a lost soul who finds her silent journey on the paper through ink and words.

Menunggu Antrian dan Puisi Lainnya

Hira

1 min read

MENUNGGU ANTRIAN

malam menjemput namanya
yang tersisa separuh—
luruh digerus arus waktu,
terputus dari sauh yang hanya satu.

cahayanya padam, ditemani dinding dingin,
dinaungi atap yang menatap,
rintih berlipatkan ratap.

terbata-bata, berkaca-kaca,
terbatuk-batuk, terpekik-cekik.
lalu entah bagaimana,
seketika hening menelan udara.

nyawa dipetik dalam bilik sepi,
tanpa seorang pun menemani.

di luar sana,
mereka mengiba, berderai air mata,
pada kulit, daging, dan belulang yang habis masa,
padahal terlepas ia dari derita.

mereka bercerita, betapa penuh cinta,
memandikan, menyalatkan, mengantarkan pada mula,
padahal lusa juga sudah seperti biasa.

mereka tidak beda,
hanya tengah menunggu antrian saja.

LELUCON BANGKAI

penuh simak, kuperhatikan dengan seksama.
sebaris nama, yang kukenal tertera di atas pusara.
ia membusuk, terkubur, dalam detik yang dihambur-hamburkan.
mampus tergelimpang, hampa, tak menggenggam tenang.

kutertawakan ia, sebab tak ada doa, dalam ziarah panjang.
dagingnya menebal, tersumpal sesal, dan pasal-pasal yang mendakwakan.
ia berkawan derita dalam sisa nafasnya,
sengsara, dijadikan menu utama, para hantu gentayangan.

MANDI

kukucurkan air, meliputi tubuh.
membasuh peluh yang mengerak-mengering.
mencuci kulit dari daki yang menebal
menyirami jasad yang mustahil kekal.

setiap hari, dua kali sehari.
sibuk memandikan wadah yang tak berubah.
lupa menyucikan isi yang penuh jadah.
menumpuk sampah, dalam bilik bercat indah.

di balik balut kulit, ada jiwa penuh cela.
lama dibiarkan berdebu, dari waktu ke waktu.
berisi ngarai-ngarai bersimbah dosa,
penuh suara-suara tak terbilas lekas.

apakah air tahu, ke mana ia mengalir?
atau ia hanya jatuh, menunaikan kebiasaan,
tanpa pernah bertanya,
perihal apa-apa yang perlu disucikan.

kulit luarku bersih dengan basah
membungkus luka-luka yang terbuka.
terinfeksi oleh diam,
membusuk, lalu tenggelam.

hari tak berhenti,
sabun mandi berganti-ganti,
namun aku tetap saja begini,
bertopang cangkang.
mungkin, sampai mati.

HARGA MATI

dalam diam aku memaki nirwana,
sebab surga terlalu sunyi, untuk mereka yang patah.
aku membanting bayangan sendiri, ke dinding waktu,
hingga retaknya menyerupai wajah masa lalu.
sekarat membiru, namun tak kunjung mau.

setiap malam, kupungut reruntuhan jiwa
dengan tangan berparut penuh luka,
kusapu serpih harap, yang dulu kubentangkan
di atas ranjang doa-doa.
namun terus saja, ia menolak tiada.

remah roti dan reruntuhan atap,
tertumpuk membusuk, di bawah karpet nyawa.
tikus-tikus trauma, menggigiti mimpi dari dalam,
bau busuknya menjalar ke dinding dada,
mengubah detak jantung, jadi kode morse
yang mengelak dibaca semesta.

bukan damai yang tengah sibuk kukeruk—
hanya menadah sunyi yang tidak menusuk,
gelap yang tidak menggigilkan tulang.

tapi hari-hari terus berdetak,
mengikis harga diri yang semakin retak.
saldoku tak cukup, untuk membeli rasa kerasan,
yang semakin hari,
semakin mahal
untuk dibeli.

SIKSA BISU

kurasakan rajam puluhan duri menari-nari,
dalam rongga dada—gema sunyi tak terperi.
ulu hatiku ngilu, telinga kehilangan bahasa,
padahal, dulu tak pernah gagal kubaca aksaranya.

darah mendidih, dalam kuali penuh harap,
lebur ditumpahkan, pada tabah yang kini rebah,
mengguncang isi perutku, yang dibusungkan tanya,
tanpa jalan bagi muntahan duga yang tak terbaca.

tinta merah tumpah di tubuh pena,
membasahi kertas-kertas tanpa nama.
kehilangan bentuk, kehilangan makna.
mengering dalam usia, lalu sirna.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Hira
Hira a lost soul who finds her silent journey on the paper through ink and words.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email