No Other Choice: Dinamika Keluarga dalam Himpitan Ekonomi

Giofanny Sasmita

2 min read

Seseorang pernah berkata kepada saya bahwa urusan ranjang dan meja makan adalah yang krusial dalam keluarga. Park Chan-wook menggambarkan ucapan tersebut dalam film thriller satirnya yang terbaru, No Other Choice. Kisahnya berputar di perubahan diri seorang pria paruh baya bernama Man-su. 

Hampir tiga dekade bekerja di satu perusahaan kertas bukan berarti status kerja Man-su aman. Ia mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak. Padahal, selama ini keluarganya termasuk kelas atas yang hidup nyaman dengan format, suami bekerja, istri main tenis, anak-anak sekolah dan les di tempat bagus serta dua anjing golden retriever yang sehat-sehat. 

Baca juga: 

Sebagai seorang kepala keluarga dan laki-laki, Man-su merasa malu tidak memiliki pekerjaan. Ia pun mencoba daftar sana-sini. Naas, usianya yang tidak lagi muda dan cara komunikasinya yang buruk membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi, Man-su pantang menyerah. Karakter yang diperankan oleh Lee Byung-hun itu memiliki tekad kuat untuk kembali ke industri kertas. 

Kapitalisme

Pada awalnya, saya bertanya-tanya, di mana letak thriller film ini? Namun, seperti film Chan-wook lainnya, ia tidak terburu-buru untuk menunjukkan perubahan karakter utamanya. Man-su harus mengalami serangkaian ‘sentakan’ kepada dirinya terlebih dahulu sebelum mencapai titik didih untuk memulai kegilaannya membunuh pesaingnya. 

Kita tahu bahwa saat ini kondisi ekonomi memang tidak sedang baik-baik saja. Mulai dari pemecatan pekerja hingga susahnya mencari kerja dengan segala persyaratan yang mendiskriminasi individu, membuat seseorang sulit untuk bisa menjadi ‘tenaga kerja produktif’. Di tengah kondisi semacam itu, manusia berjuang untuk bertahan hidup sekuat tenaga. Ada mulut yang harus dikasih makan. Ada diri yang harus dirawat. 

Bukan cuma faktor ekonomi, kita juga sedang memasuki era ketika teknologi semakin canggih, yakni kehadiran Akal Imitasi (AI). Di saat ada robot yang bekerja, tenaga manusia tidak lagi dibutuhkan amat. Jika pun masih dibutuhkan, kalau bisa pekerja manusianya tidak usah banyak-banyak untuk menghemat ongkos operasional. Dede Mulyanto dalam bukunya, Genealogi Kapitalisme (2012), menjelaskan kapitalisme mengincar nilai lebih dari para pekerjanya. Semakin lama manusia bisa bekerja, semakin bagus. Logikanya untuk konteks sekarang, dengan kehadiran AI maka pekerjaan bisa semakin mudah. Namun, apa jadinya kalau AI bisa menggantikan pekerjaan manusia seutuhnya? 

Logika kapitalisme semacam itu membingkai kisah No Other Choice. Di tahap ini lah film Korea Selatan ini semakin menggugah. Secara eksplisit, Chan-wook menunjukkan efek samping kapitalisme terhadap perilaku dan kewarasan hidup. Dengan perkembangan karakter yang teliti, kegilaan Man-su membunuh bukan digambarkan sebagai suatu ‘kesalahan’, tetapi merupakan ‘kenormalan’ untuk seseorang melakukan hal tersebut. Ya, kita bisa melihat motivasi utama Man-su. Ia rela melakukan apa saja agar bisa mengembalikan  pride lamanya. 

Mengutip Variety, Chan-wook pun menjelaskan, “Ini adalah kisah tentang keinginan kelas menengah saat ini. Walaupun mengalami kesulitan, sangat sulit bagi mereka untuk menerima penurunan kondisi hidup yang telah dipertahankan.”

Kesulitan untuk menerima ini sebetulnya bukan hanya dirasakan oleh Man-su. Kalau Man-su cenderung menolak dan melakukan hal di luar nalar, istrinya, Yoo Mi-ri (Son Ye-jin) terlihat lebih lapang dada. Satu hal yang menarik dari film-film Park Chan-wook adalah bagaimana tokoh perempuan memiliki porsi peran signifikan dan penting dalam perkembangan alur.

Baca juga:

Di sini, Yoo Mi-ri bukan hanya sebagai istri pajangan, melainkan ia juga aktif mengambil keputusan. Di saat satu rumah sedang kekurangan, Mi-ri selalu hadir dengan segala strateginya untuk mempertahankan keseimbangan. Saya pikir, cinta dari sang istri juga lah yang menambah kepercayaan diri Man-su yang tidak bagus-bagus amat. 

This is The Way

Tentu, bahkan karakter dunia fiksi pun memiliki celah. Pada satu sisi, Man-su memang tipe family man, pekerja keras, dan loyal. Namun, sisi lainnya ia merupakan seseorang yang ceroboh dan labil sampai-sampai terkesan menyedihkan. Latar belakangnya menarik simpati penonton. Akan tetapi, ketika ranjang dan meja makan sudah terancam, apakah pembunuhan adalah satu-satunya solusi? 

Saya tidak berusaha berkutat pada persoalan moralitas Man-su. Sifatnya yang polos itu membuat No Other Choice terasa komikal sekali. Dan itu diperlihatkan secara sengaja dengan berbagai accident yang terjadi. Rasanya agak mengingatkan dengan film Parasite (2019) karya Bong Joon-ho yang juga mengambil pendekatan serupa. Kayak kalau dilihat dari luar saja, mungkin orang akan berpikir, mana bisa orang seperti Man-su tega membunuh. 

Menariknya, jika kita membandingkan No Other Choice dengan film terkenal Chan-wook lainnya seperti  Decision to Leave (2022), The Handmaiden (2016) ataupun Lady Vengeance (2005), film terbarunya ini terkesan lebih mudah dicerna dari segi cerita. Selain itu, saya juga menyukai visual yang megah dengan gaya surealis. Seperti contohnya, ketika adegan Man-su berkutat sendiri, lalu lapisan tipis adegan berpindah ke istrinya, Mi-ri yang sedang tertidur. 

Bukan cuma dari sisi sifat, kelakuan Man-su saat berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak ada pilihan lain yang bisa diambil mengingatkan saya pada perkataan Mandalorian, “This is the way.” Walaupun kalau dalam konteks Mandalorian itu karena memang tradisi, sedangkan tindakan Man-su merupakan hasil desakan dalam dirinya yang menggebu-gebu. 

Baginya, tiada lagi solusi lain. Jika ingin berhasil, ia harus membuat kesempatan itu dengan tangannya sendiri. Ia ingin mengembalikan kejayaan keluarganya. Ia juga ingin ranjang dan meja makan rumah tetap hangat, walaupun semua itu harus dibayar dengan kehilangan dirinya dan berubah menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Segalanya sepadan karena ia tahu, perusahaan manapun tidak akan peduli dengan kondisinya. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki 

Giofanny Sasmita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email