Mungkin saat pertama kali tayang 1999 lalu, anime One Piece, hanya dianggap sebagai hiburan semata. Tak ada yang pernah membayangkan, jika bendera Jolly Roger —Lambang bajak laut Topi Jerami — akan berkibar di tengah-tengah demonstran. Di Indonesia, saat aksi demonstrasi besar-besaran beberapa waktu lalu, Jolly Roger berkibar dengan gagah. Di Nepal, Generasi Z yang marah pada pemerintah yang korup, menggunakan bendera yang sama. Lalu di Prancis, saat demo soal reformasi pensiun, ada orang berdemonstrasi dengan membawa bendera yang sama. Fenomena ini bukan kebetulan. Inilah yang disebut sebagai magis media.
Anime One Piece awalnya hanya cerita tentang bajak laut yang mencari kebebasan. Tapi lewat cerita itu, kita belajar banyak: tentang melawan ketidakadilan, tentang loyalitas bersama teman, dan tentang keberanian melawan penguasa. Cerita ini pelan-pelan jadi bagian dari imajinasi kolektif kita. Jolly Roger kemudian dijadikan simbol perlawanan.
Media berperan besar dalam menentukan cara kita melihat dunia. Maxwell dalam teori Agenda menjelaskan, media tidak selalu memberi tahu kita apa yang harus kita pikirkan, tapi memberi tahu kita apa yang penting untuk dipikirkan. Dalam kasus bendera Luffy, liputan media dan viralnya foto-foto demo membuat simbol ini menempati “agenda publik”. Akhirnya, bendera ini bukan cuma ikon pop culture, tapi jadi ikon perlawanan yang diakui bersama—dari Indonesia sampai Prancis.
Baca juga:
Agenda setting rupanya hari ini tidak hanya di monopoli media mainstream. Malah tampaknya media sosial memberi pengaruh yang cukup besar. Generasi Z sangat aktif di media sosial. Baik TikTok, Instagram dan X. Saat mereka memposting bendera Luffy di jalanan, sebenarnya mereka sedang membuat agenda sendiri. Mereka mengajak orang lain untuk peduli sekaligus menerima simbol tersebut sebagai simbol perlawanan. Postingan mereka menjadi viral, dan di era digital saat ini, yang viral akan menjadi yang penting.
Akhirnya, bendera Jolly Roger tidak hanya menjadi bendera para fans anime One Piece. Tapi menjadi simbol perlawanan bersama. Indonesia, Nepal, dan Prancis —meskipun memiliki masalah yang berbeda-beda — merasa bendera Jolly Roger sebagai simbol yang sama. Ketika melihat bendera ini, mereka merasa berada dalam satu perjuangan. Di sinilah letak kemagisan media yang harus kita sadari.
Bukti lainnya bisa kita lihat pada demonstrasi di Pati, serta seruan demo pada 25 Agustus lalu. Mungkin kita menilai postingan-postingan yang berisi ajakan tadi hanya sebatas seruan iseng. Namun siapa sangka, seruan tersebut kemudian malah menjadi gerakan besar dan menjalar ke berbagai daerah. Sebelumnya tak pernah ada seruan media yang memiliki dampak sebesar ini. Namun kali ini, kita patut sadari, bahwa gerakan kita dari Agustus lalu, berawal dari postingan-postingan yanh viral di media. Kemudian berhasil menggerakkan massa yang besar.
Tak cukup di Indonesia, lagi-lagi melalui media, gerakan kita menular ke Nepal lalu di susul Prancis. Bahkan di Nepal, mereka sampai berhasil menggulingkan rezim. Tapi fakta yang lebih mencengangkan, Sushila Karki, mantan hakim agung Nepal, ditunjuk oleh warga menjadi penyelenggara negara sementara melalui pemilihan di aplikasi Discord. Ini adalah pemilihan digital pertama yang dimenangkan masyarakat sipil. Sekaligus ini menunjukkan kalau ruang publik yang diharapkan Habermas dalam teori komunikasinya, telah terjadi di media sosial.
Namun, magis media juga membawa resiko. Simbol ini bebas dipakai siapa saja, termasuk orang dengan agenda tersembunyi. Ketika bendera Jolly Roger menjadi simbol perlawanan, semua orang memiliki akses untuk menggunakannya dalam rangka memanipulasi publik. Inilah yang Dalam teori komunikasi, dikenal sebagai fenomena hijacking symbol — simbol yang awalnya punya makna murni, diambil alih dan dipakai untuk kepentingan tertentu.
Baca juga:
Kita tidak bisa menutup mata, terhadap potensi flash flag atau cipta kondisi. Bendera Jolly Roger telah diterima sebagai simbol perlawanan. Akan ada resiko pihak tertentu menjadikan simbol ini untuk memancing kerusuhan, agar gerakan yang awalnya terlihat murni dan baik, menjadi terkesan negatif dalam persepsi masyarakat. Contoh paling sederhana adalah saat demo tiba-tiba rusuh, lalu media memotret bendera Jolly Roger yang berkibar, dan framing-nya menjadi “pendukung kekacauan.”
Tantangan selanjutnya justru datang dari kelebihan media sendiri. Media hari ini berlangsung sangat cepat. Transfer informasi antar negara terjadi hanya dalam kedipan mata. Tak menutup kemungkinan, akan adanya miskomunikasi. Gerakan yang di tempat tertentu dianggap heroik, bisa dimaknai negatif di tempat yang berbeda. Kemunculan beragam tafsir pada satu simbol yang sama tentu tidak bisa dinafikan.
Inilah yang harus kita sadari. Sehingga generasi muda hari ini, perlu untuk menguatkan literasi digital. Kita harus mampu membedakan mana simbol yang murni perlawanan dengan simbol yang sebatas alat propaganda. Kemampuan literasi digital harus kita kuasai, agar tidak menjadi bidak dalam agenda besar orang-orang yang hanya mencari keuntungan. Jangan sampai magis media yang kita puji, menjadi bumerang yang akan merugikan kita. (*)
Editor: Kukuh Basuki
