Membaca Kembali Fukuyama-Diamond : Kapitalisme Global dalam Goncangan Krisis Geopolitik

Ali Syaid

3 min read

Dalam ruang refleksi teori sosial dan politik kontemporer, jarang ada karya yang setenar The End of History and the Last Man karya Francis Fukuyama. Fukuyama mengusulkan gagasan yang pada zamannya memesona banyak pemikir global: pasca runtuhnya blok Komunis pada awal 1990-an, dunia telah mencapai suatu titik di mana liberal demokrasi berpadu dengan kapitalisme pasar bebas menjadi bentuk pemerintahan tertinggi yang tak tertandingi secara ideologis. Sejak Perang Dingin berakhir, menurutnya, konflik besar bukan lagi tentang ideologi yang saling bersaing tetapi lebih pada perhitungan ekonomi dan kebutuhan teknis masyarakat modern. Dalam kerangka ini, sejarah—sebagai perebutan ideologi—telah mencapai “akhirnya”.

Baca juga:

Namun, melihat dunia saat ini—terutama ketika konflik geopolitik berskala besar seperti yang mempertemukan Amerika Serikat dan Iran dengan potensi implikasi regional luas—gagasan itu tampak runtuh, kontras tajam dengan kenyataan. Ketika ideologi liberal tampaknya menjadi konsensus masa lalu, kita justru menyaksikan pertarungan kepentingan negara, sumber daya strategis, dan dominasi geopolitik yang kembali mendominasi arena global.

Di saat yang sama, karya Jared Diamond dalam Upheaval: How Nations Cope with Crisis and Change menawarkan lensa berbeda dalam memahami bagaimana negara atau komunitas menghadapi krisis besar—bukan sebagai sekadar titik ideologi, tetapi sebagai momentum evaluatif bagi suatu masyarakat untuk menimbang struktur batinnya, belajar dari sejarah, dan beradaptasi. Upheaval bukan sekadar buku tentang sejarah; ia adalah tentang psikologi kolektif bangsa yang sedang diuji oleh tantangan eksistensial.

Baca juga:

Keduanya—Fukuyama dan Diamond—secara berbeda menyodorkan perspektif yang membantu mencerna krisis dunia yang sedang kita hadapi. Di satu sisi, Fukuyama percaya pada supremasi kapitalisme liberal sebagai sistem yang “final”. Di sisi lain, Diamond mengingatkan bahwa krisis adalah kesempatan transformasi, sebuah rambu bahwa sistem mana pun tidak kebal terhadap guncangan monumental.

Kapitalisme Global dan “Akhir Sejarah” yang Belum Tiba

Fukuyama pernah menyatakan bahwa liberal demokrasi dikombinasikan dengan pasar bebas adalah titik di mana “sejarah ideologis” mencapai ujungnya—tidak ada lagi bentuk alternatif yang layak secara ideologis maupun praktis. Gagasan ini mengasumsikan bahwa kapitalisme liberal telah menjawab berbagai masalah besar yang pernah diusung oleh ideologi pesaing seperti komunis atau fasis.

Namun, realitas pasca 30 tahun sejak teori itu dipublikasikan menunjukkan sesuatu yang kontradiktif. Krisis finansial global tahun 2008, meningkatnya ketidaksetaraan ekonomi, kebangkitan populisme politik di negara-negara kapitalis sendiri, hingga konflik geopolitik yang kembali mengangkat pertanyaan mendasar tentang keamanan energi global, semuanya menunjukkan bahwa kapitalisme global tidak mencapai “penyelesaian total” terhadap konflik struktural yang melekat dalam sejarah umat manusia.

Jika kapitalisme liberal benar merupakan bentuk akhir dari pemerintahan, mengapa konflik berskala besar terus muncul dan, ironisnya, sering terkait pada kebutuhan kontrol sumber daya dan dominasi politik? Bukankah itu menandai bahwa sejarah—dalam bentuk perebutan kekuasaan strategis dan ideologis—justru masih berjalan?

Upheaval: Krisis sebagai Panggung Transformasi

Dalam Upheaval, Diamond menempatkan krisis bukan sebagai akhir dari suatu sistem, tetapi sebagai ujian terhadap ketahanan, fleksibilitas, dan kemampuan adaptasi suatu bangsa. Ia membahas bagaimana beberapa negara—seperti Finlandia, Jepang, dan Chile—telah merespon krisis besar dalam sejarah mereka. Belajar dari kegagalan internal, pemimpin dan masyarakat di negara tersebut menyusun ulang narasi nasional mereka, menangani konflik internal, memadukan elemen kompromi, serta menyeimbangkan kekuatan dan kelemahan institusional mereka.

Dalam konteks krisis Iran–Amerika saat ini, pendekatan Diamond membawa pesan penting: bahwa krisis besar bukan hanya konflik antara dua negara atau dua kepentingan semata, tetapi sebuah panggilan bagi masyarakat global untuk mengenali bahwa sistem yang ada—termasuk kapitalisme liberal global—mungkin sudah tidak lagi cukup untuk mengatasi problematik yang jauh lebih kompleks, seperti ketegangan geopolitik, kesejahteraan sosial yang timpang, dan kebutuhan redistribusi kebijakan yang lebih adil.

Krisis Global dan Ketidakcukupan Teori “Akhir Sejarah”

Pertarungan antara Iran dan Amerika bukan sekadar benturan militer; ia merupakan refleksi dari kegagalan tatanan internasional liberal dalam menyelesaikan konflik struktural yang melampaui sekadar pasar bebas dan demokrasi elektoral. Ketegangan atas sumber daya strategis—terutama energi—dan blok regional yang saling bersaing menunjukkan bahwa kapitalisme global tetap terikat pada dinamika geopolitik yang keras. Pasar bebas tidak otomatis mengembalikan stabilitas ketika blok kekuatan besar saling bersaing, dan demokrasi tidak selalu mampu meredam antagonisme yang bersifat eksistensial. Ini jelas menunjukkan bahwa tesis “akhir sejarah” Fukuyama, jika pernah valid, kini sudah sangat rapuh dalam menghadapi realitas kompleks abad ke-21.

Lebih jauh lagi, ketidaksetaraan dalam distribusi kekayaan dan akses terhadap sumber daya global memperlihatkan bahwa kapitalisme global, dalam praktiknya, mampu menciptakan pemenang besar sekaligus banyak pihak yang tertinggal—yang berarti konflik ideologis dan sosial masih terus hidup bahkan dalam sistem yang disebut paling efisien sekalipun.

Korelasi Antara Kapitalisme, Krisis Geopolitik, dan Transformasi Kolektif

Dengan demikian, kita perlu memandang konflik global saat ini melalui lensa yang lebih kaya: bukan hanya pertarungan militernya, tetapi sebagai indikator kelemahan struktur global yang lebih luas. Kapitalisme global, sebagaimana diprediksi oleh Fukuyama dalam versi paling optimisnya, tidak mampu secara otomatis menjamin perdamaian dunia. Sebaliknya, sistem ini terbukti rentan terhadap tekanan geopolitik, ketidaksetaraan ekonomi, dan reaksi budaya yang menolak dominasi Barat.

Di lain pihak, pendekatan Diamond mengingatkan bahwa krisis adalah arena pembelajaran kolektif. Krisis tidak hanya destruktif; ia juga membuka kemungkinan pembaruan bagi masyarakat dan institusi global untuk merefleksikan kembali nilai-nilai mereka, memperkuat kerjasama internasional, dan mencari solusi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan terhadap konflik yang tak kunjung reda.

Pemikiran Baru dalam Era Ketidakpastian

Krisis Iran–Amerika merupakan pengingat keras bahwa kapitalisme global dan liberal demokrasi bukan akhir dari diskursus sejarah manusia. Sejarah tetap berjalan melalui konflik, rekonsiliasi, kompetisi, dan inovasi. Dalam ketidakpastian ini, gagasan-gagasan yang pernah kita yakini sebagai final—seperti “akhir sejarah”—harus dilihat kembali: bukan sebagai dogma, tetapi sebagai titik awal refleksi kritis tentang bagaimana masyarakat global dapat mengatasi ketidaksetaraan, konflik ideologis, dan tekanan struktural yang terus menerus mendera.

Dalam cahaya ini, teori Fukuyama dan Diamond bukanlah lawan, namun berpadu sebagai dua wacana penting: satu menawarkan pandangan normatif tentang akhir dari pertarungan ideologis, dan yang lain memberikan panduan bagaimana suatu bangsa atau sistem menghadapi dan berubah akibat krisis. Krisis global hari ini bukan sekadar tantangan terhadap keamanan atau ekonomi — ia adalah panggilan besar bagi peradaban manusia untuk mengevaluasi ulang apa yang kita anggap sebagai “akhir”, dan bagaimana kita dapat menemukan bentuk sosial, politik, dan ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (*)

Editor: Kukuh Basuki

Ali Syaid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email