Hari Ini Kita Hanyalah Tahanan dan Puisi Lainnya

Rifqi Septian Dewantara

1 min read

Hari Ini Kita Hanyalah Tahanan 

Hari ini kita hanyalah tahanan, terjerat pasal-pasal kelengahan, kurang paham ketidaktahuan, mempertanyakan aturan di luar kebiasaan

Kepentingan pribadi dikedepankan, lebih jumawa merasa tak terjadi apa-apa. Kematian demi kematian hanyalah angka-angka yang kemudian kembali diam

Hari ini kita hanyalah tahanan; serangan yang sebagian dianggap candaan, memang nyatanya kelihatan. Seluruh kepanikan yang kau elak, menolak mayat yang siap dikuburkan

Ketakutan kian tertular, ketakutan pula kau gugurkan, memaksa sepakat dengan jalannya; pada logika yang tak searah

Hari ini kita hanyalah tahanan; angka-angka seperti jalan menanjak, menikung, jurang kebingungan

Tiap hari dibeberkan; anjlok. Diberitakan—merah—kami pun turun ke jalan—darah. Keresahan turut berduka

Yang tersisa tinggallah tumpukan kekesalan, merembet tak terpenuhi, kebutuhan tertahan, phk bukan pilihan, solusi tak ditawarkan

Kehidupan atau mati; kebutuhan tak mau berhenti

Hari ini kita hanyalah tahanan, tak tahu sampai kapan bisa bertahan.

(2025)

Citra 

Identitas bangkai, bingkai formalitas. Ditaburnya heroin ke raut mayat.

Duduk enggan bernapas, berdiri tak pernah tua.

Pengabaian repetitif dari sejarah infrastruktur telah dibangun.

Dibentuk sedemikian manusia—menghasilkan keserakahan, keangkuhan, dan kerobohan puing-puing pikiran.

(2025)

Berahi Penguasa 

Negara membuang identitasku di kloset sekolah.

Namun, apakah buku-buku pelajaran terbuat dari berahi kekuasaan?

Rupanya benih-benih cinta telah tumbuh dari seorang remaja yang telat mengetahui cara bersengkongkolan dengan orang dalam.

Tetapi mengapa nikmatnya kian semu? Ia pun tidak mengerti, demikian pula aku.

(2025)

Kinred 

Mati dan hidup lagi. mati dan hidup lagi. mati dan hidup lagi. mati dan hidup lagi. mati dan hidup lagi. mati dan hidup lagi. mati dan hidup lagi. mati dan hidup lagi. mati dan hidup lagi. mati dan hidup lagi. mati dan hidup lagi. mati dan hidup lagi.

Dalam penjara yang sama. dalam penjara yang sama. dalam penjara yang sama. dalam penjara yang sama. dalam penjara yang sama. dalam penjara yang sama. dalam penjara yang sama. dalam penjara yang sama. dalam penjara yang sama.

Hidup memang tertulis pada nama-nama kematian.

(2025)

Fase 

Masa lalu—yang trauma

[luka]

[mara]

[duka]

Masa kini—yang resah

[langkah]

[rengkah]

[kalah]

Masa depan—yang khawatir

[lahir]

[getir]

[bundir]

dan aku berdiri

mencoba tak runtuh

dari gempa dan ledakan

p.i.k.i.r.a.n        (sendiri)

(2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rifqi Septian Dewantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email