Ruang bersenang-senang.

Perempuan yang Ingin Melepaskan Diri

Puteri Soraya Mansur

4 min read

Tak pernah ada yang menduga bahwa tengah malam itu menjadi awal mula dari semua cerita. Edo mengantarkan Friska melalui lorong sempit yang gelap. Ada rasa yang terbetik di hati perempuan bertubuh tinggi semampai itu saat melihat punggung Edo. Ia mengingat masa lalunya.

Selama hampir sepuluh tahun, masa muda Friska selalu ditemani oleh Santos, lelaki di masa lalunya. Mereka selalu menyusuri lorong itu. Menemani hari-harinya dengan penuh gembira. Ribuan kata keluar dari mulut mereka berdua mengiringi langkah-langkah yang sama banyaknya. Mereka bercengkerama, merajuk, menjauh hingga bertaut lagi selama menjalin kasih. Tak ada yang pernah tahu bahwa kisah mereka berakhir dengan pilu. Pun perempuan yang baru merasakan cinta tak bertepuk sebelah tangan itu. Cinta bergelora saat ia menjadi muda.

Ketika menua, Friska pun merasakan cinta yang menggelora itu. Seumpama ingatan tentang Santos yang kembali dimunculkan oleh Edo, lelaki yang menemaninya selama enam bulan lamanya. Menolak, mengabaikan, menekan, memanipulasi, membuang, pun tak mempan atas apa yang telah muncul dalam sebentuk cinta. “Percuma membunuh perasaan ini,” begitu kata hati Friska.

Friska pun memberanikan diri menghadapinya. Ia berusaha fokus pada dirinya bukan pada perasaannya. Namun, cinta tak bisa dikendalikan dengan begitu mudahnya. Lebih-lebih Edo memberikan afeksi. Sampai muncul pertanyaan: “Apakah ia merasakan hal yang sama? Tak mungkin!” begitu penolakan hati kecil Friska.

“Mustahil. Mungkin ia hanya ingin bermain-main saja denganku? Hanya ingin mengetes atau memastikan perasaanku? Atau hanya tak kuasa dengan situasi yang ada?” pertanyaan pun terus bermunculan di benak Friska.

“Aku bisa gila,” lanjut kata hati Friska.

Ia ingat betul afeksi-afeksi yang diberikan Edo. Bukan afeksi biasa. Makin hari, afeksi itu makin terasa. Ia pun kembali mengingat masa lalu.

Terutama saat bibirnya membacakan puisi, prosa dan tulisan-tulisan atau apapun itu. Perasaan aneh timbul tanpa permisi. Perasaan aneh, bukan getar-getar cinta seperti layaknya muda-mudi punya gelora. Friska seperti dihadapkan pada dunia antara masa lalu dengan masa kini. Ingatan-ingatan masa lalu bersliweran sedemikian rupa tanpa terbendung saat bersama Edo. Tak tertahankan hingga ingin sekali mati.

Saat paling menyiksa itu pun tiba. Friska melihat Edo dengan ekspresi yang tak biasa. Sakit. Sampai air mata Friska pun tak mau berhenti mengalir. Sesekali berjeda, setelah itu mengalir kembali. Malam itu juga, Friska berbuat konyol yang telah menyinggung hati Edo. Meski tak mau diakuinya, Friska mengetahuinya. Ia cukup baik menilai Edo.

Saat paling mengejutkan juga tiba. Edo menjalin kasih dengan perempuan lain, tepat sehari sebelum ia melakukan sebuah prosesi penting dalam hidup Friska. Bukan cemburu yang muncul dalam diri Friska, tapi pertanyaan spontan di hatinya, “Apakah karena aku?”

Tentu saja itu tak akan pernah ada jawabannya. Pun Friska tahu persis Edo tak akan pernah memiliki perasaan padanya. Kalau pun ada, Edo akan menyangkalnya. Friska cukup sadar diri dengan situasi yang dimilikinya, jadi cinta itu bukan untuk mengharapkan balasan. Cinta itu hanya untuk berbagi bahagia dengan lelaki bertubuh jangkung dan berkulit putih itu. Kenakalan manis untuk dicecap sekejap saja. Bagai kumbang mengisap madu bunga.

Seperti halnya kenakalan manis yang dilakukan Edo. Ia memeluk dan mencium Friska di suatu sore yang syahdu. “Lancang sekali!” pikir Friska kala itu. Hanya saja, tubuh Friska telah dikuasai oleh perasaannya sehingga tak bisa menepis pelukan Edo. Friska malah membalas ciuman itu.

Edo sungguh berani bermain api dan Friska meladeninya. Lima hari setelahnya, Edo memilih untuk memadu kasih bersama perempuan lain. Dalam benak Friska pun terbersit: “Apa-apaan ini?! Apa ia mempermainkanku?” Pertanyaan itu muncul saat Friska mengingat kejadian yang dianggapnya janggal itu. Pertanyaan lanjutan atas satu pertanyaan spontan yang muncul saat pertama kali mendengar kabar kisah percintaan Edo dan kekasihnya.

Suatu malam, Edo mengatakan bahwa ia tak mencintai kekasihnya. Tak ada perasaan cinta, hanya perasaan suka. Dalam hati Friska bertanya, “Lalu apa? Seperti perasaanmu padaku yang tak jelas itu?”

Friska hanya kasihan dengan kekasih lelaki berambut lurus itu. Padahal seharusnya Friska mengasihani dirinya sendiri yang terombang-ambing dengan perasaan cinta tanpa harap balasan itu. Cinta yang tak pernah diinginkannya. Ada banyak bentuk cinta dan cinta seperti ini menurut perempuan dengan tulang pipi menonjol itu adalah bentuk cinta paling tulus sekaligus paling menyakitkan.

Dua hari setelah Edo menyatakan tak punya rasa cinta pada kekasihnya, ia mengatakan sudah putus di hadapan Friska. “Apalagi ini?” pikir Friska. Ia berusaha untuk memahami alasan Edo meski tetap kasihan pada perempuan itu. Tak seharusnya seperti itu. Hanya saja, ia pasti akan dianggap tak bisa memahami dari sudut pandang Edo. Friska pun tak memedulikan hal itu lagi meski sangat menyesalinya. Ia juga perempuan dan tahu rasanya saat sedang dimabuk asmara dan tiba-tiba harus mengakhirinya.

Egois. Friska menilai Edo. Meski ia tahu tak akan pernah berani mengatakannya karena Edo bukan tipe yang bisa menerima penilaian seperti itu. Hingga seorang karib Edo berkata, “Dia tak akan mengorbankan harga diri demi kekasihnya.”

Friska pun tersadarkan bahwa penilaiannya selama ini benar.

Keegoisan yang sama ketika Friska menyatakan perasaannya dan Edo berkata, “Makanya aku beri batasan dengan mengatakan keinginanmu.”

Friska tak habis pikir dan menggumam dalam hati, “Batasan macam apa itu? Jadi aku harus mengatakannya dengan jelas baru kamu mau melakukannya? Bahkan melakukan hal-hal yang dilakukan oleh sepasang kekasih? Bukankan kita sudah melakukan banyak hal lebih dari sepasang kekasih? Batasan kita cuma satu: Tak ada persetubuhan. Selebihnya, bercengkerama, saling menggoda, saling berkabar, saling berbagi suka-duka, berpelukan dan berciuman.”

Friska benar-benar tak habis pikir dan terus menggumam dalam hati sembari bercakap-cakap dengan Edo.

“Saling memberi pesan dengan suara manja. Afeksi macam apa itu? Apakah wajar seperti itu jika hanya kasihan padaku? Lalu memeluk dan menciumku? Apakah itu hanya kesalahan yang manis saja?”

Pertanyaan-pertanyaan itu makin bermunculan dan tak terbendung lagi, meski tak satu pun terucap dari bibir Friska di hadapan Edo. Hanya pertanyaan-pertanyaan spontan saat Friska memperoleh jawaban yang sulit diterima olehnya.

Meski tak mengharapkan balasan, saat Edo mengatakan,“Itu kan dirimu yang merasakan cinta.” Seketika hati Friska terasa perih.

“Jadi, selama ini afeksi yang kamu lakukan itu untuk apa? Bukankah untuk mempermainkanku saja? Atau kamu hanya menyangkalnya karena aku bukan orang yang diharapkan untuk dicintai, seperti halnya aku yang tak mengharapkan untuk mencintaimu? Hanya saja aku mau mengakui bahwa aku jatuh cinta padamu,” Friska berdialog dalam hati yang penuh kekacauan setelah mendengar perkataan Edo.

Friska hanya mampu berkata: “Kamu memang tak pantas dicintai.”

Akhirnya, Friska meminta Edo mengantar pulang ke rumah untuk terakhir kalinya. Salam perpisahan pun dilakukan. Percakapan-percakapan penuh duri pun dilontarkan melalui pesan. Hingga Friska mengatakan jika ia mengalami keanehan dan perlu adaptasi. Kemudian ia meminta izin untuk memblokir nomornya dan Edo dengan entengnya, “Iya, benerin rasa dulu sana.”

“Jahat banget,” Friska membalasnya dan memblokir nomor Edo.

Friska berpikir bahwa Edo dengan entengnya menuliskan pesan itu setelah mengaduk-aduk perasaannya dengan seluruh afeksi yang diterimanya. Friska pun menangis dan berkata, “Tuhan, ia mungkin perlu merasakan cinta yang sama denganku sehingga tahu dan tak mempermainkan perasaan perempuan lagi. Aku tak ingin ia membalas cintaku tapi aku tak ingin pula disakiti seperti ini. Untuk mencintai hanya perlu beberapa detik saat melihat punggungnya di kegelapan, namun melupakan tak semudah perkataannya yang menyuruhku membetulkan rasa itu. Bukankah ia sudah pernah merasakan hal yang aku rasakan sebelumnya? Tapi mengapa ia tak belajar dari pengalaman itu? Mungkin ia belum dewasa dalam menghadapi pergulatan cinta. Sama halnya denganku yang belum dewasa karena tak bisa melepaskan diri dari kisah kasih masa lalu.”

Friska hanya memblokir nomor Edo tak sampai dua jam karena ia tak sanggup berlama-lama marah atau membencinya.

Pada akhirnya, Friska menyadari bahwa ia mencintai Edo karena masa lalu dan ingin melepaskannya dengan segera.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Puteri Soraya Mansur
Puteri Soraya Mansur Ruang bersenang-senang.

Kewawasan

May Wagiman May Wagiman
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email