Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Ritual Malam Kunut dalam Lagu Torang Pasukan Damai Batuda’a’

Salman Alade

3 min read

Kadang-kadang, lagu bukan sekadar hiburan. Dalam bait-baitnya tersimpan kisah panjang sebuah komunitas, baik sebagai pengingat akan jati diri maupun sebagai peringatan bagi mereka yang mencoba meremehkan. Di Gorontalo, ada satu lagu yang mencerminkan hal ini dengan kuat: Torang Pasukan Damai Batuda’a. Lagu ini bukan hanya sekadar nyanyian, tetapi juga simbol dari sejarah, keberanian, dan reputasi sebuah daerah yang sejak lama dikenal dengan ketahanan fisiknya—bahkan dalam arti harfiah: kekebalan.

Baca juga:

Reputasi ini tidak lahir begitu saja. Ia bertumbuh dalam tradisi, diwariskan dalam budaya, dan dijaga melalui berbagai bentuk ekspresi sosial—salah satunya dalam perayaan Malam Kunut. Jika ada satu tempat yang paling identik dengan Malam Kunut di Gorontalo, jawabannya adalah Batuda’a, sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Tidak sekadar menjadi pusat perayaan, desa ini menyimpan jejak sejarah yang menghubungkan tradisi ini dengan identitas masyarakatnya—sebuah komunitas yang telah lama dikenal dengan ketangguhan luar biasa.

Batuda’a: Desa di Atas Batu dan Warisan Orang Kebal

Secara etimologis, Batuda’a berasal dari kata batu dan da’a, yang berarti “semuanya batu”, bukan “batu besar”. Makna ini diambil dari kata da’a yang melekat pada nama desa ini. Kata da’a sendiri dapat bermakna “besar”, “sangat”, atau “semua”. Jika dikaitkan dengan kondisi geografisnya, penamaan desa ini lebih tepat merujuk pada arti “semuanya batu”, karena di wilayah ini tidak ditemukan sebongkah batu berukuran besar yang dapat mendukung makna Batuda’a sebagai “batu besar”. Ini bukan sekadar metafora, melainkan realitas geografis bahwa daerah ini didominasi oleh bebatuan pegunungan.

Seiring waktu, sebagian penduduk turun ke daerah yang lebih rendah untuk bermukim. Namun, warisan dari kehidupan pegunungan tetap terbawa, termasuk praktik ilmu kebal yang diyakini sebagai bagian dari ketahanan diri. Dari sinilah muncul tradisi yang kemudian menjadi cikal bakal Malam Kunut—bukan sebagai ritual keagamaan yang diinisiasi oleh pemerintah, tetapi sebagai ekspresi budaya yang lahir dari masyarakat secara organik.

Dari Mandi Kebal ke Malam Kunut

Bertahun-tahun perayaan digelar hingga menimbulkan pertanyaan besar di kepala saya: mengapa perayaan tradisi Malam Kunut begitu istimewa dan peringatannya secara besar hanya ada di Batuda’a?

Dalam beberapa laporan media yang saya baca, disebutkan bahwa pada malam ke-15 Ramadan, masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan Batuda’a turun ke kawasan yang lebih rendah untuk merayakan Malam Kunut. Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah mandi di bak air dekat masjid. Namun, ini bukan sekadar mandi biasa. Ini adalah mandi kebal, sebuah ritual yang diyakini membuat tubuh mereka tidak mempan terhadap senjata tajam.

Terkait dengan praktik ini, Kepala Desa Payunga, Kec. Batuda’a, seperti dikutip dalam salah satu wawancara dengan media lokal, menyebutkan bahwa dahulu masyarakat yang hendak mandi di tempat pemandian masjid harus membayar sejumlah uang untuk setiap ember air yang mereka gunakan. Hasil pembayaran ini kemudian dikumpulkan dan digunakan untuk membeli pisang serta kacang—dua makanan yang kelak menjadi ikon Malam Kunut di Batuda’a.

Setelah mandi, para pemuda melakukan atraksi adu kebal, di mana mereka saling menghantam tubuh dengan parang atau benda tajam lainnya untuk membuktikan ketahanan mereka. Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga cara menunjukkan bahwa mereka menguasai ilmu kebal dengan sempurna.

Seusai pertunjukan, mereka membeli pisang dan kacang untuk dibagikan kepada pasangan mereka. Tradisi ini dikenal sebagai Molohungo, simbol kasih sayang dalam budaya Gorontalo. Dari generasi ke generasi, kebiasaan ini terus berlangsung hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari Malam Kunut di Batuda’a.

Lagu ‘Torang Pasukan Damai Batuda’a’: Bukan Sekadar Nyanyian, tetapi Simbol Identitas

Identitas Batuda’a sebagai komunitas yang dikenal dengan ilmu kebal tak hanya terjaga dalam perayaan Malam Kunut, tetapi juga tercermin dalam budaya populer, salah satunya lewat lagu Torang Pasukan Damai Batuda’a.

Lirik lagu yang dinyanyikan oleh Riyan Brebet ini menegaskan bahwa orang Batuda’a bukan mencari lawan, tetapi jika dilawan, mereka siap menghadapi:

Torang Pasukan Damai Batuda’a

Jadi minta tolong jangan ngoni lawan

Torang Pasukan Damai

Bukan mo cari lawan

Torang di sini cuma

Mo cari kawan

Lagu berdurasi 5 menit 20 detik ini telah diputar sebanyak 3,2 juta kali sejak diunggah pada kanal YouTube. Bahkan, seingat saya, lagu ini viral di kalangan anak muda Gorontalo saat maraknya perselisihan antarkampung di Gorontalo, yang kerap menggunakan panah wayer sebagai senjata beberapa tahun lalu. Dalam berbagai pemberitaan, hampir selalu disebutkan bahwa salah satu pihak yang terlibat rusuh pasti ada anak-anak Batuda’a.

Lirik lagu ini bukan sekadar hiburan, tetapi mengandung pesan mendalam—semacam peringatan. Ia mencerminkan sikap khas masyarakat Batuda’a—tidak mencari masalah, tetapi bukan berarti bisa diremehkan. Sejarah panjang mereka dengan ilmu kebal dan keberanian dalam menghadapi tantangan membuat Batuda’a selalu dikenal sebagai komunitas yang kuat secara fisik dan mental.

Lagu juga memiliki peran lebih dari sekadar hiburan. Ia bisa menjadi alat untuk membangun narasi, memperkuat identitas, dan bahkan memperjuangkan eksistensi suatu kelompok. Dalam konteks ini, Torang Pasukan Damai Batuda’a bukan hanya sekadar lagu, tetapi juga pernyataan sikap—semacam kode sosial yang mengingatkan orang lain bahwa Batuda’a memiliki karakter khas yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan budayanya.

Baca juga:

Tidak heran jika hingga kini, dalam berbagai peristiwa, Batuda’a masih sering dikaitkan dengan reputasi sebagai wilayah “orang-orang kebal”. Bahkan, istilah Pasukan Damai Batuda’a sendiri sudah menjadi semacam branding sosial—pengingat bagi siapa pun bahwa Batuda’a bukan tempat yang bisa dianggap enteng.

Malam Kunut: Antara Ritual, Identitas, dan Eksistensi Sosial

Dengan latar belakang seperti ini, Malam Kunut di Batuda’a tidak hanya tentang memperbanyak ibadah di malam ke-15 Ramadan. Ini adalah soal eksistensi sosial—bagaimana sebuah komunitas atau kelompok masyarakat mempertahankan tradisi yang telah mengakar.

Pada malam itu, banyak orang berbondong-bondong datang ke Batuda’a. Tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk merayakan identitas mereka. Pisang dan kacang tetap menjadi simbol utama, tetapi suasana yang tercipta lebih dari sekadar pasar Ramadan. Ini adalah malam di mana masyarakat Batuda’a menunjukkan keberadaannya, memperkuat tradisi, dan mengingatkan orang luar bahwa Batuda’a bukan sekadar nama desa, tetapi simbol ketangguhan yang telah diwariskan turun-temurun.

Pemerintah tidak pernah secara resmi menetapkan Batuda’a sebagai pusat Malam Kunut. Namun, branding itu sudah terbentuk secara alami. Tidak ada daerah lain yang bisa merebut posisi ini, karena Malam Kunut bukan sekadar perayaan di Batuda’a—ia adalah bagian dari jiwa dan identitas mereka. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email