Malam Pasang Lampu
Aku melihat cahaya di layar ponsel,
tumbilotohe menyala di unggahan teman-teman,
di lorong-lorong yang dulu kuhafal tiap lekuknya.
Lampu minyak berdiri tegak di antara alikusu,
obor-obor berkibar, mengantar doa ke langit terbuka.
Sementara aku,
hanya melihatnya dari layar,
meraba nyala yang tak sampai ke tanganku.
Langit meremang oleh desah tasbih,
suara ayat-ayat menggema dari rekaman video,
aku menekan tombol putar berulang-ulang,
seolah bisa menghirup aroma tanah basah,
seolah bisa mendengar suara ibu
memanggil untuk menyiapkan lampu terakhir.
Di kota ini, malam begitu biasa.
Tak ada anak-anak berlarian di lorong-lorong,
mengetuk pintu rumah-rumah,
tangan kecil mereka menadah zakat
dengan wajah penuh harap.
Mengingatkanku pada masa kecil—
menghitung koin di genggaman,
menyusuri jalan yang terang oleh pelita,
sebelum akhirnya pulang ke rumah
dan tertidur dengan senyum di pipi.
Tak ada suara bunggo yang meledak di kejauhan,
hanya dengung mesin yang berpacu di jalan raya,
tak peduli pada bulan tua
yang perlahan undur diri.
Ibu pasti sibuk di dapur,
menyiapkan kolak dalam panci,
mengaduk malam dengan sendok kayu,
menunggu aku yang tak ada di sana.
Aku ingin pulang,
tapi yang kupeluk hanya udara,
dan sebaris pesan dari rumah:
“Lampu-lampu botol sudah menyala, Nak.
Tapi bayangmu masih padam di kejauhan.”
Ramadan pamit tanpa jejak di tanganku,
hanya nyala layar yang kian redup,
sementara aku memandang diri sendiri,
bertanya dalam sunyi:
“Seberapa jauh jarak bisa memadamkan seorang anak dari rumahnya?”
(Ramadan 2024)
–
Malam Kunut
Malam mengatup pelan,
langit berpendar di punggung masjid,
angin membawa doa-doa yang terangkat,
melayang di antara takbir dan harap yang nyala.
Di rakaat terakhir, imam menggumamkan kunut,
lirihnya menjalar ke ubun-ubun sunyi,
seperti ombak kecil yang menyentuh pasir,
pelan, khusyuk, tapi penuh gemetar.
Di rumah-rumah, pisang dikupas tanpa suara,
kacang-kacang pecah dalam genggaman ibu,
manis dan gurihnya menggenang di lidah,
seperti nikmat yang sering luput disyukuri.
Malam ini, doa mengulur lebih panjang,
sebab langit lebih dekat dari biasanya,
dan hati yang kosong hanya butuh sedikit cahaya
untuk kembali merasa penuh.
(Ramadan 2025)
–
Nuzululquran: Kolak di Bibir, Obor di Langit, Firman di Hati
Malam mengatup seperti tunas cengkih yang menyimpan harum,
lalu cahaya pecah di ruas-ruas jalan,
obor-obor berkibar—kunang-kunang yang mengarak wahyu.
Langit yang redup mengingat nyala ini, mencatat setiap langkah yang melukis cahaya di tanah.
Di tepi malam, takbir mengalir dari serambi-serambi sunyi,
menjelma sungai yang tak hendak surut.
Firman turun dalam bisik angin,
menyelusup ke sela doa, menyelinap ke detak nadi.
Di dapur-dapur, ibu-ibu menanak cahaya dalam panci,
mencampur manisnya wahyu dengan lembut pisang dan kuah santan.
Di mangkuk-mangkuk, kolak mengendap seperti malam yang menunggu subuh,
hangatnya mengalir, menafsir rahasia langit dalam sekali teguk.
Dan saat embun pertama jatuh, obor pun letih berpendar,
tapi firman tetap berkobar—
di bibir yang mengaji, di dada yang menghafal,
di waktu yang tak pernah benar-benar gelap.
(Ramadan 2025)
–
Malam-Malam Ganjil
Di langit, malam-malam ganjil berguguran,
seperti kelopak rahasia yang jatuh tanpa suara.
Di bumi, malam-malam ganjil lewat seperti angin,
mencari dada yang lapang untuk menepi,
tapi saf-saf masjid semakin berongga,
seperti jala yang kehilangan ikannya.
Malam ini, siapa yang berjaga?
Siapa yang menadah sunyi dengan kedua tangan?
Siapa yang masih percaya bahwa cahaya bisa turun
di antara kantuk dan lelah yang dibiarkan menang?
Di jalanan, lampu-lampu masih menyala,
kursi-kursi kafe penuh dengan wajah yang lupa waktu.
Di layar-layar kaca, mata terpaku,
seakan wahyu turun dalam siaran ulang.
Lailatul Qadar, kau menepi di mana?
Di rumah-rumah yang masih terjaga,
atau di masjid yang kehilangan namanya?
Di dada yang gemetar dalam sujud panjang,
atau di malam yang hanya sibuk menghitung dagang?
Langit terbuka, tetapi bumi makin sunyi.
Dan kita masih bertanya,
di mana malam itu bersembunyi?
Atau justru kita yang telah lama pergi?
(Ramadan 2025)
–
Malam yang Tak Kunjung Fitri
Takbir meluap dari corong masjid,
mengisi jalan-jalan yang lupa namaku.
Orang-orang pulang,
mendekap rumah, mendekap keluarga,
sementara aku hanya mendekap udara
di trotoar yang tak tahu ke mana harus kutuju.
Mereka berkata, ini malam kemenangan,
tapi aku tak tahu apa yang kutangiskan—
rindu yang tak bisa kutelepon,
rumah yang tinggal bayang di jendela orang lain,
atau diri sendiri yang tak pernah selesai
menjadi bagian dari sesuatu.
Di balik kaca, sendok dan piring beradu,
gelak tawa pecah seperti kembang api.
Aku menatap dari jauh,
seperti anak kecil yang mengintip surga
tanpa tahu bagaimana caranya masuk.
Apa hakikatnya lebaran,
jika ada yang pulang,
tapi ada pula yang tak tahu ke mana?
Jika ada yang merayakan,
tapi ada pula yang hanya melihat dari kejauhan,
seperti tamu yang tak diundang di perjamuan hidup.
Malam ini, aku bukan yang menang,
bukan pula yang kalah,
hanya seseorang yang berjalan dalam takbir,
tanpa tahu rumah mana yang bisa kusebut pulang.
(Malam lebaran 2024)
*****
Editor: Moch Aldy MA
