Surat-surat ini menumpuk begitu saja, aku lelah mengatakan ini berkali-kali, tapi serius, kamu memang seharusnya sudah lama mati. Sekarang kamu hanya menghantui, terutama aku, yang pernah melihatmu merah berkali-kali. Dasar merepotkan. Kalau mau mati, matilah dengan sederhana saja sewajarnya manusia pesakitan. Kamu tidak perlu memamerkannya berkali-kali seolah kamu adalah orang paling pesakitan. Semua orang di dunia ini juga tidak memerlukan kesombonganmu ini, toh mereka punya kerja sepuluh jam yang harus diisi.
Aku mengenalmu, seperti halnya aku mengenal dagingku sendiri di balik sela-sela racau ketidaksadaranku. Biru dan merah, bagai mata air merah darah, begitu kata pria dari kepolisian itu ketika bertamu di kamarku yang hanya sepetak dan bau anggur oplos murahan sejak kematianmu. Daging dan darah itu ditemukan, berpilin berkelindan dengan wajah yang tak dikenal. Kubilang aku mengerti dan selanjutnya hanya terdiam seolah tak mengenal sosokmu.
Tapi tentu aku mengenalmu. Aku mengenalmu sejak pertama kita bertemu bahwa kita sepasang pesakitan. Aku mengenal rencana-rencana besarmu yang ingin mati, lalu membantumu mewujudkannya. Satu per satu, sampai kamu mati sekarang sesuai keinginanmu (dan keinginanku).
Memang dasar manusia dramatis. Bahkan dalam kematianmu, kamu tetap saja berpesta. Meninggalkanku yang kesulitan membuka mata.
***
Halo, Mama.
Dulu kamu selalu mengharapkan aku ke mana-mana membawa antihistamin di saku tas sebab mungkin saja aku tanpa sengaja memakan ikan atau meminum soda. Lebih parahnya, aku bisa mati segera bahkan dengan sedikit saja selai kacang dari roti yang kamu suka. Ingatanmu mungkin bergulir pada keseharian di masa kecilku yang membebanimu. Sebab suamimu tak dapat diandalkan, jadi kamu mengandalkan aku yang masih sangat kecil untuk mendengar tiap keluhan soal aku dan kakak perempuan. Mungkin dari situlah aku mengenal berbagai macam obat, dari alprazolam hingga yang menyenangkan sekalian seperti mirtazapine. Ini salahmu. Kamu yang mengenalkanku pada antihistamin dan membuatku kecanduan pada rasa sakit dan desir darah yang ingin terhenti.
Mama, bagaimana soal kamu dan kegilaanmu itu? Dua tahun sejak kelulusanku, aku masih menghindari telepon darimu. Ada beberapa alasan, tapi hampir semuanya kurang menyenangkan. Delapan belas tahun yang kusadari, kamu selalu memetakanku pada hal-hal yang tidak pernah aku suka, termasuk badanku yang aku lukai. Jadi, biarkanlah sejenak aku menghindarimu, Ma. Di sini, aku kerap kali menulis tentang siapa saja, kecuali kamu dan kemarahan-kemarahanku yang menggunung untukmu. Mereka tak pernah luruh, kubiarkan sampai suatu saat hanya tergilas waktu selagi aku mencari cara untuk mati dengan cepat. Untuk sekarang, peduli setan pada telfonmu yang tidak pernah kujawab. Sekarang aku jauh darimu, dengan sejuta marah yang aku pilih secara sepihak seolah itu yang terbaik untukku.
Di sini pun aku jatuh cinta lagi. Dan aku yakin, dari dulu, apa pun yang memberiku cinta, kamu tak hendak peduli. Terkhusus setelah kamu mencoba mengetahui segala tentangku, bahwa memang benar semua dugaan terburukmu itu telah menjadikanku pilu.
Mama, meski kita akan selalu begini, biarkanlah aku bercerita satu per satu sebelum hari kematian yang telah kupilih. Bukan agar kamu membaca semua ini. Hanya agar aku tidak mati dengan kutukan yang terlahir dari rasa benci.
***
“Kamu mau pergi ke pematang di dekat sana? Mungkin kita akan mendapatkan pemandangan yang lebih baik. Setidaknya di sana kamu bisa melihat landscape yang lebih luas. Aku tak mengerti soal arsitektur sepertimu, tapi aku jamin bagus.”
“Boleh.”
Kamu mengangguk, mengulum senyum setelah jawaban seadanya dariku yang mungkin terkesan ambigu. Aku tak berbicara apa-apa lagi, toh dari dulu aku selalu begitu. Biasanya aku akan menghilang begitu saja di tengah kerumunan pekerjaan dan urusan-urusan bersama banyak orang. Namun, ternyata kamu begitu lain sehingga tanpa sadar aku pun menanggapi pembicaraanmu.
Tapi Bali memang begitu lain. Setidaknya aku dan kamu bertemu di sini, bekerja bersama, dalam satu logika konyol tentang nilai-nilai kehidupan yang memang mengagumkan (tapi aku susah mengamininya). Kamu sibuk dengan urusanmu, aku memandangmu dari jauh. Ah, sial, aku tahu pada momen seperti apa aku seringnya jatuh cinta dan ingin mati. Untuk sekarang, aku terserang kombinasi dari keduanya yang selalu bikin pelik.
“Ada tiga alasan hidup manusia, salah satunya adalah air. Di sini terkenal sekali dengan persoalan ini, sejak abad delapan. Kami sudah punya sistem sendiri. Ada tiga lapis di sini; sawah, pekaseh, dan warga. Bayangkan, ini tentu bukti bahwa bangsa kita tidak udik sama sekali.”
Kamu menjelaskan tanpa berpikir aku bodoh atau tidak, sembari menebas beberapa helai padi yang mulai merunduk dan menghalangi jalan. Aku bingung hendak membalas apa, tapi kunang-kunang di sore hari ini sangat mengaburkan pandanganku dari rambutmu yang legam. Berlatarkan langit senja, aku makin terasa ingin menciumi angin lalu yang telah membuat legam rambutmu bergerak lembut.
Percakapan ini adalah permulaan dari kisah-kisah sedih yang tidak berhenti. Kita bertemu ketika kamu masih menguncir rambut bagian belakangmu yang aku puja. Aku masih ingat, tanganku ingin sekali membelainya. Aku tak menurutinya, sebab kamu nampak begitu rapuh dan mungkin akan hancur jika disentuh barang sejenak. Aku terdiam, teringat betapa menyedihkan kisah ini berawal dan aku yakin hanya akan berakhir di dua hal, aku di tiang gantungan, atau aku overdosis obat-obatan.
Nyatanya, tempat ini memang menyenangkan meski ironis. Aku tetap tak mengangkat telfon Mama, akan aku ceritakan nanti kepadanya dari surat-suratku yang tak pernah sampai. Mama mungkin hendak bercerita bahwa Papa sudah tidak lagi pulang, atau Papa berselingkuh, atau ada anak haram lain dari Papa yang sebelumnya tak pernah berkunjung sekalipun (dan betapa papamu seorang bajingan, begitu pasti verbatim omongannya). Aku tidak tahu hendak menjawab apa, jadi kubiarkan dering ponselku terus menyapa.
Beberapa bulan setelahnya, aku ingat sekali, saat itu, halte dekat kos kita sudah mulai dipayungi. Itu artinya kita akan punya lebih banyak waktu untuk saling bersandar kelelahan selepas bekerja. Selama ini, payung kecilku kujadikan alasan untuk membuatmu bersandar, tapi kurasa ia mulai rusak. Itu salahku, aku beli payung yang hanya tiga puluhan. Kamu mengatakan, “Seriusan. Belilah yang baru. Kenapa tiap aku hendak beli kamu selalu menolak?”. Lalu aku tak bisa menyatakan bahwa aku hanya ingin memayungimu, bukan memayungi halte, bukan memayungi dunia. Aku ingin memayungimu dan rambut legammu. Jika dia kebasahan, mungkin aku tak akan sanggup menahan tanganku untuk membelainya.
Saat halte itu mulai dipayungi, dan aku mulai tidak memayungi, yang aku syukuri sekaligus tangisi, ternyata kamu tidak berhenti bersandar.
***
Sepertinya ia telah terbiasa merenung sendiri. Ada kebiasaan-kebiasaan dalam dirinya yang sulit untuk dituntaskan, misalnya saat dia membersihkan rumah. Temannya akan mendatanginya sebentar lagi, biasanya alprazolam sudah tidak membantu maka ia mengeluarkan obat yang lebih keras. Peduli amat dengan dokter, ia tidak mau ada mayat di kamarnya untuk saat ini. Hubungan mereka bagai kedua gagak yang saling mengenal. Yang satunya akan memanggil-manggil jika yang satunya sedang pesakitan.
Dengan segala cara, ia segera mengepel lantai kamarnya kuat-kuat. Bau alkohol menguar dan untuk sesaat ia merasa ingin membeli pistol rakitan. Dengan bubuk mesiu yang akan diletuskan, mungkin bau kamarnya ini akan menghilang. Bersamaan dengan mayat temannya yang ingin sekali ia tembak sampai mati.
Ia juga tidak begitu mengerti soal kebencian. Tapi benci adalah bagaimana cara temannya menuliskan surat-surat kepada ibu yang dihindari. Atau benci adalah bagaimana cara dirinya menikmati ketika orang-orang jatuh cinta kepayahan kepadanya. Dan akan selalu begitu. Maka temannya datang, mengetuk pintu, lalu ia biarkan masuk dengan darah yang berceceran.
“Kamu pengin mati lagi?”
“Kan memang selalu ingin mati?”
“Dasar tukang pesta.” Ia menghela napas, menertawakan darah yang mengalir di lengan temannya. Sungguh, dasar pujangga cinta. Temannya hendak mati sebab ia tak membalas cintanya. Tapi itu perkara lain. Sebab bukan itu karakternya. Karakter yang dituliskan penulis untuk dia bukanlah seorang berengsek, melainkan, lagi-lagi, seorang pesakitan. “Ada berapa sayatan kali ini? Aku malas menghitung.”
“Dua belas.”
“Angka yang bagus untuk mencoba mati.”
Ia menyelipkan batang rokok di sela-sela bibirnya, menjentikkan bibir sebab ada sedikit abu yang menempel. “Kalau kamu mau mati, aku bisa menuliskan kisah yang cukup bagus. Cuma perlu modal sedikit, tidak perlu merepoti orang. Mungkin kamu hanya akan merepotkan hiu yang nantinya akan memakan lengan penuh sayatanmu itu.”
“Kamu ingin aku menenggelamkan diriku di lautan?”
Ia menggeleng keras, seakan-akan hendak melepaskan ide tolol yang baru saja menguar dari temannya si sesama pesakitan. “Aku ingin kamu berpesta. Sebab kamu selalu merah. Sekali-kali cobalah biru laut dan rasakan dingin alih-alih marah.”
Mereka menghabiskan dua jam terakhir hanya untuk terduduk, berdua, dengan dua handuk putih penuh darah dari lengan si teman yang pesakitan. Ia menghabiskan setengah bungkus rokok, meleburkan abu-abu sembari minum alkohol yang beradu dengan bau bubuk mesiu di kepalanya. Sepertinya pistol rakitan itu tidak diperlukan, sebab akan ada hiu kelaparan yang akan mengeluh kerepotan.
***
Jadi, tentu sudah jelas aku mengenalmu.
Polisi mungkin akan mengira bahwa aku yang membunuhmu, aku bisa dengan tenang mengatakan tidak. Surat-surat di lacimu yang tak tersampaikan pada ibumu itu cukup untuk menfasirkan bahwa kamu memang gila. Kamu menaruh tanggal kematianmu sendiri setelah seharian menonton Brokeback Mountain tiga belas kali. Tidak mungkin kamu menyewa DVD, jadi fakta bahwa kamu melakukannya kali ini tentu untuk merayakan pestamu yang terakhir kali.
Kamu pasti sudah menempuh jalan yang panjang. Bebatuan dengan kerikil yang bikin lecet telapak kaki itu tentu membuatmu makin senang. Dari mili ke mili, kamu makin mengerti bahwa ajal memang harus dijemput untuk dibawa pulang. Dengan kain yang membebat di pinggangmu, juga kemeja putih polos pemberian mamamu, kamu telah menantikan momen panjang kematianmu. Berpuluh kilometer kamu tempuh hanya untuk mengarungi biru yang telah membuatmu bosan pada merah. Sebab aku yang menyuruhmu demikian, sebab aku adalah cerita panjang tanpa jawaban yang tak berkesudahan. Setelah melewati hutan penuh ranting yang tajam-tajam, kamu yakin tak seorang pun akan menemukanmu di sini, jadi kamu lipat bajumu. Kamu bentangkan telanjangnya tubuhmu di atas pasir hangat yang menyilaukan mata. Tak mungkin ada manusia. Tak mungkin juga ada ajak yang akan memungut mayatmu dari air untuk kembali dibawa ke darat untuk dipotong-potong dengan taringnya.
Tapi nyatanya, kamu tidak mengikuti apa yang aku mau. Kamu tak benar-benar meninggalkan merah yang kubenci sebab kematianmu penuh darah dari kaki lecetmu, beradu dengan biru dari laut yang memelukmu. Kamu kibarkan senyummu sekali lagi, kamu telah membuktikan cintamu, juga kesombonganmu. Tentu semua ini ada di catatanku maka polisi menanyakannya sampai mampus meski telah kubilang bahwa aku tidak membunuhmu.
Siapa yang sanggup membunuh seseorang yang sedang bahagia, bersolek untuk datang berpesta?
Dasar penyakitan. Sampai mati pun, pestamu benar-benar menyebalkan.
*****
Editor: Moch Aldy MA
