Dialah perempuan itu; perempuan muda yang subuh hari tadi tanpa sadar telah menggadai nyawanya di kamar bersalin sebuah rumah sakit. Perempuan muda yang histeris kesakitan ketika dipaksa berbaring oleh sejumlah perawat. Perempuan muda yang bahkan tak tahu-menahu ada manusia lain mendekam selama sembilan bulan penuh di rahimnya yang malang.
Omong-omong, itu bukanlah persalinannya yang pertama. Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, di rumah sakit yang sama, perempuan itu juga pernah menggadai nyawanya demi melahirkan sepasang anak kembar lelaki-perempuan yang bahkan tidak pernah ia lihat seperti apa parasnya. Sepasang anak kembar itu lalu dibawa pergi oleh pasangan suami istri yang sudah berbelas tahun menikah tapi tak kunjung dikaruniai anak. Boleh jadi sepasang kembar lelaki-perempuan itu kini sedang lucu-lucunya, dilimpahi kasih sayang, didandani dengan pakaian-pakaian bagus, difasilitasi sebaik-baiknya untuk bisa menjalani hidup dengan baik pula. Dan bisa jadi, sampai kapan pun keduanya tidak akan pernah diberitahu cerita asal-muasalnya. Diberitahu pun buat apa, toh tak ada gunanya.
Kini, hal serupa pun terulang kembali. Perempuan muda itu masih lemas tak sadarkan diri ketika suster berwajah protagonis menyerahkan bayi perempuan merah berbalut kain bedong putih susu kepada pasangan suami-istri, yang sedari tadi duduk menahan cemas menunggu proses persalinan selesai. Tak ada tangis perpisahan, apalagi adegan kecupan hangat di kening si bayi oleh sang empunya rahim.
Namanya Rosalinda―bukan nama sebenarnya. Orang-orang di sekitar pasar Mardika yang memberinya nama itu. Tak ada yang tahu dari mana perempuan muda itu berasal. Dan tak seorang pun tertarik menelusuri riwayat hidupnya yang berselimut misteri. Rosalinda seolah turun dari langit saat hujan deras mengguyur bumi raja-raja itu, dan tiba-tiba saja dia sudah bebas berkeliaran di sekitar pasar Mardika. Usianya sekitar dua puluh satu, atau dua puluh dua tahun. Kulitnya hitam legam hasil paparan sinar matahari Ambon yang menurut sebagian orang lebih garang dari kota-kota lain di Indonesia. Rambutnya sebatas bahu, ikal bergelombang dan beraroma tengik. Giginya kotor saat tersenyum pada siapa pun yang ditemuinya di jalan. Orang-orang sepakat menyebutnya gila karena perempuan itu kerap berbicara dan tertawa seorang diri. Dia mengunyah apa pun yang ia temukan di dalam tong-tong sampah yang dilewatinya. Terkadang para penjual buah memberinya buah-buahan yang sedikit busuk dibumbui dalih masih layak makan. Dan lagi-lagi, Rosalinda tidak pernah menolak pemberian dari siapapun. Perempuan itu hanya membagi senyum sebagai ucapan terima kasih. Jika ada yang berbaik hati, kadangkala dia akan diberi sebungkus nasi dan air mineral gelasan.
Lalu, bagaimana mungkin perempuan itu bisa hamil? Lelaki biadab mana yang tega menanamkan sperma di rahimnya?
Itu pertanyaan tolol. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia yang berisikan orang-orang yang kelakuannya bahkan lebih rendah dari binatang. Apalagi untuk urusan berahi kebinatangan yang sudah mendarah daging dalam diri manusia. Waras atau pun tidak―terlebih bagi seonggok daging tak berotak bernama penis―peduli setan. Penyaluran berahi terkadang tak mengenal batas kewajaran.
Sembilan bulan lalu, siluet pria bertubuh gempal tiba-tiba mengusik tidur Rosalinda yang damai di sepetak rombong kecil beralas kardus demi melepaskan napsu biadabnya. Dengan segenap kebinatangannya, pria itu membiarkan tangis Rosalinda memberat sementara tubuh ramping perempuan itu menggeliat di bawah tindihan. Perempuan itu sungguh tak berdaya untuk melawan. Mulutnya dibekap, persendiannya dikunci rapat. Rosalinda hanya bisa pasrah menerima perlakuan bejat dari orang yang katanya waras dan punya akal sehat. Rosalinda tergeragap, sesak. Jantungnya berdegup kencang menyengsarakannya bernapas. Air mata yang menggumpal di ujung matanya pun meluruh perlahan, erangannya menyeruak hampa, terhalang riuh rendah suara desahan penuh berahi yang berkelebat menyentak-entak gendang telinganya.
Begitu selesai, siluet gempal itu terburu-buru bangkit meninggalkan Rosalinda terkulai bersama sepetak langit hitam pekat nan lembap di atas kepalanya. Susah payah Rosalinda mengerjapkan mata. Tulang-tulangnya seolah rontok. Kepalanya mendadak pening seolah dihajar sebongkah batu karang besar tepat di batok kepalanya, memporak-porandakan planet kecil di rongga kepalanya yang sejak lama tak berfungsi.
Selapis gerimis turun tak lama kemudian. Kabut bening yang meleleri ujung matanya beberapa detik lalu ikut mengalir bersama hujan deras yang membasuh lubang pori-porinya. Hidungnya yang sensitif lamat-lamat masih mencium jejak aroma lelaki keparat tadi di sekujur tubuhnya. Rosalinda meludah dengan kasar. Tidak tahu mengapa, ia benci aroma lelaki keparat yang ikut menempel di tubuhnya. Lekas dia menanggalkan baju yang melekat di tubuhnya, telanjang, lalu digosoknya wajah, leher, lengan dan sekujur badannya ribuan kali menggunakan telapak tangan hingga memerah perih, namun tetap saja aroma kebinatangan itu melekat di sana.
Malam tak lagi menenteramkan, pijar bintang tak lagi mendamaikan. Setidaknya itu yang dirasakaan Rosalinda. Sebab tidak hanya sekali dua kali pria berkelakuan binatang itu kembali menyaru malaikat, mendatanginya di dini hari buta dengan satu tujuan: menggerayangi tubuhnya, menciumi wajah serta leher jenjangnya dengan rakus, lalu menanamkan sperma terkutuk ke dalam rahimnya yang malang.
Hanya butuh tiga bulan saja perutnya praktis membengkak. Siapa yang menyangka janin yang minus nutrisi itu tumbuh sama cepatnya dengan calon bayi yang mendekam di perut Ibu yang rutin mengkonsumsi susu kehamilan yang kaya akan asam folat, serta di bawah pengawasan dokter kandungan. Tak ada keluhan ngidam, sakit pinggang, turun berat badan, apalagi susah tidur. Segalanya berjalan normal seperti biasa.
Saban hari orang-orang yang berpapasan dengannya di jalan hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kondisi perutnya yang terus mengembang dari hari ke hari. Spekulasi demi spekulasi tentang siapa sosok lelaki biadab yang tega menghamilinya pun menyeruak. Para lelaki di seantero pasar Mardika; mulai tukang gerobak, hingga tukang ojek sampai tukang becak pun saling tuding dengan nada berkelakar. Para Ibu pun tak pelak ikut mencurigai suami-suami mereka yang bisa jadi adalah salah satu penyumbang mani di rahim Rosalinda. Tapi tak ada satu pun yang berinisiatif untuk menolongnya.
Namun, Rosalinda lagi-lagi hanya memamerkan barisan geliginya yang kotor saat dicekoki pertanyaan siapa ayah dari jabang bayi di perutnya. Tentu itu sebuah pertanyaan tolol. Rosalinda mana tahu? Sadar bahwa dirinya tengah hamil saja mungkin tidak. Sesederhana bernapas, satu-satunya yang Rosalinda ketahui hanyalah mengisi perutnya saat lapar dan membasuh tenggorokannya saat haus.
Taman Pattimura, Ambon 2023
***
Editor: Ghufroni An’ars
