NOTULEN PEZIARAH
kumasuki kubur dalam diri
papan-papan kesunyian
1 kali 2 meter
menggempur pertanyaan
berulang kali,
seolah mati
belum punya nyali
buat sekadar bicara
kubur dalam diri
tanpa sedu-sedan melati
biarkan hening dalam nyanyi
sebab tidur jadi bantal buat esok hari
man rabbuka sekadar destinasi
sebelum kafan dirudapaksa sepi
momen penyendiri adalah kunci
meski patah hati berbisik hati-hati
sadarkan diri, hidup numpang kopi
sedikit mabuk puisi, ongkang-ongkang
di jalur pacu ramai pengemudi
kita bertukar ini kisah
kepada siapa? angin muntah
seiring peziarah
duduk menghampar
berlembar-lembar gundah
–
SEGALA YANG FARDHU
cinta yang persetan
jangan dulu kau datang
biar kutuang terlebih dulu
dalih kepergian minum susu
di simpang sebuah tunggu
asu melompat curi matamu
membuka segala yang fardhu
menggonggong tanpa malu
biarkan dulu
apa-apa
yang mesti digedor
dari pikiran beku
–
RUANG ISTIRAH PARA PEMBENCI
nyanyian panjang
perihal kenangan;
serabut usang
menuju lubang galian;
lompatan-lompatan nurani
cari ruang istirahnya sendiri
di dalam diri, badai tak henti
menulis nubuat para pembenci
seolah mengerti, lajur pulang-pergi
mesti dirombak ulang
sebelum dunia merebutnya kembali
–
FAKE AKUN
menukar peristiwa
dengan seragam
yang selalu gagal
kau beri nama;
jiwa pulang
diantar metadata
tapi tidak kata-kata,
ia kembali
sebagai akun pengguna,
kirimkan cuaca
badai algoritma,
membujuk kita
gabung segera,
pada tautan grup
entah apa
–
PENJURU BAYANG
rumah menghilang
dari kita
sebuah rute
yang tak benar-benar ada
atau resmi mengada-ada
rumah menghilang
ke penjuru bayang
mengiris keheningan
dalam jantung remang
rumah berpikir itulah ambang
dari nasibnya yang tumbang
melulu dihajar
lalu-lalang petang
–
SAMAR KAMAR
tiap kali hari mengantar
ke pembaringan
ia bayangkan aku
sebentang jalan
yang dihapuskan
dari semacam dongeng
tapi dongeng telanjur gugur
buah bibir gagal bertutur
orang-orang memakamkannya
jauh sebelum kita
ditulis jari-jemari kata
*****
Editor: Moch Aldy MA
