Di Kala Senggang
seseorang sedang menyusun jam,
memasangnya di dalam. angka-angka itu berpindah,
berputar, dan membunuh kesepian
meski ruang tamu itu telah berubah
menjadi halaman kosong.
tubuhnya dihiasi benda-benda
keropos yang memikul beban makna. di kala senggang,
ia menomori debu satu per satu
melipat-lipat jendela
dan menidurkan bayangannya
tetapi sebagai sebuah perangkat yang hidup
ia selalu membuka dunia, membelah dirinya
dan menjelajah kematian.
(Bogor, 2026)
–
Langit Perak
Sebuah cermin di Bogor menampilkan
tubuhmu yang gemar
melihat langit bewarna perak
“seekor kunang-kunang di luar sana
sedang memperhitungkan
ke mana pagi akan
jatuh,” katamu.
bekas tapak sepatu kita di malam itu
mungkin telah ditumbuhi air,
di antara musim hujan dan hutan kota
yang sudah kita kencingi, lalu
kau habiskan rokok dengan asap
yang menggenggam pengkhianatan.
(Bogor, 2026)
Satu Kesedihan
suatu pagi nanti, jangan pernah matikan lampu. dan tak perlu susah payah melipat selimut. biarkan ranjang, menyimpan bentuk tubuhmu. kemas-rapikan rambut pendek dan sendal ketupat itu. mungkin ayahmu juga akan menyadari bahwa selama hidupnya ia tak mengenal anaknya. seperti ia yang tak mengenal ibumu. neraka tentu akan datang dan mengenali kita dengan baik. cahaya matahari akan terus mengikuti kita. dan kesedihan akan terus menggenang di matamu.
(Bogor, 2026)
–
Di Gerbang Sekolah
untuk adr
wajahmu selalu dipenuhi cerita,
di hari itu aku sempatkan mengingat
13 tahun lalu atau lebih: sebuah gerbang sekolah
memberikan berbagai mawar di malam hari dan celana batik.
aku bersiul-siul menunggu hari sabtu. bernyanyi di kamar mandi.
memotong kumis. dan belajar menulis kurung kurawal.
badanmu direnggut jam kerja, suaramu tertahan dan terbagi dua.
tetapi kau selalu bilang: kita harus ikhlas. ikhlas? temanku membicarakan
tata ruang kota, konflik agraria, knpi, indonesia darurat. aku khawatir,
tak bisa lagi menyimpan dirimu dengan kebahagiaan.
(Bogor, 2026)
–
Mungkin Kau Masih Membaca Sapardi
untuk adr
kita baru saja bertemu kegagalan. empat dan tiga tahun.
mungkin kau masih membaca sapardi, memberikan nama
pada tiap sesuatu yang jatuh ke bumi. mungkin juga kau
masih mengingat tubuhku yang kurus.
di malam itu kau lihat kembali buku catatan dan menunjukkan kepadaku,
selembar foto dan puisi kita berdua masih mendapatkan tempat yang layak.
lalu karena rahim alam dan ketidakmenentuan cuaca,
cara kerja dunia yang misterius itu kembali memeluk kita
bayangkan, berapa april yang telah kulewati? sesuatu yang kau tunggu
selalu datang dan selalu pergi. yang selalu kau catat baik-baik.
di dalam kalender, suatu saat nanti, ada hari yang
mengubah dirinya menjadi bunga.
(Bogor, 2026)
*****
Editor: Moch Aldy MA
