Jika berbicara tentang nama, Pak Sutrisno tidak pernah merasa cukup. Ia selalu menambahkan huruf baru di kartu namanya setiap Selasa pagi. Minggu ini: Raden Mas Dokter Insinyur Profesor Haji Sutrisno Widjaja, S.E., M.M., Ph.D. (cand.), K.M.N.
Huruf terakhir itu dia beli dari tukang stempel di Pasar Klithikan. K.M.N. singkatan dari Kesatria Muda Nusantara, organisasi yang ia dirikan sendiri seminggu lalu di ruang tamu rumahnya. Total anggota: dua manusia, satu hewan. Dirinya sebagai Ketua Agung, istrinya sebagai Sekretaris Kehormatan, dan kucing kampung kesayangannya sebagai Maskot Abadi.
“Gelar itu kan cerminan jiwa,” katanya pada tetangganya si pedagang bakso yang kebetulan lewat. Tetangga itu cuma mengangguk sambil mendorong gerobak lebih cepat.
Pak Sutrisno dulunya lulusan SMA yang kemudian kerja di toko kelontong. Tidak muluk-muluk keinginannya. Tapi sejak sepupunya yang jadi PNS dipanggil “Bapak” oleh preman pasar, keinginan primal mulai tumbuh dari dalam dada berbulunya. Obsesi untuk atas panggilan yang tersohor. Terpuji.
Gelar pertamanya dibeli dari universitas online Pakistan seharga dua juta rupiah. Dokter Ekonomi. Hanya transfer bank dan dua minggu kemudian sertifikat tiba lewat pos dalam amplop cokelat yang sudah lusuh. Ia bingkai sertifikat itu dengan bingkai emas dan gantung di dinding ruang tamu, persis di atas foto almarhum ayahnya yang hanya sempat bersekolah sampai kelas tiga SD.
Istrinya, Bu Retno, awalnya protes. “Mas, itu kan palsu.”
“Semua gelar pada dasarnya adalah konstruksi sosial,” jawab Pak Sutrisno dengan wajah serius. Ia baru saja selesai membaca paruh pertama artikel Wikipedia tentang postmodernisme.
Gelar kedua datang dari kerabat jauh di Yogyakarta yang mengaku masih keturunan keraton. Raden Mas. Harganya lima juta, sudah termasuk silsilah keluarga yang ditulis tangan di atas kertas HVS dengan tinta bak parker. Pak Sutrisno tidak membaca silsilah itu. Yang penting ada kata “Raden” yang bisa ia tulis sebelum namanya.
“Sekarang saya punya darah biru,” katanya pada istri.
“Darah Mas juga merah kalau luka,” jawab Bu Retno sambil mengupas bawang.
Pak Sutrisno tidak menjawab. Ia sibuk memperbaiki tanda tangan digitalnya, menambahkan aksen ekstra supaya terlihat lebih aristokratis.
Setiap hari ia memaksa orang menyebut gelarnya dengan lengkap. Tukang sayur dipaksa mengulang lima kali sebelum boleh menjual kangkung. Pak RT menghindari rumahnya. Bahkan tukang pos mulai melempar surat dari luar pagar.
Suatu hari ia mendapat undangan reuni SMA. Kawan-kawannya semua sudah bergelar doktor, profesor, gus, pak supir, sampai Yang Dipertuan Agung (anak pertukaran yang ternyata pewaris salah satu kerajaan di Melayu). Pak Sutrisno tidak mau kalah.
Ia mencetak kartu nama baru, kali ini di kertas linen dengan timbul warna emas. Ia datang mengenakan jas safari dan peci haji meski belum pernah ke Mekkah. Peci itu ia beli online, sudah termasuk sertifikat haji dari biro perjalanan yang kantor pusatnya ternyata sebuah ruko terbengkalai di Bojonegoro.
“Wah, Tris sekarang sudah jadi orang penting ya!” sapa teman lamanya, Budi, yang masih kerja jadi supir.
“Raden Mas Dokter Insinyur Profesor,” koreksi Pak Sutrisno.
“Profesor apa?”
“Kehidupan.”
Budi tertawa. Namun, Pak Sutrisno tidak. Ia serius.
Di tengah acara, MC memanggilnya. “Berikutnya selamat kepada Saudara Sutrisno atas hadiah doorprize!”
Pak Sutrisno berjalan dengan gagah. Bukannya senang, mukanya manyun merengut. Ia merebut mik. “Raden Mas Dokter—” Pak Sutrisno mulai, tapi si MC merebut kembali miknya lalu mengucapkan terima kasih.
Ia duduk dengan wajah merah padam. Tangannya gemetar memegang gelas teh manis. Semua gelar yang ia kumpulkan seperti menguap begitu saja ketika orang lain lupa menyebutnya. Kalau tidak disebutkan, apakah gelar itu tetap ada? Kalau tidak ada yang mengakui, apakah ia tetap Raden Mas?
Malam itu Pak Sutrisno pulang dengan wajah pucat. Bu Retno sedang menonton berita di televisi. Upacara pemakaman kenegaraan. Jenazah seorang jenderal tua dibungkus bendera merah putih. Presiden datang berpidato. Semua orang berkabung khidmat.
“Lihat itu, Ret,” kata Pak Sutrisno pelan. “Pahlawan Nasional.”
Bu Retno menoleh. “Kenapa?”
“Itu gelar tertinggi. Gelar yang tidak bisa dibeli.”
“Terus?”
Pak Sutrisno diam lama. Matanya tak lepas dari layar. “Aku mau jadi pahlawan nasional.”
Bu Retno pikir suaminya bercanda. Tapi keesokan harinya Pak Sutrisno sudah duduk di depan laptop, membuka situs resmi Kementerian Sosial, mencari tahu prosedur pengajuan gelar pahlawan.
“Harus ada jasa luar biasa bagi bangsa,” bacanya keras-keras. “Harus ada dokumentasi lengkap. Harus diajukan oleh lembaga atau keluarga.”
Ia tutup laptop. Lalu buka lagi. Tutup. Buka.
Ia mulai menulis otobiografi sendiri. Judulnya: “Sutrisno: Kepatriotan Seorang Patriot”. Isinya campuran antara kisah hidupnya yang biasa saja dengan embel-embel heroik. Waktu SD pernah menolong teman yang terjatuh jadi “menyelamatkan nyawa kawan dari jurang maut”. Waktu SMP pernah ikut gotong royong jadi “memimpin pembangunan infrastruktur desa”. Waktu buka toko kelontong jadi “memberdayakan ekonomi rakyat kecil”.
Seratus halaman ia tulis dalam sebulan. Bu Retno yang membaca draf pertama cuma geleng-geleng kepala.
“Mas, ini semua hal biasa. Tidak ada yang spesial.”
“Semua jasa pada dasarnya adalah konstruksi historis,” jawab Pak Sutrisno. Ia baru saja selesai membaca paruh pertama artikel Wikipedia tentang historiografi.
Ia cetak otobiografinya dalam hard cover, danai lomba 17 Agustus dengan fotonya di setiap pos, buat yayasan bernama Yayasan Sutrisno Peduli Bangsa di garasi rumahnya. Setiap malam ia googling namanya sendiri, edit Wikipedia yang dihapus moderator dalam dua jam, hubungi wartawan yang tidak pernah memuat beritanya. Ia tulis surat ke Istana setiap bulan dengan jasa baru yang ia karang: “merintis pendidikan karakter” (menegur anak tetangga buang sampah sembarangan), “mempelopori gerakan kebersihan nasional” (rajin sapu halaman sendiri).
Bu Retno sudah tidak tahu harus berkata apa. Ia lihat suaminya makin kurus, makin pucat, makin tenggelam dalam delusi sendiri. Tabungan mereka menyusut. Toko kelontong mulai sepi karena Pak Sutrisno lebih sibuk mencetak plakat penghargaan untuk dirinya sendiri daripada mengurus stok barang.
Suatu Sabtu sore, Bu Retno duduk di ruang tamu dengan tas kecil di pangkuannya. Pak Sutrisno baru pulang dari fotokopi, membawa seratus lembar surat permohonan ke Istana.
“Mas,” kata Bu Retno pelan, “aku sudah tidak kuat.”
Pak Sutrisno tidak dengar. Ia sibuk menyortir amplop.
“Mas!” Bu Retno berdiri. Suaranya lebih keras. “Aku mau ke rumah adikku dulu. Beberapa minggu.”
Pak Sutrisno berhenti. Ia mendongak. “Kenapa?”
“Karena Mas sudah tidak di sini lagi.” Bu Retno memegang tas lebih erat. “Yang ada di sini cuma Raden Mas Dokter Profesor entah apa lagi. Sutrisno yang dulu, yang cuma kerja di toko kelontong dan pulang bawa gorengan buat aku, sudah hilang.”
Pak Sutrisno menatap istrinya. Untuk sesaat, ada keretakan kecil dalam topeng gelarnya. Matanya berkedip cepat. Tangannya yang memegang amplop sedikit gemetar.
“Kalau aku jadi pahlawan nasional nanti—”
“Dan kalau tidak?” Bu Retno menatap suaminya. “Kalau sampai mati Mas tidak pernah jadi pahlawan nasional, terus apa? Hidup kita habis untuk mengejar sesuatu yang tidak ada?”
Pak Sutrisno membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia melihat tas di tangan istrinya. Ia melihat pintu. Ia melihat tumpukan surat di tangannya.
Lalu ia melihat kartu nama terbarunya yang tergeletak di meja. Raden Mas Dokter Insinyur Profesor Haji Sutrisno Widjaja, S.E., M.M., Ph.D. (cand.), K.M.N., Calon Pahlawan Nasional.
“Sedikit lagi. Sedikit lagi, Aku sampai, Ret,” bisiknya.
Bu Retno menghela napas panjang. Air matanya mulai turun. “Oke, Mas. Silakan Mas pilih. Aku atau gelar-gelar itu.”
Pak Sutrisno berdiri diam. Detik-detik berlalu seperti jam. Amplop di tangannya terasa berat sekali. Tapi juga terasa seperti satu-satunya hal yang ia punya.
Bu Retno menunggu. Satu menit. Dua menit.
Pak Sutrisno hanya diam seperti patung.
“Sudah cukup jelas jawabannya,” kata Bu Retno. Ia berjalan ke pintu. Berhenti sebentar. “Mas tahu yang paling sedih? Sutrisno yang asli sebenarnya sudah cukup.
Pintu tertutup pelan. Pak Sutrisno berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang penuh dengan bukti kehampaan. Kucing mereka mendekat dan mengeong, tapi ia tidak dengar.
Ia duduk perlahan. Tas Bu Retno sudah tidak ada. Tapi amplop-amplop itu masih di tangannya, masih menunggu dicap dan dikirim.
Malam itu Pak Sutrisno tidak tidur. Ia duduk sendirian di ruang tamu. Semua sertifikat palsu masih tergantung di dinding. Foto-foto dirinya saat acara sosial dipajang rapi di rak. Surat-surat pengajuan pahlawan nasional yang tak terbalas ditumpuk di meja.
Kucing mereka melompat ke pangkuannya. Pak Sutrisno mengelus kepala kucing itu pelan.
“Kamu tahu tidak,” katanya pada kucing, “ada orang yang jadi pahlawan cuma karena berkuasa lama. Bahkan kalau masa kekuasaannya penuh masalah, tetap saja dikasih gelar itu. Lalu kenapa aku tidak bisa?”
Kucing itu cuma mengeong dan melompat turun. Bahkan kucing pun meninggalkannya.
Pak Sutrisno menatap kartu namanya yang terakhir. Semua gelar yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun tertulis rapi di sana. Ia bisa mendengar suara Bu Retno: “Sutrisno yang asli sebenarnya sudah cukup.”
Tapi cukup untuk apa? Cukup untuk dilupakan? Cukup untuk jadi orang biasa yang mati tanpa jejak?
Tidak. Ia sudah terlalu jauh untuk berhenti sekarang.
Pagi itu ia bangun lebih pagi dari biasanya. Ia pergi ke tukang stempel langganannya di Pasar Klithikan. Ia pesan stempel baru. Ukuran besar, tulisan tebal, border tegas seperti cap resmi pemerintah.
Tukang stempel itu membaca pesanan dengan kening berkerut. “Pak yakin dengan tulisan ini?”
“Yakin,” jawab Pak Sutrisno. “Ini yang paling penting.”
Ia pulang membawa stempel itu seperti membawa mahkota. Ia ambil semua kartu nama lamanya dari laci. Satu per satu ia tatap. Semua gelar yang ia beli, semua titel yang ia tambahkan, semua identitas yang ia bangun dari ketiadaan.
Dengan pulpen hitam tebal, ia coret semua gelar itu. Garis hitam menutupi Raden Mas, menutupi Dokter, menutupi Profesor, menutupi semua huruf yang pernah ia banggakan. Ia coret sampai kertas hampir robek. Ia coret sampai tangannya lelah.
Di ruang kosong yang tersisa di bagian bawah kartu, ia buka tutup stempelnya. Tintanya merah segar, masih basah. Ia tekan ke kartu nama dengan keras, dengan penuh keyakinan, dengan seluruh beratnya.
Ia angkat stempelnya dan memandangi karya terbarunya: PAHLAWAN TANPA TANDA JASA.
Tulisannya besar, merah, resmi. Persis seperti cap yang ada di sertifikat-sertifikat pemerintah. Tidak ada yang akan tahu ia membuatnya sendiri. Tidak ada yang akan tahu ini adalah gelar terakhir yang juga ia ciptakan sendiri.
Tapi gelar ini berbeda, karena tidak bisa dibantah. Bagaimana orang mau membantah sesuatu yang mengklaim dirinya “tanpa tanda”? Bagaimana orang mau mempertanyakan pahlawan yang mengaku tidak punya bukti?
Ini adalah gelar yang sempurna. Kebal dari kritik.
Pak Sutrisno tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tersenyum lebar.
Ia masukkan kartu nama barunya ke dompet. Ia ambil tumpukan kertas kosong. Ia cap satu. Cap lagi. Cap lagi. Setiap cap terasa seperti validasi. Setiap cap terasa seperti pengakuan yang tidak datang dari orang lain, tapi juga sudah cukup.
Harus cukup.
Kucing mereka melompat ke meja dan tidur di atas tumpukan kertas yang baru dicap. Tinta merah sedikit mengotori bulunya yang putih. Si kucing tidak peduli. Karena dia bermimpi tentang taman penuh manusia yang berdiri kaku seperti patung, sebuah tahi burung merpati berhinggap di kepala mereka, mengira itu mahkota.
Pak Sutrisno cap lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Hari ini hari Selasa. Tapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak menambahkan huruf baru di kartu namanya. Ia menghapus semuanya. Dan menggantinya dengan satu tanda yang mengklaim dirinya tanpa tanda.
Rumah masih kosong. Bu Retno pun belum pulang.
Tapi Pak Sutrisno punya stempel kesayangannya. Dan itu, pikirnya, sudah cukup.
Sudah harus cukup.
*****
Editor: Moch Aldy MA
