Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Di Antara Nama-Nama Bulan dan Puisi Lainnya

Salman Alade

2 min read

Di Antara Nama-Nama Bulan

Doa itu diucapkan pelan,
sering sambil membereskan alas tidur,
atau saat keran dibiarkan terbuka
sedetik lebih lama.

Ia bukan permintaan rumit.
Hanya harap
agar waktu tidak memotong langkah
di tengah jalan.

Kami menyebut nama bulan
seperti menyebut tujuan perjalanan:
bukan untuk pamer rencana,
melainkan agar kaki tidak salah arah.

Doa ini menempel
        di kalender,
            di kaca spion,
                di ingatan ibu
yang selalu menyelipkannya
di akhir salat.

Ia tidak meminta kaya,
tidak meminta kebal.
Hanya ingin cukup umur,
cukup napas,
cukup kesempatan
untuk sampai.

Dan setiap kali doa itu diulang,
kami tahu:
tidak semua orang meminta surga,
sebagian hanya ingin
tidak gugur
sebelum waktunya tiba.

Doa 1/

Rajab

Jam dinding mulai lambat
seperti ragu ikut berdetak.

Kalender digantung miring,
halamannya belum disobek
karena tangan masih ingin menunda.

Sajadah digelar,
tapi lipatannya belum sepenuhnya jinak,
ada bekas lutut lama
yang belum selesai berdoa.

Bulan ini tidak berkata apa-apa.
Ia hanya memindahkan
kursi kecil
di
dalam dada
agar seseorang mau duduk
lebih lama bersama dirinya sendiri.

:
Jika waktu masih Kau biarkan berjalan,
tolong jangan percepat kami.
Biarkan kami belajar duduk lebih lama
sebelum berani melangkah.

Doa 2/

Syakban

Sendok-sendok
disusun ulang,
panci dipindahkan ke tungku depan,
api dinyalakan lebih awal
meski belum ada yang lapar.

Puasa dimulai
seperti menarik napas panjang
di ruangan sempit.

Perut bertanya,
jam tangan menipu,
dan mulut belajar diam.

Di bulan ini,
bahkan suara minyak mendidih
terdengar seperti nasihat:
pelan saja,
rasa butuh waktu.

:
Jika rasa belum juga jinak,
jangan jadikan kami tergesa.
Ajari kami menunggu matang,
bukan sekadar kuat.

Puasa Sunah

Puasa ini tidak punya seragam.

Ia datang di hari kerja,
di sela rapat,
di antara bunyi notifikasi
yang tetap meminta perhatian.

Perut menandai waktu
lebih jujur daripada jam.
Lidah belajar
menyimpan komentar
di belakang gigi.

Puasa ini sering sendirian,
tidak ada yang mengingatkan sahur,
tidak ada yang bertanya
sudah kuat atau belum.

Ia selesai
bukan ketika magrib tiba,
melainkan saat seseorang
berhasil melewati
satu godaan kecil
tanpa perlu menang.

Puasa seperti ini
tidak menjanjikan apa-apa,
kecuali latihan diam
agar kelak,
ketika bulan besar datang,
tubuh tidak kaget
menjadi patuh.

Nisfu Syakban

Lampu dimatikan satu per satu,
tirai tidak ditutup rapat,
agar malam bisa masuk
tanpa izin.

Air wudu menetes terlalu lama
di keran,
seolah ingin mencuci
sesuatu yang tak terlihat.

Nama-nama berjatuhan
dari kepala ke lantai,
beberapa diangkat kembali,
beberapa dibiarkan tinggal
sebagai debu.

Malam ini,
bahkan dinding tahu:
doa tidak akan sampai
jika hati masih mengunci
pintu belakang.

Surah Yasin yang Dibacakan Tiga Kali

Kitab dibuka,
kertasnya berdesir
seperti napas orang tua.
Bacaan pertama rapi,
kedua mulai goyah,
ketiga tinggal suara
yang bertahan
agar tidak pecah.

Tasbih berhenti di angka tertentu,
bukan karena lupa,
tapi karena dada terlalu penuh.

Tiga kali bukan pengulangan,
ia cara manusia
meyakinkan dirinya sendiri
bahwa harap
masih layak diucapkan.

Menu Buka Puasa

Gelas diletakkan pelan,
air bergetar sebentar
lalu tenang.

Kurma disentuh,
tapi tidak langsung dimakan,
ada jeda kecil
agar tubuh tahu
ia aman sekarang.

Meja makan tidak pernah bohong.
Ia tahu
siapa yang menahan dengan ikhlas
dan siapa yang sekadar menunggu
waktu berlalu.

Tiliaya

Gula merah mencair
seperti suara ibu
yang jarang meninggi.

Santan mengental
pelan-pelan,
panci dijaga
agar tidak gosong,
seperti perasaan
yang terlalu lama dipendam.

Tiliaya
tidak ingin cepat habis.
Ia ingin dimakan perlahan
agar manisnya
sempat mengingatkan:
            puasa bukan penderitaan,
            ia perjalanan
pulang.

Doa 3/

Ramadan

Alarm disetel lebih pagi,
tirai digeser,
dapur kembali hidup
sebelum matahari.

Tubuh sudah belajar menahan,
jam sudah terbiasa jujur,
dan hati mulai tahu
kapan harus diam.

Ramadan datang
bukan sebagai kejutan,
melainkan sebagai ruang
yang akhirnya siap ditempati
oleh manusia
yang telah lama berlatih
menjadi cukup.

:
Jika kami
    Kau
izinkan tinggal,
jangan biarkan kami hanya lewat.

Buat kami betah belajar pelan,
dan pulang tanpa merasa selesai.

(Syakban di Yogyakarta, 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email