Perempuan Muda yang Menanggung Sendiri dan Puisi Lainnya

aji royan nugroho

1 min read

perempuan muda yang menanggung sendiri

di sudut ia duduk wajahnya seperti menunggu
waktu yang bergerak malas
harus ia balas dihadapan muka dengan
kursi tanpa penunggu
sore yang pulang, ia setia pada waktu
di pikirannya ia bertempur dengan dirinya
mungkin pertanyaan yang menyisip
atau seorang kekasih yang segera tiba
di kampus biru muda
di belakang tabebuya
kolong langit kelabu runtuh menyisir pejalan
menunggu pertumbukan mata
segelas yang dingin di tangannya
ruang dan pohon menguap
tak ada jawaban terang
adegan kopi ialah adegan dewasa
dan perempuan itu canggung meminumnya
selain teman merawat harapan
ia adalah kelompok sunyi
untuk kesepian sore
yang ditanggung sendiri

Surakarta, 2025

kita pernah semerah itu

masih menghitung jiwa dan perasaan yang belum genap
menukar tulang rusuk di dada
pertempuran dan memaku mata saat pertama
berlanjut di malam yang tak cukup untuk genap
memotong jam malam dan mengusik lenguh
detak-detak jantung yang tak kau pahami
tetapi menjadi kecambah harapan
jalan kekasih memberi arah
sebagai suratan kenyamanan
saat sendiri kau bertanya-tanya dari mana
tirai-tirai rasa bisa dinikmati seperti jalan tanpa ujung
keangkuhan cukup menguliti nasibmu
dari nyala-nyala merah kesumba yang kita jaga suarnya
kita kagumi hangatnya di sore
dengan berwujud kopi
dan kita tiriskan senja di pelupuk mata
merah hati kita kagumi
malam atau sore itu tersayat hebat
merampas inggatan yang gagal
bersama berpulang nasib

Surakarta, 2025

satu nama dalam baris pohon daun kertas

sa,
di balik jendela pagi dingin hujan mengeja di bulir kaca
sebentar sebelum mulai ibadah bertemu orang
doa satu lagi dari permintaan yang belum berunjung menemui puncak romantisnya
bilah-bilah gerimis membumikan pagi
langit mendoa memayungi perjalanan renta
tubuh ikhlas menghanyut dari tebakan-tebakan waktu
sa, niat janji disimpan dalam belenggu dengan nama yang sama
kelak namanya, bersandinglah dengan jalannya
teringat menyusuri kembali yang belum bernama
senyap itu dipanggil, disaksikan pertemuan takdir
sa, cinta dan dermaga menunggu
menangih janjinya dan memulai lesap cerita
sebaris pohon daun kertas
dalam kenyataan satu nama

Surakarta, 2025

menyahut bulan di lepas kota raya

kota ini tak bisa dikatakan sedang tertidur
tempat ini dihuni mimpi pulas dan dahaga yang merindu telaga
roda yang mengular seribu waktu
kembali lagi di jamuan pintu-pintu yang kasat
dan tinggal burung-burung menepi di jelajah sore
namun sore yang menipis tak ada lagi bayangan yang sisa
bulan baru saja menganti perubahan angka
di rusuk usia di matanya menepi untuk pagi
di antara mereka kelembutan menghias bibir
menanti dua belas hitungan waktu baru dalam kefanaan
masih banyak yang memikul beban sendiri
mengeja satu-satunya nama
dan menyebut bilangan-bilangan ganjil
sewaktu di kehidupan lain
bahkan pikiran tak mengubah yang lebih jauh
ingin melakukan lagi dan berkali
bahkan untuk melihatmu masih samar
lebih sekadar menunggu bulan di wajah sore
di lain kota kau sedang merindui siapa?

Surakarta, 2025

*****

Editor: Moch Aldy MA

aji royan nugroho

Kewawasan

May Wagiman May Wagiman
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email