Setiap kali sebuah kebijakan yang menindas muncul, kita seolah punya refleks yang seragam. Kita menunggu tokoh yang berani, orator yang memukau, pemimpin yang sanggup berdiri di depan dan meneriakkan apa yang kita rasakan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang menunggu figur penyelamat yang diyakini akan datang membereskan semuanya. Dan ironisnya, justru di titik itulah gerakan kita paling telanjang dan paling gampang dihabisi.
Lebih dari seabad lalu, Max Weber sudah menjelaskan akar persoalannya. Ia menyebut ada satu jenis otoritas yang paling memabukkan sekaligus paling rapuh yaitu otoritas karismatik, kekuasaan yang bersandar pada daya pikat pribadi seseorang. Kerapuhannya terletak pada satu hal sederhana, ia melekat pada orangnya, bukan pada gagasan atau strukturnya.
Maka begitu sang tokoh lenyap ditangkap, dibungkam, atau kehilangan pamor, otoritas itu runtuh bersamanya. Weber bilang, satu-satunya cara agar daya pikat itu bertahan adalah dengan membekukannya menjadi aturan, kebiasaan, dan lembaga yang bisa berjalan tanpa dirinya. Gerakan yang gagal melembagakan diri, pada dasarnya sedang menandatangani surat kematiannya sendiri sejak hari pertama gerakan tersebut dibangun.
Baca juga:
Dari sini pola kehancurannya bisa dibaca berulang, nyaris seperti naskah yang sama dimainkan ulang. Sebuah isu mencuat, orang bertanya kenapa kebijakan sekejam ini bisa lahir, dan kemarahan kolektif itu menjelma menjadi gerakan yang organik. Tapi tak lama kemudian massa mulai mencari “raja” dan “ratu” sosok sentral tempat menaruh harapan.
Di sinilah pergeseran paling berbahaya terjad, energi yang semula tertuju pada isu perlahan berubah menjadi kesetiaan pada individu. Dan ketika loyalitas sudah berpindah dari gagasan ke orang, gerakan itu sudah kalah bahkan sebelum benar-benar dikalahkan.
Penguasa sangat memahaminya pola ini jauh lebih baik daripada kita sadari. Untuk apa membubarkan ribuan orang kalau cukup melumpuhkan satu-dua nama? Kadang tokohnya cukup dirangku diberi jabatan, kursi negosiasi, atau sekadar pengakuan, sampai ia merasa “menang” padahal sedang dijinakkan. Kadang cukup dipenggal, ditangkap atau dibungkam kalau memang tidak bisa dengan cara halus, dan seluruh barisan di belakangnya ikut kehilangan taji. Gerakan yang bertumpu pada figur selalu menyediakan titik lemah yang sama, sebuah kepala tunggal yang murah untuk dihabisi.
Lalu apa alternatifnya? Ella Baker, salah satu pengorganisir paling brilian dalam gerakan hak sipil Amerika, sudah menjawabnya sejak dulu. Ia secara tegas menolak model gerakan yang berpusat pada satu mimbar dan satu suara, dan memilih apa yang ia sebut kepemimpinan yang berpusat pada kelompok. Tugas seorang pengorganisir, katanya, bukan menjadi pahlawan, melainkan menumbuhkan kapasitas ribuan orang biasa untuk memimpin diri mereka sendiri. Kalimatnya menjadi legenda “orang-orang yang kuat tidak membutuhkan pemimpin yang kuat”.
Dan sesungguhnya, gagasan ini bukan sesuatu yang asing bagi kita. Islam bahkan menekankannya jauh lebih tegas. Rasulullah bersabda, “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi” setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (HR. Bukhari dan Muslim).
Perhatikan, kepemimpinan di sini tidak diberikan kepada satu orang terpilih, melainkan dibebankan kepada setiap orang, minimal atas dirinya sendiri. Tidak ada yang bebas dari tanggung jawab, dan karena itu tidak ada yang boleh mengoper tanggung jawabnya kepada sosok penyelamat.
Al-Qur’an bahkan menutup pintu bagi mentalitas menunggu itu, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Perubahan dimulai dari kesadaran setiap kepala, bukan dari menunggu satu kepala yang jadi penggerak utama.
Meski begitu, ada satu jebakan yang harus kita hindari, dan ini yang paling sering disalahpahami. Menolak ketergantungan pada figur bukan berarti merayakan gerakan tanpa pemimpin sama sekali, lalu pasrah menunggu semuanya berjalan “dengan sendirinya”. Zeynep Tufekci, yang meneliti gerakan-gerakan protes era digital, menemukan bahwa gerakan yang tanpa struktur memang jago mengumpulkan massa dalam sekejap, tapi sering lumpuh begitu tiba saat menentukan langkah berikutnya, bernegosiasi, atau bertahan dalam jangka panjang.
Mereka pandai memobilisasi, tapi lemah mengonversi energi menjadi kemenangan konkret, persis karena tidak punya tulang punggung yang dibangun lewat kerja lambat dan membosankan. Maka rumusan yang paling jujur bukanlah “gerakan tanpa pemimpin”, melainkan gerakan dengan kepemimpinan yang tersebar dan berakar pada isu. Musuh kita bukan kepemimpinan itu sendiri, melainkan kepemimpinan yang dimonopoli satu orang dan tak punya struktur penopang. Kekuatan sejati ada pada luasnya partisipasi dan dalamnya akar, bukan pada tingginya satu mimbar.
Baca juga:
Karena itu, berhentilah menunggu figur penyelamat. Berhentilah mengharap ada komando yang turun dari langit untuk menggerakkan barisan, tugas kita jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih berat yaitu membangun sistem perlawanan itu sendiri. Mengedukasi setiap orang tentang kondisi riil struktur yang menindas mereka. Menumbuhkan pemimpin bukan hanya satu, tapi ratusan sampai ribuan. Melembagakan gerakan agar ia tetap berjalan meski sepuluh figurnya dihabisi hari ini.
Sebab gerakan yang bertumpu pada satu orang bisa dipenggal dalam semalam, tapi gerakan yang bertumpu pada kesadaran bersama, yang setiap anggotanya paham kenapa ia melawan, dan sadar bahwa dirinya sendiri adalah pemimpin yang tidak memiliki kepala tunggal untuk dipenggal oleh penguasa. (*)
Editor: kukuh Basuki
