Merayakan Cemas di Media Sosial: Ketika Satir Menjadi Katarsis Generasi Doomscrolling

Fitri Rusandi

2 min read

Belakangan ini, membuka media sosial sebelum tidur rasanya seperti sengaja menyerahkan diri pada insomnia. Alih-alih mendapat hiburan, linimasa kita justru menjelma menjadi parade realitas yang sedang babak belur. Layar kaca gawai kita mendadak bising oleh rentetan berita PHK massal di berbagai sektor, syarat lowongan kerja korporat yang makin tidak masuk akal─seperti mencari manusia ajaib berusia maksimal 22 tahun tapi punya pengalaman kerja 5 tahun─hingga meroketnya biaya hidup yang melompat jauh meninggalkan angka kenaikan upah minimum.

Fenomena ini melahirkan ritual kolektif baru yang kita kenal sebgai doomscrolling. Sebuah kecenderungan masokis untuk terus menggulirkan layar, menelan bulat-bulat berita buruk dan konten yang memicu kecemasan, meskipun dada sudah terasa sesak. Kita cemas, kita burnout, tapi jempol kita menolak berhenti. Mengapa? Karena di balik algoritma yang kejam itu, kita sedang berburu rasa aman yang semu: sebuah konfirmasi bahwa kita tidak sedang hancur sendirian.

Komedi Gelap di Balik Tekanan Struktural

Menariknya, ada pergeseran budaya yang sangat kontras dari cara anak muda Indonesia hari ini merespons tekanan struktural tersebut. Alih-alih turun ke jalan dengan demonstrasi konvensional yang melelahkan, atau tenggelam dalam narasi depresi yang kelam, generasi hari ini memilih senjata yang jauh lebih subversif: humor satir dan seni “merayakan” penderitaan bersama.

Baca juga:

Coba tenggelam sejenak di kolom komentar Tiktok atau X (Twitter) saat ada isu kelas pekerja yang sedang viral. Kamu tidak akan menemukan petisi formal, melainkan festival komedi gelap. Kita akan dengan sangat mudah menemui komentar-komentar getir seperti, “Semoga tahun depan sudah jadi bagian dari takdir orang sukses, bukan lagi cuma jadi pelengkap statistik pengangguran BPS,” atau sebaran meme kreatif yang menertawakan kemalangan nasib sendiri. Kegetiran hidup diubah menjadi konten estetik; sebuah komedi situasi yang diperankan oleh kita semua sebagai rakyat jelata modern.

Di satu sisi, humor satir ini berfungsi sebagai katarsis psikologis yang sangat krusial. Ketika kenyataan di dunia nyata terasa terlalu absurd, kaku, dan mustahil untuk diubah oleh seorang individu, menertawakannya adalah cara paling instan─dan paling murah─untuk menjaga kewarasan yang tersisa. Ini adala coping mechanism kolektif.

Mengetahui bahwa ribuan anak muda lain di luar sana memakai “topeng badut” yang sama dan menghadapi kecemasan masa depan yang identik, melahirkan ruang solidaritas baru. Sebuah ruang yang membuat kita merasa senasib sepenanggungan di tengah ketidakpastiaan ekonomi global.

Jebakan “Learned Helplessness”: Ketika Amarah Menjadi Komoditas

Namun, di balik riuhnya tawa kolom komentar, fenomena ini juga menyalakan alarm bahaya yang bising. Ketika kritik sosial bertransformasi sepenuhnya menjadi sekadar banyolan atau bahan lucu-lucuan di media sosial, ada risiko psikologis yang besar: desensitisasi. Kita perlahan menjadi terlalu maklum dengan ketimpangan. Berita tentang sulitnya mencari kerja atau eksploitasi pekerja yang awalnya memicu kemarahan publik, lama-kelamaan menyusut hanya dianggap sebagai “konten harian” yang numpang lewat di beranda, diberi takarir lucu, lalu dilupakan saat kita menggulir ke bawah.

Di sinilah kita menghadapi bahaya laten bernama learned helplessness—sebuah kondisi psikologis di mana sebuah kelompok merasa begitu tidak berdaya untuk mengubah sistem yang korup atau timpang, sehingga mereka memilih pasrah dan mengasimilasi penderitaan itu menjadi bahan lelucon belaka. Amarah yang seharusnya menjadi bahan bakar perubahan, habis menguap menjadi tawa getir di ruang digital. Satir yang semula adalah senjata perlawanan, berisiko melunak menjadi sekadar bumbu penenang agar kita menerima keadaan dengan lapang dada.

Dari Tawa Getir Menuju Aksi Nyata

Menjadi muda dan bersuara bukan berarti menjadi generasi yang sekadar pasrah dan meratapi nasib lewat scroll tanpa akhir. Media sosial dan ruang digital yang kita miliki hari ini memiliki daya pikat yang terlalu besar jika hanya dihabiskan untuk meratapi nasib. Solidaritas digital yang terbangun dari rasa cemas yang sama ini adalah aset mentah yang sangat berharga. Rasa senasib ini mesti dirawat, dikurasi, dan dikonversi menjadi energi kolektif yang jauh lebih produktif.

Humor satir itu bagus, ia adalah pembuka pintu diskusi yang cair dan pemecah kekakuan birokrasi. Namun, setelah kita selesai tertawa bersama di kolom komentar, setelah jempol kita lelah memberikan tanda suka, langkah krusial berikutnya adalah mulai bergerak secara organik.

Baca juga:

Ruang-ruang digital ini harus direbut kembali fungsinya: dimanfaatkan untuk saling berbagi peluang kerja (bukan sekadar kompetisi), membangun komunitas literasi finansial yang membumi, menciptakan ekosistem kreatif yang mandiri, hingga mengorganisir gerakan publik untuk mengawal kebijakan pemerintah secara kritis. Kita harus memindahkan energi dari “menertawakan sistem” menjadi “mengakali dan memperbaiki sistem.”

Dunia hari ini mungkin memang berjalan terlalu cepat, egois, dan sering kali tidak ramah bagi anak muda yang baru mau merangkak. Namun, selama kita masih bisa membaca realitas dengan jernih dan kritis—meski harus diawali dengan tawa getir di layar gawai—berarti sumbu harapan itu belum sepenuhnya padam. Kita tidak sedang kalah atau menyerah pada keadaan; kita hanya sedang mengkonsolidasikan kekuatan dan mengumpulkan tenaga di tengah riuhnya panggung sandiwara digital. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Fitri Rusandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email