Menganalisis budaya pop dengan riset mendalam, tapi tetap dengan sentuhan seni yang menawan! Selalu penasaran dan terus berevolusi untuk kalian semua

Paus Leo XIV, Putra Chicago: Fan Cubs atau White Sox?

Antonius Harya Febru Widodo

6 min read

Dunia tersentak oleh kabar gembira dari Vatikan! Asap putih telah mengepul, dan nama Paus baru telah diumumkan: Paus Leo XIV. Namun, ada satu detail yang membuat kabar ini terasa begitu dekat, begitu personal bagi sebagian dari kita, khususnya bagi mereka yang memiliki ikatan dengan “Kota Angin”. Paus Leo XIV adalah putra asli Chicago! Bayangkan, seorang anak yang tumbuh di antara gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, di tengah riuh rendahnya kehidupan kota metropolis Amerika, kini memegang kemudi spiritual bagi miliaran umat Katolik di seluruh dunia.

Tentu, kita semua bersukacita dan berdoa untuk kepemimpinan beliau. Namun, izinkan kami, sebagai sesama manusia biasa (dan mungkin beberapa di antara kita juga penggemar berat olahraga), mengajukan satu pertanyaan yang tak terelakkan, sebuah pertanyaan yang mungkin menggelitik di benak warga Chicago saat ini: Paus Leo XIV ini… fans Cubs atau White Sox?

Mungkin terdengar sepele di tengah keagungan momen ini, tetapi di Chicago, pilihan tim bisbol bukan sekadar preferensi olahraga. Ia adalah bagian dari DNA, warisan keluarga, penanda identitas, dan sering kali, sumber perdebatan sengit (namun penuh kasih) di meja makan.

Chicago: Kuali Peleburan Iman dan… Fanatisme Sehat

Sebelum kita menyelami lebih dalam dilema bisbol Sang Paus, mari kita pahami dulu “tanah kelahiran” spiritual beliau. Chicago bukanlah kota biasa. Ia adalah kuali peleburan budaya, etnis, dan yang tak kalah penting, iman. Sejarah kota ini adalah permadani yang ditenun dengan benang-benang beragam tradisi Kristen, terutama Katolik, yang tumbuh dan berkembang seiring gelombang imigrasi dari berbagai penjuru dunia.

Baca juga:

Bayangkan Chicago abad ke-19 dan awal abad ke-20. Para imigran dari Irlandia, Jerman, Polandia, Italia, Lithuania, dan banyak lagi, datang membawa serta bukan hanya koper dan harapan, tetapi juga iman Katolik mereka yang kental. Gereja Katolik di Chicago, dengan bijak, mendirikan apa yang dikenal sebagai “paroki nasional”. Ini bukan sekadar gereja biasa. Paroki-paroki ini menjadi jantung komunitas, tempat di mana misa dirayakan dalam bahasa ibu, tradisi leluhur dilestarikan, dan anak-anak diajarkan tentang iman dan akar budaya mereka. Sangat mungkin, Paus Leo XIV muda dibesarkan dalam kehangatan salah satu paroki etnis ini, merasakan iman yang hidup dan berakar dalam komunitas yang solid.

Lanskap keagamaan Chicago bisa diibaratkan seperti hidangan deep-dish pizza khasnya: berlapis-lapis, kaya rasa, setiap lapisan (denominasi) memberikan kontribusi uniknya, namun menyatu dalam sebuah kesatuan yang mengenyangkan jiwa. Atau mungkin seperti musik blues dan jazz yang lahir di kota ini, penuh improvisasi, kadang melankolis, kadang penuh semangat, tetapi selalu menyentuh hati. Di tengah keragaman ini, Katolisisme tumbuh menjadi salah satu pilar utama, membentuk karakter kota dan warganya.

Paus yang Ditempa Nilai-Nilai “Kota Angin”

Tumbuh besar di Chicago berarti tumbuh dalam lingkungan yang dinamis, di mana interaksi antar kelompok agama adalah hal yang lumrah. Kota ini adalah saksi bisu bagaimana berbagai denominasi Kristen, termasuk Katolik, tidak hanya hidup berdampingan tetapi juga sering kali bahu-membahu menghadapi tantangan sosial. Ajaran sosial Katolik menemukan lahan subur di Chicago, diwujudkan dalam aksi nyata.

Kita bicara tentang lembaga seperti Catholic Charities, raksasa pelayanan sosial yang telah menjadi jaring pengaman bagi jutaan warga Chicago yang membutuhkan, tanpa memandang latar belakang agama mereka. Kita bicara tentang keterlibatan Gereja dalam memperjuangkan keadilan rasial, sebuah isu yang begitu membekas dalam sejarah Amerika, termasuk di Chicago. Ingatlah bagaimana Uskup Agung Meyer pada tahun 1960 memerintahkan desegregasi sekolah-sekolah Katolik, sebuah langkah berani pada masanya.

Paus Leo XIV pasti telah menyerap semangat ini. Semangat kepedulian terhadap “yang termiskin dan paling rentan”, semangat untuk membangun jembatan antar komunitas, dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Ibarat baja yang ditempa dalam api, karakternya mungkin telah dibentuk oleh nilai-nilai welas asih, keadilan, dan dialog yang begitu kental terasa di Chicago. Kota ini juga menjadi tempat lahirnya Dewan Pemimpin Agama Metropolitan Chicago (CRLMC) yang didirikan oleh Kardinal Joseph Bernardin, sebuah forum di mana para pemimpin dari berbagai tradisi agama duduk bersama untuk mengatasi masalah-masalah kota. Ini adalah “tanah spiritual” yang membentuknya.

Akhirnya, Pertanyaan Itu: Cubs di Sisi Utara atau White Sox di Sisi Selatan?

Nah, sekarang kita kembali ke pertanyaan krusial yang menggantung di udara. Di Chicago, garis pemisah antara penggemar Cubs dan White Sox sering kali lebih tegas daripada batas geografis Utara dan Selatan kota itu sendiri. Ini bukan sekadar memilih tim; ini memilih identitas, sejarah, dan narasi.

Tentu, mari kita elaborasi lebih jauh mengenai kemungkinan ini, merenungkan bagaimana tumbuh besar di salah satu sisi kota Chicago bisa membentuk preferensi bisbol — dan mungkin, secara halus, pandangan dunia — seorang Paus Leo XIV.

Seandainya hati Paus Leo XIV muda terpaut pada Chicago Cubs, maka kita bisa membayangkan beliau tumbuh dalam aura magis yang melingkupi Wrigley Field. Stadion ini bukan sekadar arena olahraga; ia adalah sebuah kuil bisbol, sebuah monumen bersejarah yang dijuluki “The Friendly Confines.” Dinding bata yang diselimuti tanaman ivy hijau merambat, papan skor manual yang masih dioperasikan dengan tangan, serta suasana yang seolah membawa kita kembali ke era keemasan bisbol — semua ini menciptakan sebuah romantisme yang sulit ditolak.

Baca juga:

Mungkin, saat masih kanak-kanak atau remaja, beliau pernah merasakan sensasi berjalan melewati gerbang Wrigley, mencium aroma popcorn dan hotdog yang khas, dan mendengar gemuruh sorak-sorai penonton yang begitu dekat dengan lapangan. Ada semacam keintiman di Wrigley yang membuat para penggemar merasa menjadi bagian tak terpisahkan dari permainan itu sendiri. Pengalaman ini bisa jadi menanamkan dalam dirinya penghargaan mendalam terhadap tradisi, sejarah, dan keindahan yang tak lekang oleh waktu, nilai-nilai yang tentunya juga sangat kental dalam Gereja yang kelak akan dipimpinnya.

Lebih dari itu, menjadi penggemar Cubs, setidaknya hingga beberapa tahun sebelum akhirnya mereka meraih gelar juara dunia pada tahun 2016, adalah sebuah ujian “iman” yang sesungguhnya. Selama lebih dari satu abad, para penggemar Cubs hidup dalam penantian, harapan yang tak kunjung padam meski kekecewaan datang silih berganti. Mereka dijuluki “pecundang yang dicintai” (lovable losers), namun loyalitas mereka tak pernah goyah.

Ini bukan sekadar fanatisme buta; ini adalah sebuah bentuk kesetiaan yang menyerupai devosi spiritual — percaya pada sesuatu yang lebih besar, berharap akan datangnya penebusan, dan menemukan kebersamaan dalam penderitaan yang sama. Ada semacam teologi kesabaran, ketekunan, dan harapan abadi yang mendarah daging dalam diri seorang Cubs fan. Mungkin Paus Leo XIV merasakan langsung bagaimana sebuah komunitas mampu bersatu dalam kerinduan kolektif ini, bagaimana harapan, meski tipis, terus dipelihara dari generasi ke generasi. Kemenangan Cubs pada tahun 2016 bukan hanya kemenangan olahraga; itu adalah momen katarsis, sebuah bukti bahwa penantian panjang dan iman yang teguh pada akhirnya akan membuahkan hasil.

Pengalaman menyaksikan atau bahkan menjadi bagian dari fenomena budaya ini bisa jadi telah mengajarkannya tentang kekuatan harapan dan pentingnya komunitas dalam menghadapi kesulitan. Beliau mungkin juga sangat menghargai atmosfer kekeluargaan yang begitu kental di Wrigleyville, lingkungan di sekitar stadion, di mana orang-orang dari berbagai latar belakang berkumpul, bersatu dalam kecintaan mereka pada tim, merayakan kemenangan bersama, dan saling menguatkan saat kalah. Ini adalah cerminan dari komunitas paroki yang ideal, tempat di mana setiap individu merasa diterima dan menjadi bagian dari keluarga yang lebih besar.

Namun, bagaimana jika takdir bisbol Paus Leo XIV membawanya ke sisi lain kota, ke South Side, sebagai seorang penggemar Chicago White Sox? Maka, narasi yang terbentuk akan sedikit berbeda, namun tak kalah menariknya.

Jika beliau adalah seorang Sox fan, mungkin sejak usia muda beliau sudah terhubung dengan etos kerja keras, ketangguhan, dan semangat “tanpa basa-basi” yang sering kali menjadi ciri khas South Side. Ini adalah bagian kota yang dikenal dengan industrinya, dengan komunitas-komunitas yang dibangun di atas pundak para pekerja keras. Menjadi penggemar White Sox seringkali berarti merangkul identitas yang lebih membumi, lebih pragmatis, dan mungkin sedikit lebih “garang”.

Mungkin beliau mengagumi semangat juang dan kegigihan tim White Sox, sebuah tim yang juga merasakan pahitnya penantian gelar juara selama 88 tahun sebelum akhirnya memecahkannya dengan penuh gaya pada tahun 2005. Kemenangan White Sox pada tahun itu bukanlah sebuah dongeng romantis seperti Cubs; itu adalah demonstrasi kekuatan, keterampilan, dan determinasi yang tak terbantahkan. Ada aura efisiensi dan ketegasan dalam cara mereka bermain, sebuah cerminan dari karakter South Side itu sendiri.

Menjadi penggemar White Sox juga seringkali berarti menjadi bagian dari sebuah komunitas yang bangga akan identitasnya yang berbeda, yang mungkin tidak selalu mendapatkan sorotan sebanyak tetangganya di North Side, namun memiliki rasa percaya diri dan loyalitas yang tak kalah kuat. Ada semacam kebanggaan tersendiri dalam mendukung tim yang mungkin dianggap sebagai underdog dalam persaingan antar-kota. Ini bisa menumbuhkan rasa solidaritas yang kuat dan apresiasi terhadap mereka yang berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan.

Jika Paus Leo XIV adalah seorang Sox fan, beliau mungkin belajar tentang pentingnya ketahanan, tentang bagaimana menghadapi tantangan secara langsung, dan tentang kebanggaan yang muncul dari kerja keras dan pencapaian yang diraih dengan susah payah. Suasana di Guaranteed Rate Field (atau Comiskey Park yang lama) mungkin berbeda dengan Wrigley, namun semangat para penggemarnya sama membara. Mereka adalah representasi dari komunitas yang kuat, yang tidak mudah menyerah, dan yang tahu bagaimana merayakan kesuksesan dengan penuh semangat. Pengalaman ini bisa membentuk dalam dirinya pemahaman mendalam tentang martabat kerja, nilai dari ketekunan, dan kekuatan komunitas yang bersatu dalam menghadapi kesulitan maupun merayakan kemenangan.

Pada akhirnya, apakah beliau tumbuh dengan gemuruh “Go, Cubs, Go” di Wrigley Field atau sorak-sorai kemenangan di South Side, kedua pengalaman tersebut akan menawarkan pelajaran hidup yang berharga tentang loyalitas, harapan, komunitas, dan ketahanan — nilai-nilai yang akan sangat berguna bagi seorang pemimpin spiritual di panggung dunia.

Memilih tim di Chicago bisa jadi seperti memilih paroki — sebuah loyalitas yang diwariskan turun-temurun, sebuah komitmen yang membawa sukacita bersama saat menang dan penderitaan kolektif saat kalah. Setiap stadion adalah katedralnya masing-masing, setiap pertandingan adalah ritualnya. Apakah Paus Leo XIV muda sering terlihat di tribun Wringley atau sering berkelana di South Side? Hanya beliau dan Tuhan yang tahu (untuk saat ini).

Melampaui Bisbol: Seorang Gembala untuk Semua

Tentu saja, semua spekulasi tentang preferensi bisbol ini kita sampaikan dengan senyum dan rasa hormat. Pada akhirnya, apakah beliau seorang Cubbie atau Soxider sejati tidaklah sepenting peran agung yang kini diembannya. Namun, satu hal yang pasti: latar belakang Chicago beliau adalah aset yang tak ternilai.

Pengalaman hidup di kota yang begitu beragam, yang telah melalui berbagai tantangan sosial namun tetap menunjukkan resiliensi dan kemampuan untuk berkolaborasi, akan menjadi bekal berharga bagi Paus Leo XIV dalam memimpin Gereja Katolik global.

Chicago, dengan segala kompleksitasnya, adalah mikrokosmos dari dunia yang kini beliau layani — dunia yang penuh dengan suara-suara berbeda, perjuangan yang beragam, tetapi juga harapan yang tak pernah padam.

Beliau tahu rasanya hidup di tengah perbedaan, pentingnya membangun jembatan, dan kekuatan iman yang mampu menggerakkan hati untuk berbuat kebaikan. Ibarat seorang konduktor ulung yang mampu menyatukan berbagai alat musik dalam sebuah orkestra menjadi simfoni yang indah, Paus Leo XIV, dengan “telinga Chicago”-nya yang peka terhadap harmoni di tengah keragaman, siap memimpin Gereja.

Selamat datang, Paus Leo XIV! Doa kami menyertai Anda dalam perjalanan baru ini. Semoga kepemimpinan Anda membawa damai, kasih, dan harapan bagi seluruh dunia.

Dan, Yang Mulia… jika suatu saat Anda memiliki waktu luang dan ingin berbagi sedikit tentang tim bisbol favorit Anda, kami di Chicago akan sangat senang mendengarnya! (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Antonius Harya Febru Widodo
Antonius Harya Febru Widodo Menganalisis budaya pop dengan riset mendalam, tapi tetap dengan sentuhan seni yang menawan! Selalu penasaran dan terus berevolusi untuk kalian semua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email