“Mati kau, Bambang! Mati kau!”
Teriakan itu menyambutku sebelum aku sempat melepas sepatu. Di ruang tengah yang berbau apek campuran aroma minyak gosok dan kertas koran lama, Oma Ros, nenekku, sedang berdiri berkacak pinggang di depan televisi tabung 14 inci. Layar kaca itu menampilkan wajah Sang Presiden, Hartono, yang sedang tersenyum ramah, melambaikan tangan di tengah hujan konfeti. Namun Oma membenci senyuman itu.
Sebuah toples kaca berisi rengginang terguling di atas meja, isinya berhamburan ke lantai ubin yang dingin. Di sampingnya, gelas teh manis yang baru diminum setengah masih mengepulkan uap tipis.
“Oma, tensi,” ujarku lelah, meletakkan tas kerja di sofa. “Dokter bilang jangan terlalu sering marah-marah. Lagi pula itu cuma siaran ulang peresmian jalan tol.”
Oma berbalik. Matanya yang rabun kini menyala-nyala, lebih tajam dari silet cukur kakek. Ia tidak menggubris nasehatku. Tangannya yang gemetar karena usia—dan mungkin amarah—meraih tas tangan anyaman rotan kesayangannya. Dengan gerakan kasar yang mengejutkan untuk wanita seusianya, ia menyambar sebuah batu bata merah sisa renovasi pagar tetangga yang entah sejak kapan ada di bawah meja, membungkusnya asal-asalan dengan syal sutra batik, lalu memaksanya masuk ke dalam tas itu.
Bunyi berat batu bata beradu dengan dasar tas membuat nyaliku ciut.
“Antar Oma ke alun-alun sekarang,” perintahnya. Suaranya terdengar seperti komandan pleton. “Si Bedebah itu akan meresmikan mal baru jam dua siang. Aku harus memberinya pelajaran tentang integritas. Aku akan membunuhnya.”
“Siapa? Presiden?” Aku tertawa hambar, mengira ini lelucon demensia lainnya. “Oma, Presiden itu namanya Pak Hartono, bukan Bambang.”
“Namanya Bambang!” sergah Oma, kini sibuk mematut diri di cermin buram, memulas bibirnya dengan lipstik merah cabai yang warnanya kontras dengan kulit keriputnya. Aroma bedak padat Viva yang khas langsung memenuhi ruangan. “Hartono itu nama panggung supaya terdengar berwibawa. Aslinya dia cuma Bambang, laki-laki buaya yang tahun 1964 bersumpah setia di bawah pohon beringin, tapi sorenya tertangkap basah membonceng gadis lain naik komedi putar!”
Aku ternganga. “Jadi… Oma mau membunuh Presiden karena dia mantan Oma yang selingkuh… enam puluh tahun yang lalu?”
Oma berhenti memulas bibir. Ia menatapku lewat pantulan cermin, tatapannya dingin dan mematikan. “Bukan soal selingkuhnya, bodoh. Ini soal karakter. Kalau satu wanita saja bisa dia tipu mentah-mentah, bayangkan apa yang dia lakukan pada dua ratus juta rakyat bodoh sepertimu? Orang yang tidak jujur pada cintanya, tidak punya hak memimpin negara. Ayo berangkat. Jangan sampai batu bata ini melayang ke kepalamu dulu sebelum kena jidat licinnya.”
***
Jalanan menuju pusat kota macet total, seolah seluruh aspal meleleh di bawah matahari pukul satu siang. Panasnya menyengat, menembus kaca mobil Kijang tuaku yang AC-nya sudah lama menyerah. Tapi Oma duduk tegak di kursi penumpang, tak berkeringat sedikit pun. Dia tampak agung dalam kebaya encim putih yang sudah agak menguning dan kain batik parang, memangku tas rotan berisi batu bata itu seolah itu adalah tas berisi kode nuklir.
Sepanjang perjalanan, Oma tidak henti-hentinya menguliti karakter Sang Presiden dari baliho-baliho raksasa yang kami lewati.
“Lihat itu,” tunjuk Oma dengan telunjuk keriputnya ke arah baliho kampanye di perempatan lampu merah. Wajah Presiden terpampang besar dengan slogan ‘Jujur, Bersih, Merakyat’. “Lihat matanya. Itu mata yang sama saat dia bilang mau pinjam uang untuk beli buku diktat, padahal buat traktir bakso selingkuhannya. Mata kirinya kedutan sedikit kalau dia sedang bohong.”
Aku melirik baliho itu, lalu melirik Oma. “Oma, itu foto editan komputer. Mana kelihatan kedutannya.”
“Kau diam saja. Kau tidak pernah pacaran sama dia,” semprot Oma. Tangannya kini meremas gagang tas erat-erat, buku-buku jarinya memutih. “Dulu dia bilang, ‘Ros, percayalah, aku akan mengubah dunia’. Cih. Mengubah status hubungan saja dia pakai cara curang.”
Mobil merayap mendekati area alun-alun yang sudah disulap menjadi lautan manusia. Umbul-umbul merah putih berkibar agresif ditiup angin berdebu. Suara drum band dari panggung utama terdengar sayup-sayup, bersahutan dengan klakson angkot. Bau keringat massal, asap knalpot, dan sate ayam bakar menyerbu masuk saat aku menurunkan kaca jendela untuk mengambil tiket parkir.
“Dengar,” kata Oma tiba-tiba, suaranya melembut tapi sarat ancaman. Dia menatapku lurus. “Nanti kalau Paspampres menahan kita, kamu bilang saja Oma ini veteran perang yang mau kasih bunga. Jangan bilang di dalam tas ini ada batu bata.”
“Apa? Veteran? Yang benar aja? Oma, ini gila. Kita bisa dipenjara. Ini makar namanya,” bisikku histeris, tanganku licin di setir kemudi.
Oma mendengus, membuka pintu mobil bahkan sebelum aku mematikan mesin. Hiruk pikuk di luar langsung menelan suara mesin mobilku. “Makar itu kalau menggulingkan pemerintahan yang sah. Ini namanya balas dendam ke mantan pacar. Beda pasal.”
Dia melangkah keluar, sepatu hak rendahnya mengetuk aspal panas dengan pasti. Sosok kecil ringkih di tengah kerumunan raksasa, membawa dendam asmara dan sebuah batu bata, siap menuntut keadilan yang tertunda setengah abad. Aku tidak punya pilihan selain mengejarnya, berdoa semoga Tuhan melindungi Presiden—atau setidaknya, melindungi pinggang Oma.
***
Lautan manusia itu berbau keringat masam, plastik terbakar, dan fanatisme buta. Kami terjepit di antara rombongan ibu-ibu pengajian berseragam ungu dan sekelompok mahasiswa yang membawa spanduk. Udara terasa lengket, oksigen seolah berebut masuk ke paru-paru.
“Minggir! Orang tua mau lewat!” Oma menyikut pinggang seorang pemuda berambut gondrong dengan sikunya yang tajam. Pemuda itu menoleh marah, tapi nyalinya langsung ciut begitu melihat tatapan Oma yang mengancam.
“Oma, sudah, kita nonton dari sini saja,” bisikku memohon, tanganku basah kuyup memegang lengan Oma, berusaha menahannya agar tidak merangsek maju. Jantungku berdegup kencang, membayangkan skenario di mana aku diringkus polisi militer karena nenekku melempar batu bata ke kepala presiden.
“Diam kau. Kalau mau nonton dari jauh, mending aku di rumah nonton TV,” desis Oma. Ia tiba-tiba memegang dadanya, wajahnya mendadak sayu. Akting dimulai. “Duh… Gusti… nafasku… tolong…”
Suaranya lirih tapi cukup keras untuk didengar barisan Paspampres berbadan tegap yang memblokade area VIP. Seorang petugas berkacamata hitam menoleh. Oma, dengan kemampuan teatrikal setingkat peraih Piala Citra, limbung ke arahku.
“Pak! Tolong Pak! Oma saya mau pingsan!” teriakku refleks, separuh panik sungguhan, separuh terpaksa mengikuti skenarionya.
Petugas itu memberi isyarat. Pagar betis dibuka sedikit. “Bawa masuk ke area teduh, cepat!”
Kami diseret masuk ke zona steril, tepat di pinggir jalur karpet merah. Oma yang tadi ‘sekarat’, mendadak berdiri tegak kembali begitu kami lolos dari desakan massa. Ia merapikan sanggulnya yang miring, lalu tangannya merogoh ke dalam tas rotan. Bunyi klontang pelan terdengar saat batu bata itu bergeser, beradu dengan botol minyak angin.
Suara sirine meraung-raung mendekat. Iring-iringan mobil hitam mengkilap berhenti tepat sepuluh meter di depan kami. Pintu mobil di tengah terbuka. Dan sosok itu keluar. Sang Presiden. Bambang.
Ia mengenakan kemeja putih bersih yang digulung rapi di lengan, peci hitam miring sedikit ke kanan—persis gaya Bung Karno. Senyumnya merekah, lebar dan terlatih, menyapa histeria massa. Kilatan lampu kamera meledak-ledak seperti kembang api.
Oma tidak berkedip. Tangannya mencengkeram gagang tas begitu erat sampai urat-urat birunya menonjol. Ia tidak gemetar lagi. Presiden berjalan menyusuri barisan, menyalami tangan-tangan rakyat yang berebut ingin menyentuhnya. Ia semakin dekat. Lima meter. Tiga meter.
Aku menahan napas, siap menerjang Oma jika tangannya mulai mengangkat tas itu untuk mengayun. “Jangan, Oma,” bisikku tercekat. “Demi Tuhan, jangan.”
Presiden tiba di depan kami. Ia berhenti. Mungkin karena melihat seorang Oma tua berkebaya encim di barisan depan yang menatapnya dengan sorot mata aneh yang tajam. Naluri politiknya bekerja; ia mengulurkan tangan, memasang senyum paling ramah, siap untuk difoto.
“Apa kabar, Ibu? Sehat?” Suaranya berat dan berwibawa, persis seperti di radio.
Oma tidak menyambut uluran tangan itu. Ia justru maju selangkah, menembus batas sopan santun protokoler. Paspampres di belakang Presiden menegang, tangan mereka meraba pinggang, siap menarik senjata.
Tapi Oma hanya mendekatkan wajahnya. Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata Presiden, mencari sisa-sisa pemuda bernama Bambang di balik kerutan wajah pemimpin negara itu. Hidung mereka hampir bersentuhan. Bau parfum mahal Presiden bertabrakan dengan bau bedak Viva Oma.
Tangan Oma di dalam tas melonggar. Batu bata itu ditinggalkan. Rupanya, ia melihat sesuatu. Di jarak sedekat ini, citra sempurna sang pemimpin retak. Ada sisa cabai merah kecil terselip di gigi seri Presiden yang putih cemerlang itu. Dan lebih parah lagi, Oma melihat anak rambut di balik telinganya yang tidak rapi; lem perekat wig-nya sedikit terkelupas karena keringat. Presiden ini palsu. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Oma tersenyum miring. Alih-alih menghantamkan batu bata, ia berbisik. Pelan, tajam, dan menusuk.
“Bambang… kaset Koes Plus-ku belum kau kembalikan.”
Presiden terhenyak. Senyumnya luntur seketika, digantikan oleh kekosongan. Matanya membelalak, pupilnya mengecil. Waktu seolah berhenti bagi mereka berdua.
Oma belum selesai. Ia mencondongkan bibirnya lagi ke telinga Presiden yang mulai memerah. “Dan salam buat Juleha. Gadis yang kau bonceng di Pasar Malam tahun enam puluh empat itu. Apa dia tahu kau pakai gigi palsu sekarang?”
Wajah Presiden berubah pucat pasi, seputih kemejanya. Ia mundur selangkah seolah baru saja ditampar hantu. Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara, seperti ikan mas koki kehabisan oksigen. Wibawanya runtuh, hancur berkeping-keping di depan seorang wanita tua yang bahkan tidak memegang senjata. Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur turun dari pelipisnya. Ia tampak ketakutan.
“Ibu…” suaranya tercekat, bergetar, kehilangan semua bass-nya. “Kau… Ros?”
Oma mendengus pendek, menarik tubuhnya menjauh. Ia memandang Presiden dengan tatapan jijik bercampur kasihan, seolah sedang melihat cucian kotor yang lupa diangkat.
“Urus dirimu, Bambang,” kata Oma keras, cukup untuk didengar ajudan di sebelahnya. “Urus dirimu sendiri dulu sebelum sok mengurus dua ratus juta orang.”
Tanpa menunggu jawaban, Oma berbalik. Ia mengait lenganku yang masih gemetar hebat.
“Ayo pulang,” perintahnya santai, seolah kami baru saja selesai menawar sayur di pasar. “Aku lapar. Mau makan bakso. Bakso yang dagingnya asli, bukan oplosan tepung seperti dia.”
Aku menoleh ke belakang sekilas saat kami berjalan menjauh. Paspampres tampak bingung. Presiden masih berdiri terpaku di tempatnya, dikelilingi ribuan orang yang memuja, namun ia tampak sendirian, kecil, dan telanjang di tengah keramaian. Tangannya memegang dadanya sendiri, matanya nanar menatap punggung bungkuk Oma yang menjauh.
Di dalam tas rotan itu, batu bata merah masih terbungkus rapi.
***
Warung Bakso “Pak Kumis” berjarak dua kilometer dari alun-alun, cukup jauh untuk meredam hiruk-pikuk histeria massa, tapi cukup dekat untuk masih mendengar sirene ambulans yang meraung-raung di kejauhan. Kipas angin dinding berkarat memutar udara panas bercampur aroma bawang goreng dan kuah kaldu.
Oma duduk dengan tenang, menyantap bakso uratnya dengan nafsu makan seorang kuli pelabuhan. Tiga sendok sambal sudah ia tuang ke dalam mangkuk, membuat kuahnya merah semerah darah—atau semerah lipstiknya. Keringat tipis membasahi keningnya, melunturkan sedikit bedak, tapi matanya berbinar puas.
“Oma,” tegurku pelan, masih merasa was-was melihat sekitar. “Kenapa batu batanya masih dibawa-bawa?”
Oma menyeruput kuah pedas itu dengan bunyi slurp yang keras. “Nanti buat ganjal pintu gudang saja. Sayang kalau dibuang, itu bata kualitas bagus. Bakaran lama.”
Aku menggeleng tak percaya. “Aku pikir Oma benar-benar akan membunuhnya tadi.”
Oma meletakkan sendoknya. Ia mengambil tisu, mengelap sudut bibirnya dengan anggun. “Membunuh orang itu terlalu mudah, Cu. Cukup dor, selesai. Dia mati jadi pahlawan, namanya diabadikan jadi nama jalan, dan dosanya diputihkan.”
Oma menunjuk ke arah televisi tabung yang bertengger di pojok atas warung, tepat di atas toples kerupuk.
“Hukuman terbaik bagi pengkhianat adalah membiarkan dia hidup dengan ketakutan bahwa topengnya sudah retak. Biarkan dia setiap malam bercermin dan bertanya-tanya: siapa lagi yang tahu?“
Tepat saat itu, layar televisi berubah tampilan. Musik jingle berita yang dramatis memotong siaran dangdut. Tulisan BREAKING NEWS berkedip-kedip merah di bagian bawah layar.
Seorang penyiar berita dengan wajah tegang muncul.
“Pemirsa, kami baru saja menerima kabar mengejutkan dari alun-alun kota. Bapak Presiden dilarikan ke rumah sakit pusat menggunakan ambulans VVIP. Menurut keterangan juru bicara istana, Bapak Presiden mengalami serangan panik mendadak dan sesak napas sesaat setelah menyapa warga.”
Di layar, terlihat rekaman amatir yang goyang. Sosok Bambang—sang Presiden—tampak dipapah masuk ke mobil dengan wajah pucat, matanya liar ketakutan, tangannya memegang dada kiri. Wibawanya hilang total.
“Diduga beliau kelelahan memikirkan nasib rakyat,” lanjut si penyiar dengan nada simpatik yang dibuat-buat.
“Kelelahan memikirkan nasib rakyat, puih,” cibir Oma, menyemburkan sedikit sisa bawang goreng. “Kelelahan memikirkan diri sendiri baru benar.”
Oma tertawa lepas. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat beban berat di pundaknya terangkat. Dendam tahun 1964 itu akhirnya lunas.
Kami pulang saat matahari mulai condong ke barat, mengubah langit menjadi jingga kemerahan. Oma tertidur pulas di kursi penumpang, mendengkur halus dengan tas rotan berisi batu bata dipeluk erat di pangkuannya.
Aku menyetir dalam diam, sesekali melirik sosok rapuh di sebelahku.
Negeri ini mungkin masih dipimpin oleh seorang buaya yang pandai bersandiwara. Harga beras mungkin masih akan naik, dan korupsi mungkin masih merajalela. Tapi sore ini, aku belajar satu hal penting: negara tidak akan pernah aman selama dipimpin oleh laki-laki yang bahkan tidak punya nyali untuk mengembalikan kaset pinjaman mantan pacarnya. Dan Oma adalah oposisi paling berbahaya yang pernah dimiliki negeri ini.
Sesampainya di rumah, aku akan memutar lagu Koes Plus keras-keras.
*****
Editor: Moch Aldy MA
