Sang Legenda

Memetakan Luka dan Puisi Lainnya

Hilmy Almuyassar

44 sec read

Menaklukan Rindu

Ada tunggu di bibir kita
saat insomnia ini melaut.

Aku tidak minum kopi
sebab rindu sama pahit

Samudra sebagai batas
telah memainkan peran

Dan kita belum juga
menaklukkan
nya.

(2023)

Mencemaskan yang Kau Inginkan

Biru yang resap di ujung jari
setiap dingin bangun pagi.
Sedang mimpi buruk begadang,
masih terjaga.

Kau benci sulit bernafas karena pekerjaan
cicilan dan asmara membuntutimu setiap hari.

Kau benci mencemaskan apa yang kau inginkan.

(2024)

Buat Sahabat Kuliah

Kita terlalu cepat dari jalanan Purwakarta
terlalu cepat dari kenangan kita sendiri
terlalu cepat berpisah.

Di kosan itu
Waktu bukan transaksi kesepian
Apalagi sampah masa depan.

Kosan adalah pena
Sampai hari ini
ingatan kita ditulis

gitar-patungan rokok-saybia

Masa lalu nyala dan abadi
sampai ke ujung-ujungnya

Dan hanya itu yang tersisa.

(2024)

Pulang Kerja di Karawang

Kita terlalu kecil di depan kendali
Bahkan terlalu kecil untuk berharap.

Kau pun bilang
kalau bukan karena ibu
lebih baik aku durhaka

Pemegang ugal-ugalan
Tak ada alasan untuk tetap

Kota telah lama berlubang
nyawa kita dibiar karam

Sementara Tan Malaka berani
lantas, dibuang.

Aku cuma karyawan.

(2025)

Memetakan Luka

Dirimu pukul 12 malam
memetakan luka-luka kantor

—Siang itu mengetik namamu
dengan kalimat paling racun

Kau meminta siasat
pada kosong sudut kamar

putih dadamu terbakar
matang jadi dendam.

(2023)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Hilmy Almuyassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email