Negara Datang Tanpa Wajah
Negara itu datang,
bukan membawa cangkul atau keringat,
tapi tabel dan angka
yang haus darah.
Ia tak tanya:
berapa porsi nasi yang kau beli,
berapa anakmu yang tak bisa baca,
berapa utang di koperasi tetangga.
Ia cuma hitung omzet,
bukan keringat atau rugi,
bukan malam-malam merangkai doa di terpal bocor.
Aku dengar:
“Omzet sepuluh juta, cukai setengah juta!”
Itu bukan tawar,
itu vonis.
Dan lapak-lapak merunduk,
seperti kambing menjelang Idul Adha.
Kalian panggil kami UMKM,
tapi kami cuma manusia—
yang jualan gorengan sambil gendong anak,
yang lapaknya kalah dengan minimarket,
yang tidur di kardus bekas iklan rokok.
Dan kalian bilang:
“Adil.”
Adil macam apa, ketika kami
dipajaki seperti penguasa waralaba?
Kami bahkan tak sanggup bayar parkir
di mal yang kalian bangun.
Negara,
kau bukan ibu.
Ibu tak menjarah piring nasi anaknya.
Kau bukan ayah.
Ayah tak melempar nota pajak ke warung reot.
Tapi kami tahu,
kalian cinta statistik.
Kalian suka data yang berdasi.
Maka kami mati perlahan—
masuk grafik,
jadi angka pengangguran musiman,
jadi studi kasus.
Dosenmu akan bilang: “Dampak ketimpangan fiskal.”
Padahal itu cuma kami—
yang tak sanggup bayar.
Aku akan tetap jualan.
Dengan doa yang sobek,
dengan izin yang basi.
Karena lebih mudah dapat SIM malaikat
daripada NPWP pedagang kecil.
Dan jika nanti kami tumbang,
jangan bilang:
“Itu karena mereka malas.”
Karena kalian yang paling rajin—
merampas.
–
Madu dan Racun di Keranjang Checkout
Gratis ongkir, potongan harga,
keranjang berbunyi cling—
lalu tangan sunyi, auto-debit pajak,
mengunyah perlahan, menelan cepat.
Katamu madu keadilan fiskal.
Lidah kami, rasa obat pahit tanpa air.
Admin fee: negara,
komentar: “wajib taat, bro.”
Balasan kami: “tenang, perut juga patuh pada lapar.”
Yang besar bersembunyi di balik diskon,
yang kecil terhampar seperti dahi di lampu toko.
Kami unggah katalog, mereka unggah pasal.
Like and share?
Silakan.
Yang kami butuh: sisa nasi tanpa filter.
Jika pasar itu timeline,
kami cuma thread yang tenggelam.
Negara pin,
kami mute.
–
Pasal, Tahun, Danar
Tujuh tahun kami sendiri,
lima tahun firma, tiga tahun PT—
jam pasir jatuh,
pasal-pasal berdiri tegak,
membentak bagai palang pintu.
Lalu tarif merangkak,
lima, dua puluh, tiga puluh—
angka-angka yang tak pernah mengantre beras.
Kau bilang: “Sementara.”
Sementara itu lama,
jika dapur pendek.
Di meja kayu ini,
aku hitung rugi, menghitung uban bapak.
Tiap butir berbisik:
“Kerja lagi, bayar lagi, waras jangan pergi.”
Negara, kau merapikan nota,
kami merapikan harap.
Mari bertukar:
kau simpan lapar,
kami setor kenyang.
Jika esok peraturan berganti baju,
tolong, sisakan saku kecil di dada kami.
Biar ada tempat untuk pulang,
selain ke pasal.
*****
Editor: Moch Aldy MA
