berbakti kepada Ibu lebih banyak dibandingkan kepada Bapak. Selain itu, masih kata guru agamaku, surga berada di bawah telapak kaki Ibu. Meskipun aku masih suka bandel, aku tetap ingin masuk surga. Sekalipun Ibu sering menginjak tahi kotok.

Kembali kepada urusan setan yang mengambil Bapak. Setan perawan. Jenis tersebut asing bagiku. Aku tahu pocong, kuntilanak, hantu banyu, tuyul, wewe gombel, tetapi tidak dengan setan perawan. Sebab rasa penasaran yang tidak kunjung habis, aku memberanikan diri bertanya kepada Ibu ketika suasana hatinya sedang cukup baik. Seperti apa setan perawan itu?

“Rambutnya panjang seperti kuntilanak, kulitnya putih seperti hantu banyu, susunya besar seperti wewe gombel, dan dia suka mencuri seperti tuyul. Makanya, dia mencuri Bapak dari kita,” Ibu menjelaskan tak acuh, seolah tidak serius.

Penjelasan Ibu tidak menjawab rasa penasaranku. Sebaliknya. Aku semakin dibuat bingung. Bagaimana bisa ada setan yang berwujud gabungan dari beberapa setan? Betapa menyeramkannya setan perawan. Aku selalu bergidik ngeri ketika membayangkan wujud setan perawan.

Meskipun menyeramkan untuk dibayangkan, aku selalu percaya bahwa Bapak memang diambil oleh setan perawan. Untuk tujuan yang tidak kupahami. Biasanya, setan akan mengambil anak-anak. Terutama yang masih keluyuran hingga lepas Magrib. Tapi mengambil bapak-bapak? Buat apa? Mungkin, setan perawan tertarik kepada paras Bapak. Kata orang-orang, bapakku cukup gagah dan ganteng.

Kepada para tetangga dan kawan-kawan pun, aku selalu bercerita bahwa Bapak diambil oleh setan perawan, tanpa pernah akan dikembalikan. Terkadang aku menambah bumbu-bumbu cerita agar lebih seru, seperti: Bapak dijadikan budak di kerajaan setan, atau darah Bapak diisap hingga habis demi keabadian si setan, atau diangkat jadi suami si setan.

“Bukan setan perawan! Tapi perawan yang kelakuannya seperti setan!”

Tetangga dan kawan-kawanku tidak pernah ada yang percaya dengan ceritaku. Mereka teguh dengan pendapatnya, bahwa katanya, bapakku kawin lagi. Bukan diambil setan. Masih menurut mereka, ibu hanya mengarang cerita seperti itu agar aku tidak perlu menanggung malu akibat memiliki Bapak tukang main serong. Di sisi lain, aku juga bergeming terhadap misteri menghilangnya Bapak. Bagiku, Bapak diambil setan perawan. Titik.

Lagi pula, Bapak adalah seorang penyayang. Dia sayang kepadaku, juga ibu. Enam tahun aku hidup bersamanya, sebelum dia menghilang pada suatu pagi. Meski lamat-lamat, aku ingat sering diajak bermain ke pasar malam oleh Bapak. Bapak juga beberapa kali membelikanku mainan seperti kapal otok-otok atau biji muncang untuk diadu. Di musim tertentu, Bapak sering membawaku ke lapang untuk berburu jangkrik. Ia juga kerap membawaku turut serta menelusuri tegalan untuk ngurek belut di malam hari. Seorang penyayang seperti Bapak, tidak mungkin tega meninggalkan keluarganya demi perempuan lain, bukan?

Maka, raibnya Bapak membawa kesedihan yang mendalam bagiku. Bukan hanya karena kehilangan momen bersama, tetapi aku mulai melupakan sosoknya. Sudah empat tahun sejak Bapak menghilang, ingatanku tentang Bapak makin kabur seiring waktu. Aku tidak memiliki foto Bapak. Begitu juga Ibu. Kami tidak punya foto keluarga yang dipajang di tembok. Tidak selembar pun. Karenanya, wajah bapak mulai memudar dari ingatanku. Aku hanya ingat bapak memiliki kumis tipis, kulitnya gelap akibat bekerja di sawah, ototnya liat, dan rambutnya cukup lebat. Hanya sebatas itu. Selebihnya tidak ada lagi yang kuingat dari sosok Bapak. Termasuk suaranya. Aku masih terlalu kecil ketika Bapak menghilang. Ingatanku belum cukup kuat.

Hal lainnya yang samar-samar tersimpan dalam ingatanku adalah pagi ketika Bapak menghilang. Aku terbangun oleh tangisan Ibu. Masih dengan sisa kantuk, aku mengintip ke kamar Ibu (juga kamar Bapak). Di dalam sana, di atas ranjang, Ibu meraung seperti orang gila. Ia terus menangis ketika kuhampiri.

Kebingungan menghadapi Ibu, aku mencoba mencari Bapak. Mungkin Bapak bisa menenangkan Ibu, begitu pikirku saat itu. Atau setidaknya Bapak bisa memberi jawaban atas perilaku ganjil Ibu. Namun, sejak pagi itu, Bapak tidak pernah bisa kutemukan.

Setelah tangis Ibu agak mereda, kutanyakan kepadanya terkait keberadaan Bapak. Jawaban “setan perawan” itulah yang muncul.

Sejak hari itu, Ibu tidak lagi sama. Sepanjang siang, ia bekerja di kebun atau sawah milik warga. Membantu menyiangi kebun dan merawat sawah. Ketika musim tandur tiba, Ibu turut menyemai bibit padi di beberapa sawah. Jika musim panen tiba, Ibu membantu memanen gabah. Ibu melakukan apa saja untuk menjaga dapur tetap berasap dan aku tetap bersekolah. Biasanya, pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan oleh Bapak, dan Ibu hanya membantu. Sekarang, beban itu berpindah ke bahu Ibu. Hal itu pula yang membuatku enggan membantah Ibu jika ia sedang marah. Aku paham, Ibu terlalu lelah untuk bermanis-manis dengan kenakalanku.

Seiring hari, Ibu tampak semakin renta. Lebih renta dari usia seharusnya. Tubuhnya kurus, kulitnya legam akibat terlalu akrab dengan sinar matahari. Kerutan di dahi dan ujung matanya kian dalam. Bibirnya tidak pernah lagi melengkungkan senyum. Semenjak pagi hilangnya bapak, senyum Ibu pun turut raib.

Lebaran demi lebaran berlalu. Bapak masih belum juga pulang. Keriaan di hari raya menjadi semu. Hambar. Rasa iri semakin tebal seiring tahun, terhadap teman-teman yang merayakan lebaran bersama keluarga utuh. Sementara itu, aku tumbuh semakin besar, seiring dengan pertanyaan: apakah benar bapak diambil setan perawan?

Seiring bertumbuh menjadi remaja, aku semakin meragukan pernyataan Ibu tentang setan perawan. Agaknya, para tetangga dan teman-temanlah yang benar. Bapak memang kawin lagi. Kawin dengan siapa dan di mana keberadaannya saat ini, itulah yang masih menjadi misteri. Yang jelas, aku mulai sangsi tentang keberadaan setan perawan. Tidak ada setan perawan.

Meski begitu, aku tidak pernah mengutarakan keraguan tersebut kepada Ibu. Bahkan sekadar bertanya tentang Bapak pun tidak pernah kulakukan lagi. Ibu semakin kurus dan mudah terserang penyakit. Kami pun jarang mengobrol. Hanya bertegur sekenanya. Jika tidak ada hal yang benar-benar penting untuk dibicarakan, kami tidak akan bertukar sapa. Jarak di antara kami semakin jauh. Bagiku, Ibu seperti orang lain yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama. Bukan seseorang yang melahirkanku. Hidup Ibu hanya untuk bekerja, menghidupi dapur, sedangkan hari-hariku hanya diisi dengan sekolah dan bermain.

Semua keraguanku terjawab. Menjelang azan Subuh di pertengahan bulan puasa.

Ketika sedang tidur selepas sahur, aku mendengar keributan dari arah depan rumah. Suara Ibu. Keributan yang mendahului munculnya matahari itu membuatku sontak terjaga. Aku tidak langsung bangkit dan menajamkan pendengaran. Ia menjerit kesetanan sembari memuntahkan segala makian. Kepada siapa? Aku tidak punya gambaran sosok malang yang kena damprat Ibu di pagi buta. Yang jelas, Ibu sedang berhadapan dengan seseorang. Atau lebih. Tidak mungkin ia berteriak tanpa sebab. Ibu memang berubah, tetapi ia tidak gila.

“Pergi, kau, bangsat! Aku tidak peduli meskipun bajingan itu telah mampus! Bawa juga anak kalian, dan tidak perlu muncul lagi di rumah ini!” Ibu menutup luapan amarahnya dengan suara bergetar.

Sekian menit berselang. Terpanggil rasa penasaran, aku bangkit dari terpaku dan menuju pintu depan. Di pintu depan yang terbuka, Ibu sedang bersandar di kosen. Memijit pelipisnya sambil memejamkan mata. Napasnya tersengal akibat amarah yang masih tersisa. Aku melongok ke arah luar. Gulita masih mendaulat. Sosok yang dimaki Ibu pun tidak tampak. Aku hanya sempat melihat sekelebatan punggung seseorang yang menghilang di belokan. Meski sepintas lalu, dari postur dan rambutnya yang panjang, aku tahu sosok tersebut seorang perempuan.

Aku bertanya kepada Ibu, siapa gerangan perempuan yang baru saja dimakinya?

“Setan perawan. Membawa anaknya,” jawab Ibu sambil berlalu ke dapur untuk membereskan alat makan bekas santap sahur.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Adia Puja
Adia Puja Konsultan kriminal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email