Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Jam Pelajaran Pertama dan Puisi Lainnya

Salman Alade

2 min read

Jam Pelajaran Pertama

Pagi masih belajar menyebutkan warna
saat ia berjalan melewati lereng berkabut,
menyusuri jalan setapak yang tidak diajarkan peta.

Di ujung sana, bukan sekolah yang ia tuju,
melainkan ladang di mana ibunya sudah duluan
membelah sunyi dengan cangkul dan gumam.

Setiap embun di ujung daun mengajarinya berhitung.

Satu untuk harapan, satu untuk luka semalam,
dan sisanya adalah hari yang harus dijalani
meski tanpa papan tulis dan buku bergambar.

Ia hafal kapan matahari muncul dari balik tebing,
kapan suara burung berhenti karena traktor lewat,
dan kapan tubuh harus diam mendengarkan
suara tanah yang mulai kering,
suara langit yang menunda hujan.

Sore adalah ganti waktu yang tak ada belnya.

Ia duduk memeluk lutut, memandangi barisan bukit
seperti melihat abjad yang belum selesai dibaca.

Setiap kabut yang turun adalah catatan kaki,
setiap suara angin adalah soal cerita
yang harus ia pecahkan
tanpa guru, tanpa papan nilai.

—Karena di tempat ini,
anak-anak belajar dari apa yang diam,
dan diam tidak pernah membohongi siapa pun.

Mata Pelajaran: Diam & Dedaunan

Ia mendaki lereng yang sunyi, melewati batang-batang tua yang tidak pernah diajarkan dalam diagram. Kabut turun seperti rahasia, menutup setengah jalan dan separuh keyakinan. Di hutan itu, tidak ada bel masuk, tidak ada lonceng pulang—hanya ranting-ranting patah dan daun gugur yang mengingatkan bahwa kehilangan adalah silabus paling awal dari ketabahan. Ia berhenti di batu besar, lalu belajar bahwa diam yang teguh lebih jujur daripada mulut yang selalu tahu.

Seekor burung menjerit dari dahan paling tinggi. Ia tidak tahu artinya, tapi tubuhnya menggigil seperti sedang diberi teguran. Ia menuliskan sesuatu di tanah dengan ujung ranting: bahwa tinggi tidak selalu berarti menang, dan yang tak terlihat bukan berarti tidak ada. Di bawah gerimis yang turun tanpa aba-aba, ia sadar: tidak semua pertanyaan butuh jawaban. Beberapa cukup diikuti, seperti jalur setapak yang terus menanjak, meski tak ada jaminan puncaknya ramah.

Halte Bus

Ia berdiri di antara pagi
dan debu.

Tasnya berat oleh buku
dan pertanyaan
yang tak selalu dijawab
di ruang kelas.

Langit belum biru,
jalanan belum sepenuhnya sadar.

Di halte kecil itu,
ia belajar:
bahwa menunggu
juga bagian dari pelajaran.

Bahwa bus tak selalu datang
tepat waktu—
seperti harapan.

Ia mencatat dalam diam:
bahwa kesabaran
kadang lebih penting
dari hafalan rumus.

Dan ketika bus akhirnya tiba,
ia naik dengan langkah tenang,
membawa catatan yang
tak pernah dinilai
siapa-siapa.

Teras Sekolah yang Kosong

Tak ada suara bel.
Hanya daun kering
yang menghafal angin.

Meja-meja ditumpuk,
seperti mimpi
yang sedang diistirahatkan.

Ia datang sendiri,
membuka buku
yang tak ditugaskan siapa pun.

Dari bangku berdebu
ia belajar satu hal:
rindu bisa jadi pelajaran
paling diam-diam.

Papan tulis kosong
masih menyimpan jejak
kapur terakhir.

Seperti nasihat
yang belum selesai
diucapkan guru.

Di teras itu,
matahari tergelincir
tanpa saksinya.

Tapi ia tahu—
ada cahaya
yang tak perlu ramai
untuk mengajar.

Jalan yang Tidak Pernah Lelah

Di jalan panjang yang ditinggal lampu,
ia duduk di boncengan motor tua
dengan kantuk yang menggigil di kerah jaket.

Ayahnya belum sempat bicara banyak,
tapi jalan telah menyampaikan satu pelajaran:
bagaimana malam tak pernah betul-betul tidur,
hanya berganti bentuk jadi lampu-lampu truk
dan warung kopi yang tetap setia menyeduh sunyi.

Ia menghitung jeda antar kendaraan
seperti memecahkan pola bilangan ganjil.

Kadang, ia menebak arah angin
dari suara plastik yang terseret pelan.

Tak ada guru,
tapi jalan mengajarkan ritme:
kapan harus diam, kapan menoleh,
dan kapan menahan tanya yang ingin melompat dari mulut.

Beberapa kilometer ke depan,
mereka berhenti sebentar di warung remang
untuk menyeruput teh manis dan menghangatkan kaki.

Di sana, anak itu mencatat pelajaran lain:
bahwa tidak semua perjalanan punya tujuan jelas,
tapi semua bisa meninggalkan jejak
kalau kau cukup peka mendengarkan gelap.

Ia tiba di rumah sebelum ayam berkokok,
dengan mata berat dan kepala penuh kabut,
namun hatinya membawa catatan malam:
tentang keberanian kecil menembus sunyi,
tentang cahaya yang bisa datang
dari arah yang tak pernah diajarkan peta.

(Yogyakarta, 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email