satir adalah humor | romuh halada ritas

Mengunjungi Lebaran dan Puisi Lainnya

Kelabu -

51 sec read

MENU LEBARAN

Ibu sibuk di dapur
memasak daging sedihnya
yang alot menghadapi kehidupan.

Hidup tak segera matang
meski digodok
dengan terik matahari
sepanjang tahun ini.

BAJU LEBARAN

Bapak telah berutang
untuk membelikan aku baju lebaran.
Baju lebaranku lucu,
bermotif wajah malu-malu bapak
meminjam uang kepada Tuhan.
Baju lebaranku bagus sekali,
jahitannya rapi
dari benang kehidupan bapakku.

Saat lebaran,
kulihat baju bapak bolong-bolong,
hilang motif-motifnya.
Saat kuamati,
motif baju lebaran bapak
telah diberikan kepada baju lebaranku.

Kupeluk bapakku,
dan kujadikan bapak
sebagai motif kehidupanku.

MENGUNJUNGI LEBARAN

Lebaran duduk di teras rumahnya
yang lusuh
kehilangan fitrahnya.
“Sedang menunggu apa, Lebaran?”
“Sedang menunggu keluarga kecil
meminta maaf kepadaku.”

Aku memandang kasihan pada lebaran.
“Tahun lalu keluarga kecil tak mengunjungimu
karena bapak
masih sibuk mengejar bonus kerja
di luar kota.
Ibu terjebak di toko pakaian
sebab bingung memilih baju mahal mana
yang akan dipamerkan
di perkampungan,
kudengar dompetnya menjerit-jerit
seperti suara suaminya.
Anak-anak di rumah menangisi diri sendiri
saat melihat satu keluarga
berpelukan sambil selfie.”

FOTO LEBARAN

Lebaran tahun ini
tak ada foto lebaran.
Foto masih meminta maaf
kepada miskin,
banjir,
dan
para demonstran.

CARA MERAYAKAN LEBARAN

Gunting malam lebaran,
jahit menjadi baju lebaran.

Ambil bulan di langit,
potong-potong,
lalu hidangkan menjadi kue lebaran.
Tapi tak ada bulan,
bulan sudah mudik mengunjungi kuburan.

Simpan kemiskinanmu
di dalam kaleng Khong Guan.
Rengginang akan mengubahnya
menjadi lelucon
dan menawarkan guyon
bagi siapa saja
yang tertipu dengan kehidupanmu.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Kelabu -
Kelabu - satir adalah humor | romuh halada ritas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email