Satir, ironi, suram.

Botol Pecah di Kepala

Mochammad Fajar

5 min read

Emma, seorang gadis yang muncul dalam mimpi tiba-tiba jadi nyata kemarin dan hari ini dia mengirim pesan supaya aku membunuh diriku sendiri. “Mengapa?” tanyaku. Namun dia tak pernah menjawab pesanku. Padahal dia telah membuatku kehilangan waktu.

Ini mustahil, batinku, kesal.

Lantas aku mengambil pistol dan menembakannya ke arah dinding. Entah kenapa setiap mendengar desing pistol aku merasa begitu tergugah, sampai-sampai seorang polisi datang untuk menyita pistol dari tanganku.

“Bapak melanggar undang-undang,” kata polisi itu, lalu memberi aku peringatan.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu mengambil tas berisi peralatan plastik. Meninggalkan tetangga yang sedang dimintai keterangan.

Aku menghirup napas dari kota yang tak pernah menyimpan pepohonan lagi. Dari belokan, aku menepi di warung pecel lele, untuk memesan makanan. Namun karena aku sadar aku tak punya uang, cepat-cepat aku pergi lagi. Berhenti di sebuah tangga kota, tempat di mana lonceng berdentang ribuan kali.

Aku ingin menulis sesuatu. Aku ingin menggambar Emma dalam kata-kata. Tapi rasanya selalu sulit. Konsentrasiku buyar karena seorang pria memberitahuku bahwa dia telah menghalangi jalanku selama ini. Dia meludahiku. Dia memaksaku pergi. Dia, pria yang wajahnya mirip aku.

“Siapa kau!?” aku meremas tangannya. Sakit sekali.

“Aku? Kau!”

Aku merasa ngeri. Aku lari. Dia mengejar. Tawanya membuat gaduh kelelawar di langit.

Aku masuk ke sebuah toko yang di mana semua orang mirip aku. Aku merasa dianiaya di sini. Mereka orang-orang post-modern sialan yang suka menghina dunia dengan pandangan pribadi. Sebelum orang itu mendekat, aku menghabisi karakter-karakter ini sampai mati. Banjir darah menghiasi toko ini. Golok yang kupegang, aku buang cepat-cepat. Dan sembunyi di botol wiski.

Di sini aku mabuk. Emma muncul kembali dan menjebloskanku ke dalam perut kecoa raksasa. Emma mencium jidatku. Membuatku terangsang. Tapi dia menikamku dengan kasar.

Aku berenang mencari bantuan. Mencoba memproses apa yang diucapkan Emma. Dia absurd. Sama seperti dunia yang tengah menenggelamkanku di pusat sel otak. Kurasa aku harus segera menjauh darinya dan jadi jendela. Aku ingat Dewa sedang melahap logika yang ada di pikiranku. Maka semua jalan keluar terasa sia-sia. Pembatasnya hanya bisa kurubuhkan kalau aku membenturkan kepalaku ke cermin.

Bagian diriku terpecah. Cermin mempertontonkan banyak Emma dan aku dalam kegelisahan yang pekat. Tubuhku kering kerontang. Secara harfiah aku memang tak bisa berenang. Aku tak bisa melakukan apapun. Dan saat aku sadar, aku tenggelam. Aku tenggelam. Sesak.

Semua orang menari di antara rasa sakitku. Atau semua itu hanya khayalan belaka? Karena aku merasa secercah pikiran melenyapkan mereka secara perlahan. Menjadi transparan, menjadi ada. Seperti ikan yang memakanku dengan ganas.

Aku berusaha menyelamatkan diriku berkali-kali, tapi hasilnya nihil. Yang tersisa dari tubuhku cuma jantung untuk hidup. Nyaris mati. Nyaris tak bersuara. Dan saat seperti itu aku melompat dari botol, menyadari realitas kembali.

Di luar lalu lalang orang ramai. Berbicara. Menatap-natap jendela toko dan memberikan seorang pemain sirkus uang. Semua orang tertawa, tersenyum. Seolah cuma aku yang tersiksa.

Aku keluar. Menarik nafas dari kota yang indah ini. Di bawah naungan pohon ganja aku duduk untuk membenahi isi kepalaku yang kacau. Tiba-tiba seorang pria memberiku sebungkus rokok. Saat kubuka ternyata tak ada isinya. Pria itu menertawakan kebodohanku.

Aku ingin memberinya pelajaran. Tapi aku pengecut. Aku tak berani melakukan itu. Lebih baik aku membiarkan harga diriku tergores. Aku mencakari tanganku. Aku kesal dengan diriku. Lalu melemparkan bungkusan rokok itu ke arah si pria tadi ada. Namun pria itu sudah lenyap. Mungkin dia akan menceritakan kebodohan itu ke setiap orang. Aku pun berjanji bila aku bertemu dirinya kembali, aku akan menghajarnya.

Aku bangkit. Berjalan. Tak tahu harus ke mana. Tak punya tujuan. Yang kulakukan hanyalah mengamati orang, palang, atau kendaraan. Aku bertanya: Apakah menyukai tubuh seorang perempuan itu penting?

Kualihkan pandanganku. Kutundukkan kepala. Ada rasa iri yang membakar hatiku. Aku iri melihat orang-orang bahagia bersama. Itu dimensi yang sulit kumasuki. Aku tak mampu bicara seluas anak perempuan itu. Andai aku bisa melakukannya mungkin hidupku lebih mudah. Aku menyalahkan diriku sendiri. Tapi kurasa ini berlebihan.

Tanpa sadar bahuku menyentuh bahu seorang pria tua. Dia pun jatuh. Kantong belanjaannya tumpah. Sesaat aku diam. Memandanginya dengan rasa ngeri. Tiba-tiba aku membencinya. Aku ingin meninggalkannya begitu saja. Tapi saat orang-orang mulai memandang kami, aku segera menolong pria itu.

Aku meminta maaf berkali-kali dengan gugup. Aku tak tahu harus mengucapkan apa. Tapi dia mengerti. Dia bilang dia tak apa-apa. Dia malah mengucapkan terimakasih kepadaku.

Dengan perasaan yang sampah, aku ingin menuntunnya sampai tujuan karena aku merasa sangat bersalah. Dia bicara, tapi aku tak bisa mendengarnya. Telingaku berdenging. Aku cemas. Aku mencoba mendekatkan telingaku ke mulutnya walau itu tak sopan. Lagi-lagi yang kudengar hanya denging. Suara-suara aneh.

Dia menarik lengan sweaterku. Membawaku entah ke mana. Dia tampak cemas sepertiku. Tiba-tiba kami masuk ke sebuah gang gelap yang tak pernah aku masuki. Di ujung aku bisa melihat pintu besi yang sudah karatan.

Dia memasukman kunci sambil terus memegang lengan sweaterku erat-erat. Aku tak mengerti. Aku masuk ke sebuah ruang yang bahkan aku tak bisa melihat apa-apa.

Dia menyalakan lilin. Semuanya akan terlihat jelas.

“Kau tahu cara membuat ruangan ini terang?” tanyanya.

Aku tak bisa menjawab iya atau tidak, karena tampaknya dia takkan mengerti apa yang kuucapkan. Semua kata-kata yang keluar dari mulutku tampaknya berkata ‘ya’ di telinganya. Aku segera dibawa menuju laboratorium listrik.

Di sana banyak hamparan kabel. Langit-langit pun dipenuhi kabel yang saling membelit dan sesekali menyetrum ubun-ubunku. Dan dia terus bicara. Namun kata-katanya terasa samar, bahkan tak terdengar sama sekali.

Ruangan ini hanya diterangi cahaya dari listrik yang sesekali muncul dan meledak.

Aku bertanya, namun dia tak menjawab. Dia terus menarikku. Akhirnya di depan toples besar kami berhenti. Sesaat mulutnya bergerak-gerak. Tanpa diduga dia mendorongku untuk masuk ke sana.

“Perbaikilah, jadilah pahlawan!” lalu dia pergi, mengunciku di sini.

Aku bingung. Aku gelisah. Apa maksudnya? Aku melihat banyaknya tombol dan prosesor di sini. Mereka menekanku. Memaksaku. Menyiksaku secara perlahan. Sebuah alarm darurat terdengar di sini. Aku makin gila.

Aku menekan tombol apapun. Tombol dengan bahasa asing yang tak kumengerti. Dan akhirnya kekacauan ini berhenti. Semua tenang. Laboratorium pun menjadi terang.

Pintu terbuka. Semua orang menyambutku. Mereka menyebutku pahlawan.

Ada seorang besar yang menyalami tanganku dan menuntunku ke sebuah ruangan besar. Dibsana semua orang besar lainnya menungguku.

“Anda tampak bahagia” katanya.

“Siapa kau bangsat!” jeritku, sambil melepaskan diri.

Dia tertawa dan tak mengatakan apapun.

“Duduklah…” katanya.

Aku duduk. Bingung sesaat dengan gambaran orang-orang asing ini.

Siapa mereka? Dan kenapa?

Tak ada jawaban. Namun sebuah layar muncul di depanku. Memunculkan gambar dan video-video heroik seorang yang tampak seperti aku.

“Inilah ahlinya..” bersama-sama mereka menoleh kepadaku dengan senyum tulus.

“Kau membuat umat manusia mendapat derajatnya kembali,” katanya, “Aku berterimakasih padamu.”

Aku belum mengerti. Tapi aku menikmati semua pujian itu. Aku senang melihat diriku yang “itu” di layar. Aku merasa itu aku. Ya, semua orang setuju bahwa itu aku.

Aku berdiri dan mengucapkan pidato.

“… aku nekat melakukan itu, dan semua orang akan mendapat manfaatnya.”

Setelah selesai, serentak mereka bertepuk tangan. Namun di tengah itu, tiba-tiba sebuah tawa muncul, mengacaukan euforiaku.

Tawa itu berasal dari layar. Sontak mereka menoleh dan melihat diriku di layar menancapkan beling ke lidah dunia. Mereka syok berat. Bertanya-tanya apa yang sedang kulakukan?

“Palsu!” seseorang berteriak.

“Palsu! Palsu! Palsu!”

Kini semua orang berteriak, memenuhi ruangan ini.

Kemudian mereka menghancurkan layar itu. Membuatnya lebur, tak tersisa. Tampaknya mereka marah.

Karena merasa tak cukup hanya menghancurkan layar, lalu mereka menghancurkan fasilitas ruangan ini. Aku ketakutan dan melarikan diri. Mencari pintu keluar. Tapi sial, tak ada jalan keluar.

Mereka pasti akan menghabisiku!

Tiba-tiba semuanya gelap kembali. Sama seperti kegelapan awal. Ini mengagetkanku ke tingkat lebih parah. Aku tak bisa lagi melihat diriku.

Aku berlari dan tak menemukan apapun untuk kusentuh. Di mana aku?

Saat itulah sebuah suara di kejauhan muncul. Dia berteriak. Aku mengenal suaranya: itu adalah Emma.

Aku menyahut panggilannya. Emma mendekat. Dia pun menarik lenganku dan menjatuhkan aku di rumah tua aneh. Dia bertanya apa yang sedang kulakukan di sana.

“Aku kacau!” seruku.

“Bukankah kau laki-laki? Kenapa kacau?”

“Tidak ada.”

“Bukankah kau laki-laki?” suara itu bergema, memenuhi telingaku. Emma seperti sipir yang kejam bagiku.

“Ya, aku laki-laki. Jangan bicara lagi! Ya kadang aku merasa aku bukan laki-laki. Jangan bicara lagi!”

“Kau ingin tubuhku, kan? Aku siap mengambil alih dirimu, kalau kau mau? Bukankah kau ingin memakai gaun paling cantik di depan dirimu sendiri? Lihat tubuhmu, tak pantas disebut laki-laki atau perempuan, menyedihkan.

Aku melihat matanya yang tenang. Aku ingin memahaminya. Tapi yang kudapatkan adalah siksa yang sayang ayahnya

Sekarang dia meletakan kepalanya di pangkuanku. Terus bertanya hal yang menyakitkan.

“Sampah!” teriaknya. Lalu dia menghilang.

Sesaat ini seperti mimpi buruk yang berulang. Aku tak tahan. Lantas lompat dari apartemen.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Mochammad Fajar
Mochammad Fajar Satir, ironi, suram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email