Keep calm and stay cool!

Lelaki yang Menghilang dalam Sunyi

Pitrus Puspito

2 min read

Rendra selalu tampak tenteram. Lelaki paruh baya itu tinggal di rumah kayu sederhana di pinggir teluk. Dari beranda rumahnya, ia bisa melihat garis laut yang berganti wajah setiap saat: biru muda di pagi hari, berkilau perak di terik siang, dan merah jingga menjelang petang.

Hidupnya seperti air yang selalu mengalir pelan. Ia mengajar anak-anak desa membaca di sore hari, memainkan biola usang di malam tenang, dan sesekali membantu para nelayan menambal jala. Tidak ada sesuatu yang tampah mewah atau heroik pada diri Rendra, tetapi justu itu yang membuat orang lain iri.

“Dia terlalu damai untuk seorang manusia,” bisik seorang nelayan tua kepada kawannya. “Seakan-akan angin tak pernah tega menyentuh rambutnya,” sahut yang lain.

Rendra adalah lelaki yang tidak pernah meninggikan suara. Ia selalu punya senyum yang ramah, selalu punya telinga untuk mendengar, dan selalu bisa menenangkan hati siapa pun yang gelisah. Karena itu, banyak orang datang kepadanya, entah untuk meminta nasihat, atau sekadar duduk di beranda rumah dan menikmati keheningan.

Namun ketenangan, seringkali seperti kaca jendela, bisa retak tanpa suara.

Akhir-akhir ini, Rendra mulai merasakan sesuatu yang ia sebut sebagai ‘lapar aneh.’  Itu bukan sejenis lapar akan makanan, melainkan rasa kosong yang tak bisa dipuaskan. Ia makan lebih banyak dari biasanya, mengunyah kacang tanah sampai mulutnya kering, tetapi perutnya tetap saja gelisah. Ia membaca berjilid-jilid buku, mendengarkan musik berjam-jam, tetapi kepalanya tetap terasa gaduh.

Di tengah malam, ia sering terbangun, menatap atap rumah yang hitam. Di saat-saat itu, pikirannya seperti lautan yang tak punya dermaga. Ia bertanya dalam hati:

Apakah aku sudah cukup bekerja?

Apakah aku sudah cukup dicintai?

Apakah hidupku berarti?

Pertanyaan itu datang seperti angin yang menyelinap dari celah jendela: dingin, bersikeras menerobos masuk, tak dapat dihalangi.

Rendra mulai menyadari, setiap lelaki, entah disadari atau tidak, terlahir dengan utang. Utang pada ayah yang membesarkannya, pada ibu yang mendoakannya, pada anak-anak yang menaruh harapan, pada sahabat yang menaruh kepercayaan, bahkan utang kepada dirinya sendiri yang menuntut lebih banyak pencapaian.

Dan utang itu, seberapa pun ia mencoba bayar, tak akan bisa lunas, bahkan selalu berlipat ganda. Jika ia mengabaikan, rasa bersalah akan menghampirinya. Jika ia mencoba membayar, beban itu justru makin besar.

Kegelisahan itu perlahan merayap, meski wajah Rendra tetap sama: lembut, ramah, tak pernah terlihat bergejolak. Teman-temannya masih datang, masih bercanda di beranda rumahnya. Mereka masih berkata, “Anda aku bisa hidup setenang Rendra.”

Mereka tidak tahu: ketenangan itu hanyalah topeng tipis di wajah yang retak.

Suatu sore, Lintang, tetangga sekaligus sahabatnya, menemukan Rendra duduk sendirian di tepi pantai. Ombak kecil mengusap pasir, dan langit senja terbakar jingga.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Lintang, dudik di sampingya.

Rendra tersenyum, meski matanya tidak ikut tersenyum. “Aku sedang menghitung apa yang tersisa untukku.”

“Kau terlalu banyak melamun,” kata Lintang. “Lihatlah, kau punya segalanya. Rumah sederhana, sahabat, murid yang menyayangimu, musik yang mengisi malam. Kau bahkan mencintai dirimu sendiri, hal yang jarang dimiliki lelaki lain.”

Rendra menunduk, mencungkil kerikil dengan jemarinya. “Ya. Dan justru itu masalahnya.”

Lintang menatapnya bingung, “Masalah? Bukankah itu anugerah?”

Rendra tak menjawab. Ombak datang, merendam pasir di antara jari-jarinya.

Malam itu, Rendra duduk sendirian di beranda, memainkan biolanya. Nada-nadanya mengalun pelan, seperti bisikan angin. Tetapi di sela musik, ia mendengar suaranya sendiri bertanya:

Untuk apa semua ini?

Untuk siapa aku bertahan?

Musik berhenti perlahan berhenti, senar biola bergema hampa. Ia meletakkannya, lalu menatap gelap. Dalam hatinya, ia merasa seperti berdiri di garis akhir perlombaan. Garis itu sudah terlihat, begitu dekat. Dan pertanyaan itu lagi-lagi muncul:

Apakah aku sudah cukup?

Beberapa hari kemudian, Rendra menghilang.

Perahunya ditemukan terikat rapi di dermaga, tidak ada tanda-tanda perlawanan atau badai. Pintu rumahnya terkunci dari luar. Tidak ada pesan, tidak ada catatan perpisahan. Hanya sebuah buku catatan kosong di meja, terbuka pada halaman pertama, dengan tulisan tangan sederhana:

Yang paling sulit bukanlah melunasi hutang pada dunia, melainkan melunasi utang pada diri sendiri.”

Orang-orang desa gempar. Ada yang berkata ia pergi mengembara. Ada yang berbisik laut telah menelannya. Ada yang meyakini ia muak dengan dunia dan memilih jalan sunyi.

Namun Lintang, yang mengenalnya lebih lama, hanya duduk di kursi kosong beranda rumah itu. Ia tahu, sahabatnya tak pergi untuk berpetualang. Rendra pergi karena tak sanggup menanggung pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban.

Hari-hari berjalan. Anak-anak masih bermain di pantai. Para nelayan masih mengangkat jala, masih menyebut nama Rendra dalam cerita singkat. Namun lambat laun, ia hanyut dalam arus waktu, hanya tersisa sebagai bisik samar.

Kini yang tertinggal hanyalah sebuah ironi: semua orang ingin hidup seperti Rendra, tenang, ramah, dan dicintai. Mereka iri padanya, berharap bisa menukar hidup dengan dirinya. Tetapi Rendra sendiri justru ingin keluar dari hidup itu, merasa ia tak pernah cukup, tak pernah melunasi utang pada dirinya sendiri.

Senja-senja berikutnya tetap jatuh di teluk. Laut tetap berkilau, angin tetap berhembus. Tetapi bagi Lintang, setiap kali ia menatap cakrawala, ia merasa seakan senja itu berhenti bernafas, seperti Rendra yang lenyap, meninggalkan pertanyaan yang tak pernah selesai.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Pitrus Puspito
Pitrus Puspito Keep calm and stay cool!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email