Sunyi Lebih Membunuh dari Segala yang Merenggut
Sunyi lebih tajam dari bilah apa saja
yang kita punya untuk
membelah malam
yang menyendiri dan bersedih
di balkon dengan nyanyian
yang ditujukan kepada
entah siapa sebenarnya.
Sunyi lebih membunuh dari segala
yang merenggut dan ia sama sekali tidak
memandang usia kita
dan siapa kita
entah tua atau muda
entah yang berpaut pada cinta
ataupun pada agama
ataupun yang tidak berpaut pada apa-apa.
Sunyi adalah pisau-pisau
yang berlumur maut yang merah, katamu.
(2026)
–
Hal-Hal yang Kutemukan di Sebuah Kafe di Sudut Kota Itu
1.
Tak jarang kulihat sebuah rindu
yang tak terbalaskan duduk
sendiri di meja nomor 18. Ia
selalu bercakap
dengan kekasihnya yang
sebenarnya, antara ada dan tiada.
2.
Pada sebuah struk pesanan yang kubaca,
kuketahui bahwa salah seorang pelancong
memesan segelas kesedihan
dengan tambahan extra
gula agar dirasa
air matanya manis.
3.
Dinding kafe itu mengingat
baik nama-nama pengunjung
yang rutin menukar nestapa
ataupun euforia dengan
segelas hangat americano,
atau tak jarang dengan
kopi es susu gula aren.
4.
Seringkali kuamati bahwa setiap
cangkir yang digunakan di kafe ini
selalu bermula dengan
pilu dan berakhir dengan
ceria. Sebab, hampir semua
pengunjung adalah tokoh
dalam ceritanya sendiri yang
tak ingin selamanya
menangisi takdir.
(2026)
–
Percakapan Kala Suatu Fajar
Kala suatu fajar, percakapan
kita seakan tak mau berakhir,
sementara kopi di cangkir
sudah hampir sekarat.
Seakan di antara kalimat-kalimat
kita, matahari tak akan terbit
dan memejamkan mata kita
yang insomnia.
Lalu kita akhirnya benar-benar
tak menyudahi percakapan
dan terus menyaksikan
bulan yang mengantuk
di dalam cangkir kopi.
(2026)
–
Kabar Kehilangan
Hari ini, entah mengapa tak ada
kabar kenaikan harga pangan
maupun peperangan.
Berita hanya mengabarkan
peristiwa kehilangan:
tentangku yang hilang di ingatanmu.
(2026)
–
Agustus
Kulihat kalender di dinding
perlahan kumal, dan jarum-jarum
pada jam itu semakin menua.
Semacam turut dirasakannya
panas luar biasa sepanjang
bulan ini dan rasa suntuk
yang kekal menghitung hari.
Agustus hanya hitungan detik
dan ia bakal meninggalkan
kita dengan remah kemarau
yang berserakan di sawah-sawah,
di sepanjang trotoar, dan di
jam makan siang kita yang berpeluh.
(2026)
*****
Editor: Moch Aldy MA
