Abdul Turgenev, menetap di Jakarta. Suka bikin puisi di Instagram @abdulturgenev. Koresponden: abdlturgenev@gmail.com

Beberapa Jazz di Kedua Telingamu dan Puisi Lainnya

Abdul Turgenev

3 min read

beberapa jazz di kedua telingamu

do-mi-re-sol-fa-do-la
nada-nada hanya percaya
kenikmatan selalu butuh
pengalaman pertama
untuk mengulangi iramanya

mendekati subuh—angin memintal
ke jendela, dan nyamuk nakal
mengingatkan pada sentuhan pertama
seperti pisau tajam melukai
pohon beringin yang lebat dan
terus menggoreskan batangnya
di mana garis tubuh membentang
dan terlena oleh desah remaja
yang terburu-buru bergemuruh itu

mendekati subuh—nada beterbangan
mendekati alam jernih di dada yang pasrah
dari surga perempuan yang memerah
irama memekik birahi pertama
dan angin terpintal ke serpihan sprei
yang polos tanpa motif
kecuali bau keringat lengket
yang membicarakan cairan putih itu

mendekati subuh—angin mendayu-dayu
melerai sebuah jazz yang perlahan layu
tiada yang terkenang dari hari itu
kecuali kenikmatan yang lugu
membangunkan gairah remaja-Ku

do-mi-re-sol-fa-do-la
nada-nada tak mungkin percaya
kalau kenikmatan pertama
hanya mampu menaungi gairahnya

(2026)

nyaris menjadi apa

teguk saja kata sebelum kamu marah
dan muntahkan kesepian yang lumrah
yang tersekap di wajahMu
atau luapkan nama di balik dadamu
tentang benci yang membakar dengkulmu

dan ingatan sialan atas kehendak kebebasan
yang merangsang ubun-ubun remaja
dan beberapa keringat di kulit perunggu

coba zikirkan dua lirik yang membuka
pintu penjara keberanian
sebelum tegukan pertama menggilas
desah kesepian yang buas

teguk saja metafora yang birahi
dan cengeng, sebelum pelipis matamu
mengecoh kenikmatan pertama
di bawah bulan merah tembaga
dan mimpi-mimpi menggetarkan dengkul
dengan tawa, dengan marah dan setia

“sudah kuteguk, sayang
tapi aku belum kenyang
berapa desah agar bisa kudapatkan marah?”

teguk saja kata sebelum kamu marah
dan muntahkan keinginan remaja
setelah kenikmatan menduduki wajah

teguk saja kata sebelum kamu marah
meski kamu keliru dan berduka
tapi siapa yang mampu membaca desah
ketika kata hanya mengingatkan
perasaan duka yang entah apa ujungnya

teguk saja, sayang
agar marah dan desah
jadi mudah dibaca
oleh kesepian
dan kegagalan

(2026)

jazz pertama

meski hujan
yang membawa sedih dan putus asa
kepada hidup, kepada masa remaja
dan mimpi-mimpi yang selalu sirna
di dunia ketiga
belum melerai satu dan dua hal alasan
untuk berpisah di malam pertama
dan airmata kerinduan menggeliat
di dagu dan sela payudara
jadi keringat jadi daki dan beku
dan gemuruh suara hujan
parau menyapa ujung jari manis
sebagai salam perpisahan
yang tragis

meski kemarau yang membawa
duka dan amarah
kepada hidup dan aliran cinta
dan mimpi yang menelan kesepian
di pulau jawa
belum mampu membaca satu keinginan
untuk bertahan di ujung malam pertama
dan menahan senyum perpisahan itu
dan hawa angin panas menekan
pinggul yang tipis
sebagai salam perjumpaan
yang sia-sia

meski demikian akhirnya
kau dan aku bersama
atau berpisah
apa yang mampu menahanmu
dan mengusirku
dalam kepingan hari-hari itu?

meski kemarau dan hujan
menyalib kedua mataku
dan bibir remajamu
kepada hidup, kepada masa remaja
di indonesia
belum selesai juga satu dua alasan
mengimani seperangkat kemampuan
untuk menyembah alasan
dan menelantarkan keraguan

meski kau dan aku
berpisah atau bersama
siapa yang berhak mengatakan
bahagia dan sedih pada kehidupan?

meski hujan
dan kemarau itu
melerai ingatan dan harapan
apa kau dan aku bisa berdampingan?

(2026)

menjahit skripsi

: buat Alice

dua setengah sentimeter
metodologi terkapar
di laman belakang, dan
sepertiga tekstil impor
memisahkan ingatan

latar belakang peristiwa sudah
retak pasca banjir awal tahun
meniadakan identitas masalah
dan tekanan relevansi hanya berserah
memilih hinaan estetika

(-) motif dan garis latar tercermin
dari bentangan laut jawa
(+) setengah sentimeter bahan
putus di tengah, kita hanya
perlu memperbaikinya
(-) segera lanjutkan kalimat
sebelum kain melumat bibir

pattern making tanpa gairah
melebur satu sentimeter, di sudut
kanan atas dan lebih jelek
dari kuku jari kelingking

Alice melumat warna kain
bibirnya tidak bisa berhenti
menegur sketsa yang sulit
dijelaskan

di laman pembuka, percampuran
warna tanpa takaran
berjalan melalui akhir paragraf
tiada yang bisa menerima masa kini
dan kain hanya merindukan kejayaan

Alice mengunci dua setengah
sentimeter sutra, dan katun
dari kausalitas sejarah yang bias
mengkerut pada teori

di laman isi, Alice memanjangkan
lengannya, tujuh sentimeter nilon
menebak garis dua
yang terjebak nostalgia

(-) berikan dua lekukan pinggang
lalu perut, dan celah kaki
(+) apa yang mesti dilupakan
sebelum teori bersemi kembali?
(-) ukuran dan urutan rumus
seirama zat yang tandus
(+) lupakan saja estetika, lanjutkan
masalah laman kedua

dua setengah sentimeter
metodologi terkapar
di laman belakang, dan
kalimat belum berakhir
menjelang subuh sabtu itu

satu sisa benang kecil menekankan
teori, masuk dari celah jari manis
—dan hanya masuk

daftar isi menunggu pecahan bagian
yang belum punya nama
kata-kata hampir rusak setelah
tiga sentimeter kain menemukan
jalan keluarnya

dua setengah sentimeter
metodologi terkapar
di laman belakang, dan
bagian akhir terlambat dua jam
sebelum perjalanan menolak pulang

(2026)

wisma

: kepada perempuan itu

lewat tengah malam, keringat jatuh
melingkari dadaku, suara kadang
meringis malu-malu, dingin dan
panas melebur, dan
napasku terdengar jauh
ke tempat yang ramai-tabu

“bahagia dan duka
belum mudah kucerna”

aku mendengar musik dari
dalam hatiKu, darahKu menari
mengikuti imajinasi
sekumpulan saraf memanggil
dan menggeliat tanpa pamrih

lewat tengah malam, keringat
gugur di kasur, terasa lengket, dan
senyum atau sedih
menggelepar-sekarat-
di awan awan, tubuh menggigil
dan darahku menari
mengikuti imajinasi
serta memanggil
dan menggeliat
membabi-buta

“entah, aku hanya manusia
bahagia dan duka
mungkin memang sama”

aku mendengar suara hatiku
tak sanggup bertahan
dan melawan

lewat tengah malam
keringat jatuh di kasur
dan suara hatiku
menyerbu kesadaranKu

*****

Editor: Moch Aldy MA

Abdul Turgenev
Abdul Turgenev Abdul Turgenev, menetap di Jakarta. Suka bikin puisi di Instagram @abdulturgenev. Koresponden: abdlturgenev@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email