Negara Datang Tanpa Wajah dan Puisi Lainnya

Fitri Rusandi

1 min read

Negara Datang Tanpa Wajah 

​Negara itu datang,
bukan membawa cangkul atau keringat,
tapi tabel dan angka
yang haus darah.

​Ia tak tanya:
berapa porsi nasi yang kau beli,
berapa anakmu yang tak bisa baca,
berapa utang di koperasi tetangga.

​Ia cuma hitung omzet,
bukan keringat atau rugi,
bukan malam-malam merangkai doa di terpal bocor.

​Aku dengar:
“Omzet sepuluh juta, cukai setengah juta!”
Itu bukan tawar,
itu vonis.

Dan lapak-lapak merunduk,
seperti kambing menjelang Idul Adha.

​Kalian panggil kami UMKM,
tapi kami cuma manusia—
yang jualan gorengan sambil gendong anak,
yang lapaknya kalah dengan minimarket,
yang tidur di kardus bekas iklan rokok.

​Dan kalian bilang:
“Adil.”
Adil macam apa, ketika kami
dipajaki seperti penguasa waralaba?
Kami bahkan tak sanggup bayar parkir
di mal yang kalian bangun.

​Negara,
kau bukan ibu.
Ibu tak menjarah piring nasi anaknya.
Kau bukan ayah.
Ayah tak melempar nota pajak ke warung reot.

​Tapi kami tahu,
kalian cinta statistik.

Kalian suka data yang berdasi.

Maka kami mati perlahan—
masuk grafik,
jadi angka pengangguran musiman,
jadi studi kasus.

Dosenmu akan bilang: “Dampak ketimpangan fiskal.”
Padahal itu cuma kami—
yang tak sanggup bayar.

​Aku akan tetap jualan.
Dengan doa yang sobek,
dengan izin yang basi.
Karena lebih mudah dapat SIM malaikat
daripada NPWP pedagang kecil.

​Dan jika nanti kami tumbang,
jangan bilang:
“Itu karena mereka malas.”
Karena kalian yang paling rajin—
merampas.

Madu dan Racun di Keranjang Checkout

​Gratis ongkir, potongan harga,
keranjang berbunyi cling—
lalu tangan sunyi, auto-debit pajak,
mengunyah perlahan, menelan cepat.

​Katamu madu keadilan fiskal.
Lidah kami, rasa obat pahit tanpa air.
Admin fee: negara,
komentar: “wajib taat, bro.”
Balasan kami: “tenang, perut juga patuh pada lapar.”

​Yang besar bersembunyi di balik diskon,
yang kecil terhampar seperti dahi di lampu toko.
Kami unggah katalog, mereka unggah pasal.
Like and share?
Silakan.
Yang kami butuh: sisa nasi tanpa filter.

​Jika pasar itu timeline,
kami cuma thread yang tenggelam.
Negara pin,
kami mute.

Pasal, Tahun, Danar

​Tujuh tahun kami sendiri,
lima tahun firma, tiga tahun PT—
jam pasir jatuh,
pasal-pasal berdiri tegak,
membentak bagai palang pintu.

​Lalu tarif merangkak,
lima, dua puluh, tiga puluh—
angka-angka yang tak pernah mengantre beras.

Kau bilang: “Sementara.”
Sementara itu lama,
jika dapur pendek.

​Di meja kayu ini,
aku hitung rugi, menghitung uban bapak.
Tiap butir berbisik:
“Kerja lagi, bayar lagi, waras jangan pergi.”

​Negara, kau merapikan nota,
kami merapikan harap.
Mari bertukar:
kau simpan lapar,
kami setor kenyang.

​Jika esok peraturan berganti baju,
tolong, sisakan saku kecil di dada kami.
Biar ada tempat untuk pulang,
selain ke pasal.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Fitri Rusandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email