Remah-remah Sastra Indonesia

Membaca Metamorfosis dan Puisi Lainnya

Ridho Daffa Fadilah

1 min read

V

Ada hari ketika
Gelombang pasang
Tak bikin gamang
Badai datang
Tak bikin patah
Ranting

Dan itu hanya
Hari lalu

Ada hari saat
Angin paling ribut
Merupa hampa
Dengan wajah buruk

Kepalaku
Jurang dalam yang
Bikin waktu
Tak lagi jalan

Dan hari
Tak lagi bernama

(Juni 2024)

VIII

Saat badai datang
Sungai meluap dan
Luber di wajahmu
Kerongkonganmu sarang
laba-laba
Benda-benda dari masa lalu
Berhamburan dari mulutmu
Dan kupu-kupu dalam
Perut meranggas jadi
Tai

Maka
Saat badai datang
Kau sepasrah air hujan
Kepalamu penuh oleh
Dirimu yang lain

(Mei 2024)

XI

Apa yang akan kau lakukan jika
Keruh tak lagi dapat dibekuk?
Sesuatu berbisik tepat di tengkukmu
Tak lagi dapat kau hadang

Memaksamu melakukannya

Kau akan menuntaskannya
Atau tetap menjadi vas bunga
Di pojok ruangan?

(Juli 2023)

Membaca Metamorfosis

Apa yang terjadi setelah mimpi buruk
Adalah neraka tak ada habis
Dengan kerak menempel di
Seluruh rumah
Dan orang lain menjadi
Yang lain

Keinginan adalah comberan
Lapis sungai
Oase
Tempat kau berendam-berselancar
Tetapi lupa bahwa
Ia bahan bakar alami
neraka

Kau menjelma yang lain
Tubuhmu auto-pilot
Kepalamu tumbuh menjadi
Alam semesta
Jalin kelindan
Ada dan ketiadaan

Apa yang terjadi setelah mimpi buruk
Adalah hari-hari menahan diri
Mengeluarkan kematian dari
Dalam saku

(Februari 2025)

XIII

Membaca kembali hari-hari lalu
Adalah menerjang arus
Sungai menuju hulu
Kutemukan segala yang menjadikan
Aku

Seorang dalam tubuhku sembunyi
Dan menyodorkan anak kecil
Yang tak tahu cara mengeja
hidup

Membaca kembali hari-hari lalu
Menyadari lembar-lembar tahun
Lewat dan aku tumbuh
Seperti rumah tanpa
Kuda-kuda

Aku tumbuh menumpang pada
Biduk orang lain tanpa tahu rasanya
Bersandar pada kehendak diri
Sendiri

Membaca kembali masa kanak
Membaca hari lewat
Kutemukan gairah diriku hilang
Bersama kata bernama masa depan

Saban hari aku memohon,
“Beri aku gairah itu
Yang membebaskan diri dari
Keinginan untuk menutup
Buku.”

(2025)

XIV

Pagi yang asing memasuki tubuhku tanpa salam
Tak ada sepoi sebab apa yang disebut kehendak
Menguap dan meninggalkan kehampaan
Sebagai pakaian

Seseorang yang kukira kukenal mengambil alih tubuhku
Seperti koin yang dibalik dan menunjukkan
Sisi lainya yang asing sekaligus akrab
Ia gemar menodongku atas dosaku tanpa salam

Hari-hari lewat seperti orang asing berpapasan
Dan hari depan seperti labirin tak ada ujung
Terasing dari diriku menciptakan haru
Pada pilihan untuk menutup buku

Sebuah puisi bertanya,
“Apakah membenci hidup sama dengan
Mencintai kematian?”
Jawaban mangkir bersama berjam-jam terapi
Tiga minggu sekali

Usaha merebut diri serupa mencincang air di danau
Pagi ke petang hanya menemukan jalan buntu
Yang memaksa kembali menunggu hari esok
Dan esok
Dan esok…

“Lihat aku menghancurkan diri”

(2025)

XV

Saat diriku yang lain menodongkan
Dosa yang telah kupahat dan keinginan
Menekan tombol exit menggedor dari dalam saku
Aku seperti terperangkap dan terhimpit dalam kamar sempit

Saban malam kami berdebat tentang ambisi masing-masing
Yang satu teriak sekencang mungkin
Yang lain selalu berakhir menatap remang lampu

Kadang aku ingin teriak
Tetapi orang bijak bilang semua orang
Punya kamar sendiri yang mesti dibereskan
Dan mereka tidak berisik

Maka aku selalu berakhir di kamar
Belajar tenggelam dengan
Tombol exit di dalam saku

(2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Ridho Daffa Fadilah
Ridho Daffa Fadilah Remah-remah Sastra Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email