A Life Traveler who Embraces the God's Fortune.

Tugas Negara

Sarah Monica

8 min read

Selama berhari-hari ini Hamzah selalu ketakutan setiap bangun pagi. Tiap kali alarmnya berbunyi, ia melompat kaget. Terkesiap karena azan subuh tahu-tahu sudah berkumandang, padahal ia merasa belum lama terlelap. Rutinitas pagi ia lakukan dengan enggan, jauh lebih enggan dibandingkan biasanya. Sebuah pergulatan sengit antara ingin kembali menggulung diri dalam selimut, namun terpaksa harus berangkat ke kantor.

“Mas, tidak sarapan lagi?” istrinya menatap khawatir.

Yang ditanya, hanya bisu memandangi tembok sambil mengancingi baju kemejanya.

Hamzah bergerak melayang keluar rumah. Dengan wajah pucat, tatapan kosong, tanpa kesadaran dengan sekeliling, ia menaiki motornya sampai ke stasiun MRT. Dari stasiun, turun berjalan kaki sampai ke gerbang kantor yang didesain megah dan jumawa.

“Zah! Gue panggil-panggil enggak dengar lo?” pundaknya ditepuk Saiful, rekan sedivisi.

“Eh, eng… Iya sorry, kenapa Pul?” Hamzah gelagapan. Dadanya berdebar hebat.

“Bengong mulu. Mikirin pinjol ya? Dipanggil bos tuh ke ruangan!” sahut Saiful sambil berlalu.

Sekarang selain jantungnya yang ribut berdentum-dentum, keringat dingin mulai bercucuran di tengkuk dan dahi Hamzah. Ia mulai salah tingkah.

Dengan langkah gelisah, Hamzah mendatangi ruang kerja atasannya.

“Siang, Pak. Mo…. mohon izin Pak, Bapak ada perlu dengan saya?” Hamzah menunduk, terbata-bata.

“Hei, iya. Hamzah, bagaimana tugas kamu? Lupa ya itu sudah saya bayar di depan,” tanpa melihat secara langsung, Hamzah bisa merasakan senyum mengejek si bos.

Wajah Hamzah memerah, tubuhnya menegang seperti disetrum. Otaknya mulai merangkai-rangkai kalimat sesantun mungkin.

“Siap, izin Bapak, sedang saya eksekusi. Mohon arahan,” respons Hamzah berusaha meyakinkan.

“Baguslah kalau begitu. Ingat lho, ini tugas negara. Tolong diprioritaskan. Ya sudah sana, saya tunggu.”

“Baik Bapak, siap. Mohon maaf Pak, terima kasih atas pengertiannya,” Hamzah beranjak undur diri dengan kaki gemetar.

***

“Pak Indra, gimana senang ‘kan di kursi barunya sekarang?” tanya seorang laki-laki dengan polo shirt dan sepatu kulit. Kacamata hitamnya memantulkan kilau lampu di resto hotel.

“Aman Pak, semua terkendali. Gerbong lama sudah dibubarkan. Hehe,” yang ditanya senyum-senyum malu.

“Beres itu. Ngomong-ngomong juragan muda titip pesan buat Anda. Belakangan sosmed mulai ramai lagi soal meme-meme yang menghina bos-bos dan klien-klien kita. Apa bisa segera diatasi?” sekian detik hening, hanya kepulan asap cerutu melambai-lambai di depan wajah mereka.

Hamzah yang saat itu ikut menemani Bapak Kepala, mulai dihinggapi keresahan di tengah duduknya.

“Gampang… Bisa diatur, Pak. Nanti saya kerahkan anak-anak untuk mengurus itu. Ya kan Hamzah?” Pejabat tersebut mengarahkan lirikannya ke belakang.

“Siap, Bapak!” Kaget karena namanya tiba-tiba disebut, secepat kilat jawaban itu terlontar.

“Mantap! Pak Indra memang selalu dapat diandalkan. Saya yakin siapapun yang direkomendasikan, berarti memang ahlinya. Mas Hamzah sekalian bantu counter isunya ya,” Hamzah merasakan pria itu menatapnya tajam dari balik kacamata hitam.

“Hahaha… Dia memang IT terbaik di kantor kita. Tenang saja, Pak,” Pejabat paruh baya itu menyahut lantaran anak buahnya hanya diam mematung.

“Kalau begitu, Pak Indra ini ada sedikit oleh-oleh demi keberhasilan operasional,” si pria berkacamata melalui asistennya menyerahkan koper hitam kecil di bawah meja kepada pejabat tersebut.

Dia mengintip sedikit, sikapnya tetap tenang dan santai seraya mengoper pemberian tersebut kepada Hamzah.

“Saya harus pamit karena ada urusan lagi. Kabari segera perkembangannya. Kita perlu gerak cepat,” orang tersebut bersama beberapa pengawal berdiri menyalami Pak Kepala dan Hamzah. Lantas berjalan keluar ruangan dengan langkah tegap.

“Hamzah, hitung jumlahnya di toilet. Ambil separuhnya untukmu. Saya percaya kamu sanggup menyelesaikan tugas ini secepat mungkin,” atasannya tersenyum dingin, mengangguk, lalu melangkah menuju pintu lobi.

Masih tercenung, pikiran Hamzah berkecamuk saat itu. Dia belum mampu mencerna permintaan dan pemberian yang baru saja diterima. Segalanya terjadi bagai kilat, mengguncangnya hingga tak sanggup berkata-kata.

***

“Mas, lusa besok jadwal operasi kedua Kak Rahmi,” Tami memecah keheningan di kamar kerja Hamzah.

Suaminya yang sedang melamun di depan layar laptop hanya menghela nafas panjang. Hamzah merasakan batinnya dihujam dari segala sisi. Dia seringkali mempertanyakan apakah manusia boleh merasakan kebahagiaan tanpa harus dibayang-bayangi kemalangan.

Selalu, Hamzah menyimpulkan sepanjang hidup ia mengalami dua hal tersebut senantiasa bergandengan dari peristiwa ke peristiwa. Seolah-olah kebahagiaan yang malang dan kemalangan yang bahagia adalah sebuah keniscayaan.

Dari kecil, Hamzah terus-menerus didoktrin bahwa keluarganya miskin, dan orangtuanya menuntut Hamzah agar bisa memutus kutukan kemiskinan turun-temurun tersebut. Dengan demikian, ketika tes CPNS-nya lolos, bapak dan ibunya menghelat tasyakuran bagi warga sekampung di pelosok Pati sebagai pengumuman kesuksesan anak mereka. Tak lama ia pun hijrah ke Jakarta demi mengemban status barunya sebagai Aparatur Sipil Negara.

Di kota simbol kemajuan itu, Hamzah berjumpa dengan jodohnya di sebuah stasiun kereta. Berawal dari tatapan tak sengaja yang diiringi senyuman tak sengaja pula, Hamzah memberanikan diri menyapa Tami. Tak dinyana, karena kesamaan jalur dan jam kerja, mereka sering bertemu di stasiun yang sama, di tengah hiruk-pikuk mobilitas pekerja komuter Jakarta. Dari perjumpaan rutin yang dikendalikan jadwal KRL itulah pendekatan mereka kemudian dijembatani oleh pertukaran nomor Whatsapp.

“Iya, uangnya nanti Mas transfer, tetapi Mas enggak bisa menemani. Lagi banyak kerjaan dari kantor,” Hamzah menimpali suara Tami yang berhasil membuyarkan lamunannya mengenai kejadian di hotel bintang 5 minggu lalu.

Kecemasan semula Hamzah karena ketiadaan dana untuk operasi anaknya kini bergeser ke kecemasan terhadap pekerjaannya. Tugas yang dibebankan padanya tersebut di luar kewajiban kantor, namun dirasakan lebih mendesak dan mengancam. Membuatnya belakangan ini sulit bernafas.

“Mengapa harus saya yang melakukan pekerjaan ini? Bagaimana cara menolaknya, meski uang itu memang sangat saya butuhkan sekarang,” batin Hamzah berperang. Ada jurang ketidaknyamanan yang menganga, mengayunnya dalam timbangan moral dan tekanan finansial.

Perjalanan asmara Hamzah dan Tami dapat dikatakan sederhana, tanpa romantika berlebih, dan khas urban. Terbangun karena rutinitas perjumpaan, kesepian umum yang menjangkiti karyawan perkotaan, dan desakan sosial menjadi orang normal dengan cara menikah.

Akan tetapi, Tuhan mengguratkan rencana-Nya di kitab takdir yang memberatkan roda rumah tangga mereka. Setahun setelah menikah, mereka dikaruniai seorang putri berkebutuhan khusus yang juga menderita kelainan jantung.

***

Rasanya belum genap tiga tahun Hamzah bertarung di Jakarta, namun ketegangan dan kegelisahan kota itu telah menubuh dalam dirinya. Usai jam kantor Hamzah seringkali mampir, lebih seperti dorongan insting dibandingkan kebiasaan, duduk menyesap kopi dan rokok di depan mini market. Melempar pandang pada kemacetan di senja kelabu, ia hening dalam keriuhan lalu lintas, tapi bising dalam kegaduhan di kepala sendiri.

Di momen tersebut, Hamzah mencuri waktu menikmati hisapan asap rokoknya. Sejenak melupakan kepadatan penumpang di MRT, pekerjaan yang menumpuk, problematika keluarga, ataupun cicilan bulanan yang harus dibayar. Cukup merasakan aliran ketenangan sesaat yang dibius oleh sebatang rokok dan kopi susu gula aren.

Pikiran-pikiran liar mengepakkan sayap setinggi-tingginya, menembus batas cakrawala rasionalitas. Pada detik-detik seperti itu Hamzah perlahan mulai meragukan keputusan-keputusan hidupnya. Mulai goyah dalam semangat, dan hambar dalam keyakinan. Ia mulai kehilangan pegangan.

“Jika Tuhan Maha Adil, mengapa Dia menimpakan ini semua kepadaku? Di mana pertolongannya atas situasiku sekarang? Tidakkah aku dapat hidup dan bekerja dengan tenang,” hanya lambaian dedaunan sekitar yang menjawab pertanyaan-pertanyaan Hamzah.

“Ting, ting…,” dua notif chat masuk di ponsel, menginterupsi monolog yang sedang berlangsung di kepalanya.

Sebuah foto dan sebaris pesan muncul. Wajah Hamzah memucat. Tangan yang menggenggam ponsel tersebut bergetar. Dengan mata awas, ia memperhatikan sekeliling. Detak jantungnya bertalu-talu. Foto itu menunjukkan dirinya sedang membawa koper hitam.

“Selesaikan tugasmu atau besok foto ini akan menghancurkan karir dan keluargamu,” nomor pengirimnya tidak ia kenal.

Hamzah segera bangkit, berjalan pulang sempoyongan, nyaris pingsan.

***

Di rumah, Tami memperhatikan perubahan perilaku suaminya. Dia lebih pendiam. Banyak mengurung diri di depan laptop, termenung di teras, maupun berbaring di pojok kamar mendengarkan ceramah-ceramah di Youtube.

“Apa ada yang sedang engkau pikirkan, Mas?”

“Enggak kok Dik, cuma pusing deadline saja,” Hamzah memaksakan senyum ke istrinya.

Tami tetap bertanya-tanya apa gerangan yang sedang bergelut dalam kepala suaminya, tapi ia enggan mendesak lebih jauh.

“Oya Mas, dokter bilang kondisi pasca operasi Kak Rahmi sangat membaik. Terapisnya juga bilang si Kakak banyak kemajuan dalam konsentrasi,” sang istri mengalihkan topik pembicaraan.

“Syukurlah kalau begitu. Mas juga sudah tambahkan dana kesehatan dan pendidikan untuk Rahmi ke rekening kita. Gunakan kapanpun dibutuhkan.”

“Mas, lagi banyak uang?” Mata Tami berbinar, antara senang sekaligus heran.

“Lumayan Mas habis dapat bonus dari kantor,” ujar Hamzah sekenanya.

“Alhamdulillah… Makasih sayang,” Tami memeluk suaminya. Meski dirasakan tubuh itu dingin berkeringat, ia tidak berkomentar apapun.

Sepeninggal istrinya ke kamar sebelah, hati Hamzah mencelos, perutnya mual. Dia melanjutkan kerjanya, memantau perkembangan isu-isu di sosial media. Banyak ia lihat teman-temannya sendiri dari kampus negeri ternama di Semarang yang aktif menyuarakan kritik. Mereka yang dulu bekerja dalam satu organisasi mahasiswa, kini harus berada dalam posisi berseberangan.

Hamzah merasakan ironi. Ia tidak punya pilihan.

***

“Gue perhatiin, muka lo murung terus. Lagi berantem sama Tami?” Saiful membuka percakapan saat makan siang di kantin karyawan.

“Enggak. Lagi bingung dan buntu aja,” Hamzah mengaduk-aduk nasi goreng di hadapannya.

“Bingung kenapa lo?”

“Bingung dengan segala hal,”

“Misal?” kedua alis Saiful mengkerut.

“Kenapa kita masuk dalam situasi yang kita sendiri enggak mau?”

“Gue enggak ngerti maksud lo,” celetuk Saiful.

“Pernah enggak lo bertanya kenapa lo dilahirkan ke dunia dan untuk apa?”

“Duh, makin aneh aja,”

“Udahlah. Gue juga enggak ngerti gue sebenarnya kenapa,” Hamzah mengabaikan tatapan menyelidik satu-satunya teman dekatnya di kantor itu.

“Oke, kalau lo enggak mau cerita sekarang. Gue enggak maksa.”

Memang hampir sebulan ini Hamzah tidak pernah lagi nongkrong sepulang kantor bareng Saiful. Dia datang dan pulang kerja tenggo, terus merapal doa agar tidak dipanggil atau berpapasan dengan atasannya. Terkadang habis merokok, Hamzah mampir ke masjid kantor, sekadar duduk di pojokan.

Marbot masjid sering memergokinya melamun sendirian.

“Bung, daripada bengong, besok ke sini lagi ada kajian. Siapa tahu dapat pencerahan,” tegur laki-laki berjanggut panjang tersebut.

Hamzah cuma meliriknya. Namun, keesokan hari ia datang kembali. Tak disangka masjid yang sehari-hari sepi itu sekarang dipadati jamaah, melebihi di jam sholat Jumat. Hamzah mengambil tempat di shaf paling belakang, persis terhalang tiang masjid. Sebagian besar orang terlihat khusyuk mendengarkan tausyiah, sebagian kecil lainnya sibuk memainkan ponsel.

“Banyak-banyaklah bersedekah. Sebab dengan amal sedekah, kita akan dihindarkan dari bencana dan dihapuskan dari dosa-dosa. Sebagaimana Hadist Rasulullah SAW, ‘Dan sedekah akan memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api’ (HR. At-Tirmizi No. 613; HR. Ahmad, No. 15284),” tutur ustadz di mimbar depan.

Dicerna pelan-pelan apa yang didakwahkan oleh penceramah keturunan Yaman tersebut. Direnungkan kebenarannya. Barangkali itu yang dibutuhkan oleh Hamzah sekarang.

Merasa ada yang salah dengan diri dan hidupnya, Hamzah mulai rutin mengikuti pengajian-pengajian di masjid kantor dan masjid-masjid lainnya. Konon itu bisa mendatangkan tenang. Ia mencari cara mendamaikan ketakutan dan kegalauannya. Diam-diam berupaya mengubur ancaman dosa yang kian nyata. Juga memburu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan nasib.

***

Sejak pertemuan terakhir Hamzah dengan Pak Kepala, ia beruntung tidak pernah dipanggil lagi ke ruangannya. Meski demikian, secara rutin ia menerima pesan berita-berita viral yang perlu disenyapkan, akun-akun yang berisik dengan lelucon gelap, serta pernyataan-pernyataan resmi dan yang perlu diangkat. Tiada hari tanpa sensasi dag-dig-dug di hati Hamzah.

Tugas-tugas ia kerjakan sesuai pesanan, dengan cengkeraman-cengkeraman kekhawatiran yang selalu berusaha ia tekan. Membasuh rasa bersalahnya melalui limpahan sedekah ke rumah-rumah yatim, ke donasi-donasi bencana, ke yayasan-yayasan dhuafa, dan terutama untuk menyenangkan anak-istrinya dengan sebuah mobil baru dibeli tunai. Meski demikian, ia terkadang masih dihantui was-was, merasa dibuntuti kala berkendara dari rumah atau menuju rumah.

Hamzah sadar ia memasuki periode baru di perjalanan hidupnya. Dianugerahi kelimpahan mendadak, namun tercekik dalam kecemasan. Awan paranoid senantiasa menggelayut di jiwanya yang sekarat. Linglung.

Takut sisa uangnya dipergoki oleh Tami, Hamzah tidak menyimpannya di rekening maupun di rumah, ia konversi ke emas yang ia taruh di brankas bank lokal. Terlebih karena harga emas sedang melambung tinggi, terus melambung seiring gejolak politik dunia.

Suka tidak suka ia meyakini bahwa apa yang sedang dihadapi tak mampu ia hindari, semuanya di luar kendali. Ia hanya mengupayakan mitigasi dampak malapetaka yang mungkin terjadi. Pernah dalam situasi keterpurukan mental, Hamzah berpikir untuk keluar saja dari tempat kerjanya, namun berapa banyak orang di sekitarnya yang menggantungkan harapan hidup padanya.

“Mas, Mas kan tahu ada sanksi besar dari negara kalau Mas melanggar perjanjian kerja sebelum waktunya,” Tami protes keras sewaktu Hamzah mengutarakan rencana resign.

“Apa sudah Mas pertimbangkan juga darimana kita bisa bertahan hidup, membiayai pengobatan Rahmi, ditambah pula menutupi kebutuhan Ibu dan Bapak?” cecarnya menusuk kalbu.

Mendengar keluhan tersebut, nyali Hamzah semakin terjun bebas ke jurang keputusasaan. Dadanya menciut sesak.

***

Minggu-minggu berlalu dengan deraan pikiran dan tekanan emosional. Semakin ia tuntaskan beban-beban pekerjaannya, semakin jiwanya mengalami kehampaan. Tak mampu ia hentikan badai kewajibannya, tak ada ruang juga untuk menumpahkan kemasygulannya. Hamzah pun tumbang dalam demam. Serangan panas tinggi mengakibatkan dirinya sering mengigau tentang kondisi pekerjaannya, tuan-tuannya yang terselubung, serta kekosongan hidup yang belakangan ini menerpa kesadarannya.

Tami yang mendengarkan itu semua, tidak menangkap apa yang diocehkan oleh sang suami dan hanya menganggap semata efek rasa sakitnya. Selama tubuh Hamzah panas menggigil, ia sering berhalusinasi didatangi oleh malaikat-malaikat beraneka wujud. Mereka semua mengelilingi Hamzah dengan kepakan sayap yang sanggup menerbangkan gunung-gunung. Menyaksikan itu, tubuh Hamzah semakin bergetar sampai menderakkan ranjang.

Kondisi Hamzah memburuk. Ia harus dirawat intensif di rumah sakit. Kantor membebaskan tanggungjawabnya sementara. Di fase tersebut, ia memasuki alam keheningan. Segalanya kelabu, namun binar-binar cahaya sesekali menerangi sekitar, menghalau tirai gelap yang seakan hendak mendominasi. Banyak sosok-sosok berpakaian putih yang ia jumpai di sana, baik yang ia kenal sudah wafat maupun wajah-wajah asing. Mereka semua tersenyum menatapnya.

“Sudahkah kau selesaikan tugasmu?” salah satu dari mereka bertanya.

“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan,” timpal yang lain.

“Jangan takut, selalu ada pilihan,”

Dialog semacam itu terjadi berulang kali dengan gulungan pertanyaan yang tidak dipahami sedikitpun oleh Hamzah. Tami yang sehari-hari menemani suaminya di rumah sakit tak tahan tiap kali melihat Hamzah kejang-kejang dalam tidurnya dengan tubuh basah kuyup.

Tak lama, tersebar berita sangat cepat bahwa Hamzah sedang sekarat. Ia tenggelam dalam koma sebulan lebih. Keluarga dan rekan kerjanya berduka. Tidak menyangka di usia semuda itu panglima kematian telah membidiknya. Di sisi lain, kantor Hamzah pesimis dengan kondisinya, ia dicoret dari daftar karyawan. Posisinya langsung sudah ditawarkan kepada kandidat lain.

Pihak rumah sakit akhirnya menyerah. Pihak asuransi pun menolak membayar biaya pengobatan yang terus membengkak. Tami dengan kesenduan yang melewati batas harus membawa Hamzah pulang ke kediaman mereka. Tubuh kurus tersebut tergeletak lunglai di kamar, sementara sukmanya sudah mengembara entah ke mana.

Suatu sore sebuah karangan bunga raksasa tiba di rumah. Pengirimnya Pak Kepala yang mewakili lembaga tempat Hamzah bekerja. Karangan tersebut bertuliskan ‘Selamat Jalan Karyawan Teladan, Jasamu pada Negara Tak Terhingga’, beserta tumpukan uang tunai yang keduanya diletakkan persis di samping tempat tidur Hamzah. Sedangkan di atasnya, Hamzah masih terbaring mengurai detik nafas terakhir.

Bogor, Februari 2026

*****

Editor: Moch Aldy MA

Sarah Monica
Sarah Monica A Life Traveler who Embraces the God's Fortune.

One Reply to “Tugas Negara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email