sebermula
kesedihan cuma setetes air di lautan
jadi titik-titik hujan
badai & banjir bandang kemudian
dari air kembali ke air
dari tanah kembali ke tanah
ke mana kesedihan dipulangkan
ke langit yang berdinding kelam &
pertanyaan mesti bersiap pada
jawaban yang tak dikehendaki
kemudian ia tugur di hadapan api
menanti apa yang sia-sia dari abu
yang ia temukan pada kota & arloji
pada harapan & janji
ia menunggu & selalu menunggu
ketika api melahap semua—
apa yang masih tersisa
–
nyala namamu
gugup jantung yang gagal sembunyi
lengan yang kukenakan
menekan-nekan dada
barangkali jari-jari butuh pelumas
dari gesekan yang pernah bikin celaka
jatuhkan saja basah ciuman itu
atau pelukan sementara
sementara
disfungsi milik tubuh
industri besi & baja
cuma bisa melunak air mata
ragu neraca yang bertanya
biaya untuk percaya
adakah manusia
yang merasa saling mencintai
dalam masa seluruh usia
tetapi jangan bertanya padaku apa itu cinta
sebab tak ada yang kuketahui selain namanya
maka biarkan sejenak ia bernyanyi
dalam tubuh sunyi ini
sekali lagi, layla
dengarlah kembali
nyala namamu, namamu
kelak, bakar aku di perapianmu
sebagai unggun api
di tengah kebun milikmu
–
sore terjebak hujan kemacetan
melapisi ubin dengan hujan
menggulung celana di atas lutut
meluncur dari dinding ke dinding
hati-hati kepala terbentur
tangan & kaki menahan
anak-anak tergelincir & tertawa
selebrasi pemain bola mencetak angka
perih-lecet belum dirasa—menjulur
nyeri dari ulu ke ubun-ubun orang dewasa
–
menunggu pintu terbuka
—memutar lagu citra biru, vina panduwinata
di langit-langit
mengendap hampa
ada di dalam kepala
sepetak dinding samar
kamar bercat biru
lanskap peta bercak pilu
hari-hari yang lalu
sandarkan pertanyaan
kunci yang ditanggalkan
di daun pintu
membuka jalan kembali
manghapus jarak—
jejak ingatan ke ingatan
& harapan menjadi dekat
mendekatkan khayalan
pada pijakan;
jawaban –sadarkan kenyataan
–
bulan kekalahan
kupikir ini kali terakhir
berharap pada yang tak kutemu
pada ia yang jauh, tetapi
kudengar layla akan kembali
akankah layla kembali, sedang
ini kaca jendela masih melingkar sepi
& bayang wajah yang sedikit gembira
banyak celaka, bertugur malu
& masih kusembunyikan kupunya wajah
ah, masihkah, ia yang kukenal semekar dahulu
bukan kuncup yang terkulai di tangan
ialah kembang cahaya mengitari langit malam
& masih kubayangkan ia punya wajah
bulan, di sanalah aku bertahan
di sanalah aku bertahan….
mengingkari kekalahan
–
sendiri sendiri
—setelah film 5 cm per second
aku berjalan lebih lambat dari 5 cm per detik
langkah tidak beranjak ke mana-mana
tujuan tidak tahu di mana
kereta bergerak tetapi aku tetap diam
jendela bergetar, kota bergeser
segala mengabur
tidak bisa tidak
di luar atau di dalam
orang-orang diam
trem sedingin aku
gigil & kaku
keringat di kaca
barangkali embun
mendidih tergesa
ada yang ingin segera digapai
tetapi tak hampir-menghampiri
jari-jari rasa beku
barangkali waktu
tidak bisa tidak
ada ngilu
aku di dalamnya
bagaimanapun juga oh bagaimanapun juga
kata-kata memang saling diam &
menerka perasaan yang memang hanya
tenggelam dalam
sendiri sendiri
*****
Editor: Moch Aldy MA
