Jika dulu profesi idaman didominasi dokter, insinyur, atau akademisi, kini banyak anak muda Indonesia bercita-cita menjadi content creator, YouTuber, atau influencer. Fenomena ini perlu dilihat bukan hanya sekadar pergeseran aspirasional belaka, tetapi cerminan cara baru generasi muda menafsirkan simbol kesuksesan. Popularitas, pengaruh, dan gaya hidup kini dianggap lebih prestisius dibanding kepakaran intelektual atau kecendekiawanan.
Pergeseran ini tak terelakkan dalam pesatnya perkembangan ekonomi digital saat ini. Di era ketika viralitas dapat langsung dikonversi menjadi rupiah secara instan, jalan meraih kesuksesan menjadi lebih dekat dan konkret dibanding jalur akademik yang panjang dan penuh ketidakpastian.
Bagi generasi yang tumbuh di tengah algoritma dan kepesatan informasi, rasionalitas semacam itu menjadi masuk akal: mengapa menempuh pendidikan bertahun-tahun jika membuat satu video bisa mengubah hidup saya?
Membandingkan Pembingkaian Influencer dan Cendikiawan
Akhirnya, persoalannya memang bukan pada logika dan cara pandang generasi muda, melainkan pada representasi publik yang membentuk imajinasi mereka. Media arus utama maupun media sosial jauh lebih sering memberi panggung pada figur populer dan selebriti ketimbang tokoh cendekiawan.
Kalaupun cendekiawan muncul di media, narasinya sering dibingkai sebagai kelompok yang terpinggirkan—peneliti yang gagal mendapatkan dukungan dana dari pemerintah, dosen dan guru yang bergaji rendah, atau ilmuwan yang karyanya justru lebih dihargai di luar negeri daripada di negeri sendiri. Figur cendekiawan akhirnya malah lebih sering tampil sebagai potret keterbatasan ketimbang kesejahteraan.
Baca juga:
Padahal representasi cendekiawan punya dampak besar terhadap aspirasi generasi muda. Generasi muda memilih profesi yang mereka lihat keren, menguntungkan, dan dihormati. Jika representasi kesuksesan didominasi oleh influencer, tak heran jika cita-cita menjadi cendekiawan akan semakin asing bagi generasi muda.
Ketika figur cendekiawan tidak lagi dianggap menarik bagi generasi muda, aspirasi untuk menjadi cendekiawan akan pelan-pelan memudar. Generasi muda tidak lagi tertarik untuk menempuh jalur pendidikan yang akan mengantarnya menjadi seorang cendekiawan.
Jika tren ini terus berlanjut, suplai cendekiawan akan terus menyusut, dan konsekuensinya tidak main-main. Pada akhirnya, sumber daya manusia untuk mengisi posisi-posisi kunci dan strategis pada tahun 2045 tidak akan mencukupi. Bangsa ini tidak akan mampu menyediakan pasokan SDM unggul yang memadai untuk merealisasikan cita-cita Indonesia Emas tahun 2045.
Indikasinya sudah terlihat jelas dalam potret dunia akademik di Indonesia saat ini. Menurut data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2024, hanya sekitar 1 persen atau kurang lebih 77.753 dari 280 juta penduduk Indonesia yang memiliki gelar Doktor (S3). Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, rasio kita hanya sekitar 143 doktor per satu juta jiwa.
Angka tersebut tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Rasio ini pernah menjadi sorotan Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada tahun 2015 dalam sebuah wawancara, ketika ia mengungkapkan bahwa Malaysia memiliki sekitar 509 doktor per satu juta penduduk, sedangkan India mencapai sekitar 1.410 doktor per satu juta penduduk. Data tersebut dirilis pada 2015 dan kemungkinan besar telah meningkat secara signifikan di tahun 2025, sekalipun belum ada data yang tercatat.
Data ini menunjukkan betapa kecilnya basis cendekiawan di Indonesia. Persoalannya, berbagai studi menunjukkan bahwa jumlah cendekiawan, utamanya akademisi pemegang gelar doktor di suatu negara berkorelasi positif dengan kapasitas inovasi dan kemajuan ekonominya.
Akçigit, Pearce, dan Prato (2020) menemukan bahwa individu dengan gelar PhD memiliki kemungkinan hingga dua puluh kali lebih besar untuk menjadi penemu dibanding rata-rata populasi, sehingga peningkatan jumlah doktor dapat secara langsung memperkuat basis inovasi nasional melalui riset dan penciptaan teknologi baru.
Studi ini menegaskan bahwa peningkatan jumlah cendekiawan doktoral bukan hanya memperluas kapasitas ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi faktor strategis dalam mendorong daya saing dan pembangunan ekonomi berbasis kepakaran.
Dalam situasi seperti ini, sulit bagi sosok cendekiawan untuk tampil menginspirasi, baik secara ekonomi maupun secara gengsi dan reputasi bagi generasi muda. Padahal, di tengah tsunami konten digital, justru peran cendekiawan menjadi sangat penting. Indonesia membutuhkan lebih banyak figur yang mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan masyarakat luas, sebagai representasi cendekiawan kepada publik.
Baca juga:
Di luar negeri, sosok seperti Neil deGrasse Tyson atau Brian Cox menjadi contoh bagaimana seorang cendekiawan dapat menjadi sosok yang populer dan tampil memikat tanpa mengesampingkan kedalaman berpikir. Di Indonesia, potensi seperti ini sudah mulai terlihat. Misalnya, ada Prof. Rhenald Kasali atau Dr. Indawan Nugroho, dua akademisi senior Indonesia yang aktif memproduksi konten edukasi melalu kanal YouTube mereka.
Ada juga Ferry Irwandy, YouTuber sekaligus mahasiswa doktoral di Monash University yang aktif menyebarkan konten edukasi ekonomi melalui kanalnya yang bertajuk Malaka Project, serta Agatha Chelsea, selebriti sekaligus sarjana psikologi dan neuroscience dari University of Melbourne yang berupaya menghadirkan teori-teori psikologi dan neuroscience dalam konten-kontennya. Figur-figur seperti mereka menunjukkan bahwa kecendekiawanan dan ketenaran bisa saling berpadu-padan alih-alih berlawanan.
Waktunya Memberi Panggung Besar kepada Cendikiawan
Oleh karena itu, negara perlu membangun sebuah sistem yang memberi panggung lebih besar bagi cendekiawan. Negara mesti berani merancang skema pemberian insentif yang memungkinkan cendekiawan (guru, dosen, peneliti, dan intelektual) memperoleh penghasilan setara dengan para influencer dan selebriti, bahkan kalau perlu lebih tinggi.
Dengan begitu, jalur karir cendekiawan akan tampak sama menariknya dengan profesi lain yang cepat mendatangkan kesejahteraan seperti influencer, Tiktoker atau YouTuber. Media arus utama, termasuk media sosial, pun perlu lebih sering menampilkan kisah sukses para cendekiawan, sehingga generasi muda percaya bahwa menjadi intelek juga bisa berarti sukses, sejahtera, dan dihormati.
Lebih jauh, bangsa ini harus menumbuhkan imajinasi kolektif baru, bahwa cendekiawan adalah sosok keren yang layak diidolakan. Generasi muda harus dapat melihat profesor, peneliti, atau pemikir sebagai figur sukses yang memberi kontribusi nyata bagi bangsa.
Indonesia Emas 2045 hanya akan tinggal jargon jika kita gagal menyiapkan pasokan cendekiawan yang memadai dan sumber daya manusia yang unggul. Bonus demografi tidak otomatis melahirkan kualitas bila aspirasi cendekiawan terus merosot. Pertanyaannya, apakah kita rela membiarkan cendekiawan terus berjalan sunyi di pinggiran, ataukah kita berani menempatkannya di panggung utama sebagai penentu arah masa depan bangsa?
Editor: Prihandini N
