Lebih banyak membaca dan merenung.

Racun Tikus

Boiman Manik

4 min read

Lukman kesal dengan tikus yang menggigit jempol kakinya dan aku mendatanginya dengan membawa sepatu dan melemparnya ke sembarang arah; dan Lukman langsung melompat ke depanku sambil merentang kedua tangannya dan wajahnya mengejang sekeras batu, aku bertanya mengapa dan ia menjawab jangan. Tikus itu sepupuku.

Kuduga, ucapan Darwin lengket di otaknya serupa tumor. Dan kondisi Lukman memberi dua kemungkinan di kepalaku: pertama jika tumor dan otaknya tercabut ia akan menjadi manusia tanpa fungsi; kedua, ia dan otaknya sama sekali tidak berguna jika tetap ada. Yang kedua sudah kusadari sejak awal bertemu, kuabaikan, dan kusesali sekarang. Dan aku juga baru terpikir, cinta kami sebenarnya sudah gagal sejak pertama kali bertemu; entah mengapa sekarang kami sudah menikah.

“Lalu kau percaya manusia pertama adalah seekor ikan?”

“Kau tidak akan mengerti meski kujelaskan,” katanya.

“Berarti kau tidak menjelaskannya dengan baik, Lukman.”

“Kemarin aku bertemu dengan orang yang tampangnya tidak meyakinkan, dan kami bicara berjam-jam.”

“Andai aku waras mungkin aku akan melakukan yang sama Lukman. Mendengarkanmu berjam-jam.”

Lalu Lukman berusaha meyakinkan tikus-tikus itu bahwa mereka akan baik-baik saja; dan seolah ucapannya bisa dimengerti, Lukman meminta mereka pergi. Perangainya itu mengecewakan dan aku pergi untuk membeli racun tikus; aku tidak ingin Lukman dianggap orang gila, digunjing oleh orang tuaku, dan dilempari anak-anak dengan batu. Menyusahkan saja.

Dan besoknya—saat ia membeli ikan dan menyapanya dengan kakek dan nenek—benih kedongkolan tumbuh dalam hatiku; itu dilakukan setiap pagi dan aku tidak yakin Lukman bisa membedakan jantan dan betina. Dan ketika ia dijerumuskan rasa penasarannya, Lukman memasukkan semua hewan—kodok, belut, dan hewan apa saja yang ia temukan—ke dalam akuarium. Siapa saja yang masih hidup, katanya, akan menjadi raja. Pada akhirnya, karena listrik padam, hewan-hewan itu kejang-kejang, saling memangsa, dan akhirnya mati semua. Ketika akuarium itu menguar bau busuk, Lukman menangis, dan aku yang membereskannya.

“Aku ingin memelihara belatung dan kecoak saja. Ikan terlalu manja,” katanya.

Di antara seribu orang bodoh mungkin hanya ada satu orang yang melakukan itu; aku tidak mau Lukman menjadi satu-satunya yang lebih bodoh. Dia tidak mau menggerakkan mulutnya seharian saat tidak bisa membeli kecoak dan belatung dan saat wajahnya mulai memerah aku hanya membiarkannya saja, toh jika ia lelah ia akan tidur. Dan aku mulai berpikir siapa yang betah dengan Lukman saat membicarakan isi kepalanya, mungkin hanya ibunya—yang sudah meninggal; atau aku yang ada di sepuluh tahun lalu; atau Nugi yang baru kami kenal belakangan.

“Aku hanya ingin melihat mereka berubah jadi manusia.”

“Setidaknya, kau yang perlu jadi manusia, Lukman.”

“Kau…. Kau aneh sekali!”

Belakangan—di setiap pagi—Lukman jadi sering melakukan hal-hal yang sudah usang dan tingkahnya seperti anak remaja yang baru mengenal cinta. Ia sedikit memanjakanku, mengurus rumah, dan membantuku memasak. Ia tetap menempeliku meski terkadang ponselnya terus berbunyi dan dia harus sedikit berlari ke tempat lain yang tak bisa ditangkap mataku. Dadaku mulai rusuh. Dan ia melakukannya hingga sepanjang waktu selama berminggu-minggu. 

Perilakunya itu adalah bagian yang hilang selama ini dan mungkin sedikit kurindukan. Saat pagi ini aku siap menyambutnya, ia sudah pergi ke luar. Dan aku tetap menunggu hal-hal usang itu meski ia tidak pernah terlihat berniat melakukannya. Ini ganjil. Dan terdorong oleh rasa ganjil itu aku membeli racun tikus dan menebarkannya di mana sana: di rumah, di jalan, dan di tempat makan aku menyimpannya di dalam tas; satu jam lagi aku akan bertemu Nugi.

“Kau tidak bersama Lukman?”

“Dia sedang kurang sehat.”

“Akan menyenangkan jika dia ada di sini. Dia selalu memiliki cerita-cerita yang menyenangkan. Seperti ada gambarnya dalam kepalaku.”

“Sebenarnya begitu, dan belakangan sikapnya menyebalkan. Tapi pekerjaannya kali ini bagus, kau akan suka.”

Aku menyerahkan pekerjaan Lukman pada Nugi dan dia langsung setuju tanpa perlu meneliti dengan hati-hati; proposal Lukman memang selalu bagus. Dan ini sudah proyek ke-73 yang bertiga kerjakan; beberapa kali Lukman dan Nugi akan mengurusnya saat aku berhalangan. Meski aku khawatir dengan sikap Lukman yang suka sembarangan.

Pikiranku agak melayang saat menatap mal besar di sebelah restoran tempat kami bertemu.

“Lukman baik-baik saja, kan?”

“Kuharap begitu.”

Makanan kami belum datang dan saat kasir menyapaku akrab aku bertanya mengapa, kasir itu heran. Dan semua orang sebenarnya tahu makanan membutuhkan waktu yang lama untuk dimasak, dan saat aku protes, makanan itu segera datang menuju meja kami. Aku mengambilnya dari tangan pramusaji dan dia menolaknya. Tidak masalah, kataku. Kuberi uang seratus ribu dan pramusaji itu meninggalkanku dengan menunduk dan berterima kasih. Itu sikap yang wajar dan memang perlu diberikan padaku karena suatu kelayakan. Aku membalasnya dengan senyum yang memang layak pula mereka terima, lalu merapikan tasku, dan mengantar makanan itu ke depan Nugi.

Setiap mendengar penjelasanku mengenai pekerjaan Lukman, Nugi mendorong tubuhnya maju ke depan sambil mengunyah makanan-makanan itu. Dan setiap kali ia melahapnya, dadaku bergemuruh, keningku berkeringat, dan kepalaku berisi keinginan agar segalanya lancar-lancar saja. Saat obrolan kami masih berlanjut, aku harus memotongnya dan pamit pergi ke rumah sakit demi menjenguk Lukman. Dan Nugi kaget; kukatakan aku akan mengabarinya setelah bertemu dengan suamiku. 

Di perjalanan aku menangis dan merasa tersiksa. Hanya tinggal mengatakannya pada Lukman, maka semuanya selesai. Dan sepertinya aku lebih suka menunggu ikan jadi manusia daripada harus ke rumah sakit malam ini.

Pagi tadi—saat aku sedang merebahkan badan di teras depan rumah—adikku menelepon melalui nomor Lukman. Ia kemudian mengirimiku gambar, dan di dalam kamar, dunia terasa jadi mengecil.

Nugi kesal lantaran Lukman tidak datang ke hotel yang mereka sepakati. Kenapa kau tidak datang Lukman? Aku sudah tidak sabar mendengar semua cerita yang hanya jadi menyenangkan jika itu kudengar darimu. Dan serentetan pesan singkat lainnya yang membuat perutku terasa berputar-putar. 

“Aku senang sekali kau datang, Sayang.”

“Demikian juga diriku,” aku menjawab dengan nada yang rendah.

Ruangan itu dingin, putih, dan wajah Lukman yang pucat tampak menyatu di sana; ia seperti ikan mati yang ada di akuariumnya. Kami diam sesaat. Lukman merintih pelan sambil meraih tanganku; aku memberinya ujung jari saja dan saat bersentuhan, tangannya terasa hangat dan aku agak khawatir dengan masalahnya sekarang.

“Lukman, sekarang kau bisa memelihara apa saja,” kataku.

“Kau serius?”

“Aku serius. Dan mungkin aku bisa menerima soal nenek moyang manusia.”

Aku mengambil posisi duduk di sebelahnya, ia kemudian memelukku, dan aku memberi reaksi sewajarnya saja: menepuk bahunya satu kali lalu mendorong badannya. Ia heran sejenak dan kemudian mengembalikan badannya rebah. Aku membawa anggur, bukan buah kesukaannya, Lukman kemudian bertanya mengapa, tetapi aku tidak memberi jawaban. Lukman yang tadinya senang mulai bertanya-tanya, tetapi mulutnya kaku dan tidak bergerak sama sekali.

Dan rasa-rasanya agak menyenangkan jika Lukman dalam kondisi ini terus. Kurasa rumah akan terasa nyaman jika tidak ada lagi bau busuk dari peliharaan Lukman yang mati. Setiap pagi aku bisa bangun dengan tenang tanpa harus mendengar teriakan Lukman saat dia sedang ruwet dengan tikus-tikusnya. Dan aku tidak masalah dengan kondisinya sekarang yang payah dan lemah; kuharap ini akan selamanya terjadi. Lalu aku meraih tasku dan mengeluarkan bungkus racun tikus yang selalu kubawa seharian.

“Tadi aku bertemu Nugi, urusanku sudah beres dengannya,” aku berkata sambil menatap bungkus racun itu.

“Baguslah.”

“Lukman. Apakah kamu mencintaiku?”

“Tentu saja. Kau ini bicara apa?”

“Lukman,” matanya mengarah padaku. Aku menatapnya sesaat dan ia mulai merasa ganjil. Sunyi menyesak ruangan, kemudian aku mengarahkan bungkus racun tikus itu ke depan wajahnya sambil mengatakan: “aku bertemu Nugi dan semuanya sudah beres.”

Setelah berdiri, setelah berjalan menuju pintu, dan setelah memastikan mata Lukman sudah terpejam, barulah air mata yang kutahan seharian ini menetes. Dan aku berjalan dari rumah sakit, menunggu taksi, dan pulang ke rumah.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Boiman Manik
Boiman Manik Lebih banyak membaca dan merenung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email