Tuhan Sedang Menjadi Kata Kerja
barangkali
Tuhan tak turun malam itu
ketika aku tersungkur di lantai
dan langit terasa jauh
mungkin Ia tak menjawab
karena Ia
sedang menuntun tangan tetanggaku
membawakan semangkuk bubur untukku
yang tak bisa bangkit dari ranjang
barangkali Tuhan
tak berseru dari langit
karena Ia
berbisik dalam sabar ibuku
yang tak pernah menyalahkan siapa-siapa
—bahkan saat aku marah pada segalanya
dan mungkin
Ia tak datang
karena Ia
sedang menjadi kata kerja
memaafkan
menyeka
memeluk
bertahan
bukan nama
yang aku hafal
tapi tak aku hidupi
dan barangkali
bukan hanya aku.
–
Tuhan, Berkahi Aku Segenap Nafsu
Tuhan
jika Kau masih dengar
jangan hanya berkahi lututku saat sujud
berkahi pula langkahku
saat mengejar yang kurindukan
dengan dada penuh
dan mulut basah harap
berkahi mataku
saat menatap dengan hasrat
bukan hanya saat menangis
berkahi tanganku
yang menggenggam
yang ingin meraba hidup
tak hanya melalui kitab
tapi kulit
jika Kau yang menciptakan angin
biarkan aku mencintai
gemuruhnya dalam tubuh orang lain
jika Kau yang menumbuhkan api
jangan kutuk bara di dalam dadaku—
yang menyebut nama bukan-Mu
dengan cara yang jujur
aku bukan nabi
dan tak ingin jadi malaikat
biarkan aku manusia penuh
dengan degup dan dahaga
dengan peluh dan pendar
aku tak datang
untuk memalsukan kesucian
aku datang membawa seluruhku—
yang lapar
yang haus
yang mencinta
yang menyentuh
berkahi itu
berkahi aku
segenap nafsu
jika benar Kau ciptakan aku
bukan setengah.
–
Di Balik Tabir
aku mencintaimu seperti orang salah niat sebelum takbir
tapi terlalu banyak yang diam dalam agamaku
dan tak satu pun berbicara tentangmu
kitab-kitab fikih penuh tafsir
tentang batal, tentang najis, tentang aurat,
tapi tak ada bab
yang membolehkan seseorang menyebut namamu
dalam batin
selagi imam membaca al-Fatihah
aku duduk di barisan perempuan
lantai masih dingin dari sisa air pel
cahayanya kuning seperti rasa malu
yang tak tahu kapan harus berhenti
di seberang tabir suaramu mengaji—
kau tak tahu
tiap huruf yang kau panjangkan
merayap ke dalam tulang selangkaku
seperti doa yang tak punya permisi
kalau mencintai diam-diam adalah bid’ah
maka aku adalah penyimpangan yang sujud lima waktu
tapi bahkan yang menyimpang pun tahu
kapan harus mencuci tangan
sebelum menyentuh kata “tuhan”
tak ada hukum yang melindungi orang yang
mencintai lewat detak dalam dada
tak ada pasal yang membela
rasa yang tak pernah dilafazkan
tapi mungkin—di antara jeda rukuk dan sujud—
kau mendengar napas
yang belum cukup disebut sebagai saksi
cinta diam-diam tidak butuh ijab kabul
ia hanya butuh tubuh yang tetap tiarap
bahkan ketika dipanggil pulang
–
Pintu
malam itu
aku membuka dada
dalam bayang pintu
yang tak terbuka sepenuhnya
Tuhan
barangkali
datang
terlalu menyerupai
sesuatu
yang pernah kucintai
dalam bayang kusut
lampu minyak
retak
pada kerah bajunya
yang tak kuyakini
pernah kulupakan
meski telah kupuji-pujikan
apakah ini doa
atau
dosa
jika tubuhku
lebih tahu bentuknya
daripada bentuk Mazmur?
aku
tidak
menyentuhnya
(***)
dan barangkali
tak akan pernah
…tapi ada sesuatu
yang menetes
dari dalam diriku—
seperti peluh di altar
yang diamnya
tak sanggup
ditampung liturgi
setiap kali ia berkata:
“sampai jumpa”
aku mendengar:
“engkau tak akan
berani mengatakan hal
yang sebaliknya”
dan memang
tak ada yang benar-benar hilang
selain
keberanianku sendiri
untuk berkata:
tinggallah
atau
jadilah firman.
–
Tuhan Tak Pernah Salah…
Tuhan tak pernah salah.
tapi aku—
sering tak mengerti bahasa-Nya
—apalagi saat disampaikan
lewat kehilangan
*****
Editor: Moch Aldy MA
