Setiap Lebaran, jutaan orang bergerak pulang seolah mengikuti kompas yang sama. Bukan hanya karena tradisi, tapi karena ada sesuatu yang ingin disentuh kembali. Ialah rasa dekat, rasa cukup, dan pengalaman hidup yang tidak selalu diukur oleh jam serta target.
Di kampung, waktu tidak terasa seperti sesuatu yang harus dikejar. Ia lebih longgar, lebih lentur, dan bisa diisi tanpa rasa bersalah. Duduk lama dengan keluarga, membantu tanpa hitungan untung rugi, atau sekadar diam tanpa tujuan. Hal-hal yang di kota sering dianggap tidak produktif, justru terasa penuh makna.
Tapi pengalaman itu tidak lama. Libur selesai, arus balik dimulai. Tiket dipesan, tas dikemas, dan kita kembali ke kota. Di titik ini, muncul pertanyaan yang terasa sederhana tapi sebenarnya mengganggu: setelah pulang, kita kembali ke apa?
Cara Mengalami Waktu
Selama ini arus balik dipahami sebagai perpindahan dari desa ke kota. Padahal yang berubah bukan hanya lokasi, tapi juga cara hidup. Di kampung, kita sempat hidup dalam ritme yang lebih pelan. Di kota, kita kembali ke ritme yang padat, terukur, dan sering kali melelahkan. Perbedaan ini paling terasa dalam cara kita mengalami waktu.
Di kampung, satu hari bisa terasa panjang. Ada ruang untuk melakukan sesuatu tanpa harus terburu-buru. Kita bisa berbincang tanpa melihat jam, membantu tanpa merasa kehilangan waktu, bahkan beristirahat tanpa rasa bersalah.
Baca juga:
Sementara di kota, waktu seperti selalu kurang. Baru mulai bekerja, tahu-tahu sudah sore. Baru masuk hari Senin, tiba-tiba sudah Jumat. Waktu tidak lagi kita alami, tapi kita kejar, bahkan sering terasa seperti mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan personal. Ia bagian dari perubahan sosial yang lebih luas. Sosiolog Jerman Hartmut Rosa dalam Social Acceleration: A New Theory of Modernity (2013) menyebutnya sebagai percepatan sosial, di mana kehidupan modern bergerak semakin cepat karena tuntutan ekonomi, teknologi, dan produktivitas. Kita terus didorong untuk bergerak agar tidak tertinggal, tapi justru semakin sulit merasakan apa yang sedang kita jalani. Hidup menjadi padat aktivitas, tetapi tipis pengalaman.
Baca juga:
Itu sebabnya hari pertama kerja setelah Lebaran sering terasa janggal. Banyak orang mengalaminya. Pagi datang dengan perasaan masih tertinggal di kampung, tapi realitas kota langsung menyergap. Notifikasi pekerjaan masuk tanpa jeda, pesan kantor menumpuk, dan ritme kerja kembali berjalan seperti tidak pernah berhenti. Dalam hitungan jam, kehangatan yang kemarin terasa begitu dekat mulai memudar, seolah hanya sempat singgah.
Situasi ini biasanya diringkas dalam kalimat: “balik lagi ke realitas.” Tapi kalimat itu sebenarnya adalah pengakuan yang jujur. Ia menunjukkan bahwa ada perbedaan antara hidup yang kita rasakan bermakna dan hidup yang kita jalani sehari-hari. Realitas yang dimaksud bukan sekadar kota, tapi cara hidup yang menuntut kita untuk terus bergerak tanpa banyak ruang untuk berhenti.
Di kota, hidup sering berjalan sebagai rutinitas. Bangun, bekerja, pulang, istirahat, lalu berulang lagi. Semuanya teratur, bahkan terlihat stabil, tapi tidak selalu terasa. Kita menyelesaikan banyak hal, tapi jarang punya waktu untuk benar-benar merasakan hidup itu sendiri.
Orientasi Manusia Modern
Dalam kerangka Erich Fromm, manusia modern cenderung terjebak dalam orientasi “memiliki” daripada “menjadi”. Kita sibuk mengejar pencapaian dan keamanan hidup, tapi perlahan kehilangan kedekatan dengan pengalaman hidup itu sendiri.
Mudik sebenarnya memberi jeda dari pola tersebut. Ia seperti ruang singkat yang memperlihatkan bahwa hidup bisa dijalani dengan cara yang berbeda. Tapi arus balik mengembalikan kita ke pola lama, sering tanpa perubahan berarti. Banyak orang ingin membawa suasana kampung ke kota dengan hidup lebih santai, lebih dekat dengan keluarga, punya waktu untuk diri sendiri. Tapi keinginan itu sering berbenturan dengan kenyataan.
Ambil contoh pekerja komuter di Jabodetabek. Waktu dua hingga tiga jam di jalan setiap hari bukan hal aneh. Energi habis bahkan sebelum sampai rumah. Ketika sampai, yang tersisa hanya tenaga untuk beristirahat, bukan untuk membangun relasi atau menikmati waktu. Akhir pekan pun sering habis untuk memulihkan diri, bukan untuk benar-benar hidup. Dalam kondisi seperti ini, keinginan untuk hidup lebih pelan bukan hanya sulit, tapi hampir tidak punya ruang.
Di sinilah penting melihat arus balik bukan sebagai pilihan individual semata. Ia terkait dengan struktur yang lebih besar. Pemikir sosial Inggris David Harvey dalam A Brief History of Neoliberalism (2005) menjelaskan bahwa kapitalisme modern membuat sumber daya ekonomi terkonsentrasi di kota. Lapangan kerja, infrastruktur, dan peluang hidup sebagian besar berada di wilayah urban. Desa mungkin menawarkan kenyamanan emosional, tapi belum mampu menyediakan jaminan ekonomi yang setara. Maka kembali ke kota sering bukan soal keinginan, tapi kebutuhan yang sulit dihindari.
Di sisi lain, media sosial memperumit cara kita memaknai pengalaman ini. Setelah Lebaran, linimasa dipenuhi konten tentang kampung, seperti rumah sederhana, sawah hijau, momen makan bersama keluarga. Semua tampak hangat dan menenangkan. Tapi seperti diingatkan Stuart Hall, representasi selalu melalui proses seleksi. Yang ditampilkan bukan realitas utuh, melainkan potongan yang paling layak dibagikan.
Akibatnya, yang kita rindukan sering kali bukan kampung itu sendiri, tapi citra tentang kampung. Ketika kembali ke kota, benturan antara citra dan kenyataan itu menjadi terasa. Kita membawa rasa hangat, tapi tidak selalu tahu bagaimana menjaganya dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, nilai-nilai yang sempat terasa dekat selama mudik, seperti kebersamaan atau kesederhanaan, jarang benar-benar bertahan. Bukan karena kita tidak ingin, tapi karena struktur hidup di kota tidak selalu memungkinkan. Kita akhirnya hidup dengan dua standar. Satu yang kita rasakan benar di kampung, satu lagi yang kita jalani di kota.
Arus balik, dalam konteks ini, bekerja seperti cermin yang jujur. Ia tidak memberi solusi instan, tapi memperlihatkan dengan jelas jarak yang selama ini kita hidupi. Jarak antara hidup yang kita anggap bermakna dan hidup yang kita jalani untuk bertahan. Dan jarak itu bukan sesuatu yang abstrak. Ia hadir dalam hal-hal kecil seperti waktu yang tidak pernah cukup, relasi yang tertunda, dan kelelahan yang dianggap biasa.
Kesadaran ini memang tidak langsung mengubah keadaan. Kita tetap kembali bekerja, tetap menjalani ritme yang sama. Tapi setidaknya, arus balik memberi satu hal yang jarang kita miliki, yaitu kesempatan untuk melihat hidup kita sendiri tanpa terlalu cepat membenarkannya.
Dan mungkin dari situ, refleksinya tidak perlu dramatis. Cukup sederhana, tapi penting. Bahwa selama ini kita sebenarnya tahu hidup seperti apa yang terasa lebih bermakna. Masalahnya bukan pada ketidaktahuan, melainkan pada keterbatasan ruang untuk menjalaninya. Dan selama ruang itu tidak pernah benar-benar kita pertanyakan, arus balik akan terus menjadi rutinitas tahunan yang berulang, tanpa pernah benar-benar mengubah cara kita hidup. (*)
Editor: Kukuh Basuki
