Sebermula dan Puisi Lainnya

ilal mamduh

1 min read

sebermula

kesedihan cuma setetes air di lautan
jadi titik-titik hujan
badai & banjir bandang kemudian

           dari air kembali ke air
           dari tanah kembali ke tanah

ke mana kesedihan dipulangkan
ke langit yang berdinding kelam &
pertanyaan mesti bersiap pada
jawaban yang tak dikehendaki

kemudian ia tugur di hadapan api
menanti apa yang sia-sia dari abu
yang ia temukan pada kota & arloji
pada harapan & janji

ia menunggu & selalu menunggu
ketika api melahap semua—
apa yang masih tersisa

nyala namamu

gugup jantung yang gagal sembunyi
lengan yang kukenakan
menekan-nekan dada

barangkali jari-jari butuh pelumas
dari gesekan yang pernah bikin celaka

jatuhkan saja basah ciuman itu
atau pelukan sementara
sementara
disfungsi milik tubuh
industri besi & baja
cuma bisa melunak air mata

ragu neraca yang bertanya
biaya untuk percaya

adakah manusia
yang merasa saling mencintai
dalam masa seluruh usia

tetapi jangan bertanya padaku apa itu cinta
sebab tak ada yang kuketahui selain namanya

maka biarkan sejenak ia bernyanyi
dalam tubuh sunyi ini
sekali lagi, layla

dengarlah kembali
nyala namamu, namamu
kelak, bakar aku di perapianmu
sebagai unggun api
di tengah kebun milikmu

sore terjebak hujan kemacetan

melapisi ubin dengan hujan
menggulung celana di atas lutut
meluncur dari dinding ke dinding

hati-hati kepala terbentur
tangan & kaki menahan

anak-anak tergelincir & tertawa
selebrasi pemain bola mencetak angka

perih-lecet belum dirasa—menjulur
nyeri dari ulu ke ubun-ubun orang dewasa

menunggu pintu terbuka
—memutar lagu citra biru, vina panduwinata

di langit-langit
mengendap hampa
ada di dalam kepala
sepetak dinding samar
kamar bercat biru
lanskap peta bercak pilu
hari-hari yang lalu

sandarkan pertanyaan
kunci yang ditanggalkan
di daun pintu
membuka jalan kembali
manghapus jarak—
jejak ingatan ke ingatan
& harapan menjadi dekat
mendekatkan khayalan
pada pijakan;

jawaban –sadarkan kenyataan


 
bulan kekalahan

kupikir ini kali terakhir
berharap pada yang tak kutemu
pada ia yang jauh, tetapi
kudengar layla akan kembali

akankah layla kembali, sedang

ini kaca jendela masih melingkar sepi
& bayang wajah yang sedikit gembira
banyak celaka, bertugur malu

& masih kusembunyikan kupunya wajah

ah, masihkah, ia yang kukenal semekar dahulu
bukan kuncup yang terkulai di tangan
ialah kembang cahaya mengitari langit malam

& masih kubayangkan ia punya wajah
bulan, di sanalah aku bertahan
di sanalah aku bertahan….

mengingkari kekalahan

sendiri sendiri
—setelah film 5 cm per second

aku berjalan lebih lambat dari 5 cm per detik
langkah tidak beranjak ke mana-mana
tujuan tidak tahu di mana

kereta bergerak tetapi aku tetap diam
jendela bergetar, kota bergeser
segala mengabur

tidak bisa tidak
di luar atau di dalam
orang-orang diam

trem sedingin aku
gigil & kaku
keringat di kaca
barangkali embun
mendidih tergesa

ada yang ingin segera digapai
tetapi tak hampir-menghampiri
jari-jari rasa beku

barangkali waktu
tidak bisa tidak
ada ngilu
aku di dalamnya

bagaimanapun juga oh bagaimanapun juga

kata-kata memang saling diam &
menerka perasaan yang memang hanya
tenggelam dalam
sendiri sendiri

*****

Editor: Moch Aldy MA

ilal mamduh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email