Menjajah dengan Rasa Sayang: Menggugat Kolonialisme Tubuh pada Hewan Peliharaan

Abimanyu ismoyo Santoso

2 min read

Jempol saya berhenti mendadak di sebuah video Instagram yang viral minggu lalu. Di layar gawai, seekor anjing ras berjalan tertatih-tatih mengenakan setelan baju trendi dan sepasang sepatu sneakers mini yang didesain meniru merek manusia terkenal. Langkahnya kikuk dan kakinya diangkat tinggi-tinggi seolah sedang berjingkat di atas bara api.

Namun, respons yang muncul di kolom komentar justru sebuah perayaan massal. Ribuan netizen membanjiri kolom tersebut dengan pujian seperti “Gemes banget!“, “Lucu jalannya kayak robot!“, hingga mereka yang meminta tautan untuk membeli sepatu serupa. Bagi algoritma media sosial, penderitaan yang dikemas dalam estetika “imut” adalah tambang emas.

Realitas baru terkuak di detik-detik akhir video, bagian yang tidak estetis dan luput dari sorotan “gemas” itu. Sang pemilik memperlihatkan kondisi kaki anjing tersebut setelah sepatu dilepas. Kondisinya bengkak, merah, dan lembab karena infeksi. Kaki yang secara evolusioner didesain untuk mencengkeram tanah, bernapas lewat bantalan telapak, dan merasakan tekstur alam justru dipaksa masuk ke dalam cetakan karet kedap udara berjam-jam demi sebuah konten berdurasi lima belas detik.

Baca juga:

Momen itu menampar saya. Rasa ngilu melihat kaki yang bengkak itu seketika berubah menjadi pertanyaan yang menghantui. Apakah yang kita sebut sebagai “cinta” pada hewan peliharaan hari ini sebenarnya adalah bentuk penjajahan yang tak disadari?

Misi Pemberadaban Tubuh

Kita sering berpikir bahwa penjajahan hanya terjadi lewat senjata. Namun, kajian Critical Animal Studies (CAS) mengingatkan kita pada bentuk kekuasaan yang lebih subtil, yaitu kekuasaan yang bekerja melalui kasih sayang.

Fenomena mendandani hewan ini memiliki jejak DNA yang mirip dengan narasi kolonial masa lampau yang disebut “Misi Pemberadaban” (Civilizing Mission). Teringat bagaimana penjajah Eropa dahulu merasa risih melihat penduduk pribumi di daerah tropis yang berpakaian minim. Atas nama “kesopanan”, mereka memaksa penduduk lokal mengenakan jas tertutup dan sepatu kulit kaku. Atribut ini menyiksa di tengah udara panas, namun dianggap sebagai simbol kenaikan status sosial.

Kini, logika yang sama kita terapkan pada “anak bulu” kita. Kita melihat tubuh alami hewan seperti bulu, cakar, dan ekor sebagai sesuatu yang “kurang”. Anjing yang sekadar menjadi anjing dianggap belum paripurna. Ia baru dianggap layak tampil jika sudah “diberadabkan” dengan gaun atau sepatu. Dalam perspektif Michel Foucault, ini adalah bekerjanya biopolitik di ruang domestik, di mana kita mendisiplinkan tubuh liyan agar sesuai dengan standar estetika kita.

Antara Perlindungan dan Proyeksi Ego

Tentu saja ada argumen kontra yang valid bahwa iklim tropis bisa menjadi kejam. Aspal Jakarta di siang hari bisa mencapai suhu yang melepuhkan kulit dan anjing membutuhkan perlindungan. Di titik ini, alas kaki adalah instrumen keselamatan (safety gear), bukan sekadar hiasan.

Namun, kita perlu menarik garis demarkasi yang tegas antara “Perlindungan” dan “Proyeksi”.

Perlindungan berorientasi pada kenyamanan hewan. Sepatunya didesain ergonomis, berbahan yang memungkinkan sirkulasi udara, dan dilepas segera setelah fungsi perlindungannya selesai. Sebaliknya, apa yang viral di media sosial sering kali adalah proyeksi. Sepatu didesain semata-mata untuk meniru estetika manusia, seperti sneakers basket atau boots kulit, tanpa memedulikan biologi kaki anjing yang melebar saat menapak.

Kasus kaki bengkak yang viral itu adalah bukti nyata ketika fungsi perlindungan dibajak oleh ego estetika. Anjing itu tidak sedang berjalan di aspal panas. Ia sedang berjalan di lantai mal yang dingin, terjerat dalam sepatu sempit, hanya agar terlihat “modis”. Di sinilah letak penindasannya, yaitu ketika kita memprioritaskan “kelucuan” bentuk sepatu di atas kesehatan kaki yang memakainya.

Boneka Bernyawa di Etalase Digital

Mengapa kita tetap melakukannya meski tahu hal itu tidak nyaman bagi mereka? Jawabannya terletak pada Reifikasi atau pembendaan. Dalam era kapitalisme digital, hewan peliharaan mengalami pergeseran fungsi dari “sahabat” (subject) menjadi “konten” (object).

Baca juga:

Ketika kamera menyala, anjing itu berubah menjadi manekin bernyawa. Nilainya tidak lagi diukur dari kebahagiaan biologisnya, tapi dari seberapa banyak likes yang bisa ia panen. Kaki yang bengkak menjadi tidak relevan asalkan videonya “gemes”. Kita mencintai citra mereka di layar gawai, lebih daripada kita mencintai realitas tubuh mereka yang sebenarnya.

Dekolonisasi Cinta

Sudah saatnya kita melakukan “dekolonisasi” dalam cara kita mencintai hewan. Dekolonisasi di sini berarti membongkar struktur mental “Tuan-Hamba” di kepala kita. Ini berarti berhenti melihat tubuh hewan sebagai wilayah jajahan yang harus dipercantik demi kepuasan mata manusia.

Cinta yang sejati seharusnya membebaskan, bukan mengekang. Mencintai seekor anjing berarti menerima seutuhnya “ke-binatang-an” (animality) mereka. Membiarkan telapak kaki mereka menyentuh rumput dan tanah secara langsung tanpa terhalang sol karet adalah bentuk penghormatan tertinggi kita terhadap dunia indera mereka.

Mungkin bentuk kasih sayang tertinggi di era ini bukanlah dengan membelikan sepatu branded. Kasih sayang tertinggi adalah kemampuan untuk menahan ego kita dan berkata, “Kamu tidak perlu terlihat lucu demi kontenku. Kamu cukup menjadi dirimu sendiri, yang sehat, yang bebas, dan yang nyaman dengan tubuh alamimu.” (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Abimanyu ismoyo Santoso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email