Di zaman ketika dunia seolah berlari tanpa henti mengejar modernitas, kemajuan teknologi, dan efisiensi ekonomi, Jared Diamond mengajak kita berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Dalam The World Until Yesterday: What Can We Learn from Traditional Societies? Diamond bertanya dengan nada lembut namun tajam, tentang apa yang telah hilang dari diri kita sejak meninggalkan cara hidup nenek moyang. Buku ini bukan sekadar kajian antropologi populer, melainkan refleksi filosofis tentang makna kemajuan manusia tentang apa yang kita peroleh, dan mungkin lebih penting lagi, apa yang kita korbankan.
Diamond, profesor geografi dari University of California, Los Angeles (UCLA), terkenal karena karya monumentalnya Guns, Germs, and Steel yang menjelaskan asal-usul ketimpangan global melalui lensa geografi dan biologi. Dalam The World Until Yesterday, ia beralih dari analisis makro sejarah peradaban menuju refleksi mikro atas kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional khususnya masyarakat di Papua Nugini, tempat ia melakukan penelitian lapangan selama lebih dari tiga dekade. Melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat yang masih hidup dalam struktur sosial tanpa negara, tanpa hukum tertulis, dan tanpa teknologi modern, Diamond menelusuri bentuk-bentuk kebijaksanaan manusia yang sederhana namun sarat makna.
Bagian awal buku membuka pandangan kita tentang bagaimana masyarakat tradisional membedakan antara “kawan, lawan, dan orang asing”. Dalam dunia tanpa negara, tidak ada lembaga hukum atau polisi yang menjamin keselamatan. Hubungan sosial dibangun di atas jaringan kekerabatan, reputasi, dan kepercayaan. Bagi masyarakat seperti suku Dani atau Fore di Papua, bertemu orang asing bukan hal sepele, itu bisa berarti ancaman atau peluang. Ketegangan antara rasa ingin tahu dan kewaspadaan inilah yang membentuk apa yang Diamond sebut sebagai “paranoia konstruktif”, yakni sikap waspada yang adaptif dalam lingkungan berisiko tinggi.
Baca juga:
Menariknya, Diamond melihat bahwa masyarakat modern telah kehilangan kewaspadaan semacam ini. Kita mempercayakan keselamatan sepenuhnya pada sistem dan institusi, sering kali mengabaikan tanda-tanda bahaya yang nyata. Ia menulis dengan getir bahwa manusia modern lebih mudah mati karena mengabaikan risiko kecil seperti mengemudi sambil menggunakan ponsel dibandingkan masyarakat tradisional yang hidup di tengah bahaya alam. Dengan gaya reflektif, Diamond mengajak pembaca bertanya apakah kemajuan telah membuat kita lebih aman, atau justru lebih ceroboh?
Salah satu bagian paling menarik dari buku ini tentang pembahasan bagaimana masyarakat tradisional menyelesaikan konflik. Tidak seperti sistem hukum modern yang berorientasi pada penghukuman dan keadilan prosedural, masyarakat tanpa negara menekankan rekonsiliasi. Diamond menggambarkan bagaimana dua klan yang berperang di Papua dapat mengakhiri pertikaian melalui pemberian kompensasi babi dan upacara perdamaian yang melibatkan seluruh komunitas. Tujuannya bukan untuk menentukan siapa benar atau salah, melainkan mengembalikan keseimbangan sosial agar kehidupan bersama dapat berlanjut.
Di sinilah Diamond memperlihatkan ketajaman antropologisnya. Ia melihat bahwa dalam masyarakat modern, hukum sering kali terpisah dari fungsi sosialnya. Pengadilan mungkin menegakkan keadilan formal, tetapi sering gagal memulihkan hubungan antarindividu. Dalam hal ini, mekanisme adat masyarakat tradisional memiliki nilai moral yang dalam keadilan bukan sekadar vonis, tetapi pemulihan. Gagasan ini beresonansi kuat dengan prinsip restorative justice yang kini mulai diadopsi dalam sistem peradilan modern, terutama dalam kasus-kasus yang menuntut rekonsiliasi sosial.
Namun Diamond tidak menutup mata terhadap sisi gelap masyarakat tradisional. Ia mengingatkan bahwa ketiadaan lembaga negara juga berarti ketiadaan jaminan keamanan. Kekerasan bisa terjadi kapan saja, dan perang suku dapat berlangsung berabad-abad. Melalui data antropologis yang kaya, ia menunjukkan bahwa proporsi kematian akibat kekerasan dalam masyarakat tanpa negara jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat modern. Dengan demikian, buku ini tidak jatuh dalam romantisisme primitif, melainkan menghadirkan pandangan seimbang antara kearifan dan kekerasan, antara solidaritas dan risiko.
Pada bagian selanjutnya, Diamond menyoroti cara masyarakat tradisional membesarkan anak dan memperlakukan orang lanjut usia. Ia menemukan bahwa anak-anak di masyarakat adat tumbuh dalam lingkungan sosial yang sangat partisipatif. Tidak ada konsep “nuklir family” yang kaku seperti di Barat , sebaliknya seluruh komunitas ikut berperan dalam pengasuhan. Anak-anak dibiarkan bereksplorasi, belajar dari pengalaman nyata, bukan sekadar instruksi. Mereka belajar tanggung jawab sosial melalui partisipasi dalam kegiatan komunitas sejak usia dini.
Dalam konteks ini, Diamond menyoroti perbedaan mendasar antara kebebasan anak dalam masyarakat tradisional dan pola asuh modern yang cenderung protektif. Ia berpendapat bahwa keterampilan sosial dan kemandirian anak-anak tradisional sering kali lebih kuat karena mereka belajar menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka secara langsung. Pandangan ini terasa relevan dengan perdebatan kontemporer tentang pendidikan anak dan krisis generasi digital yang tumbuh dalam ruang serba terkontrol.
Sementara itu, perlakuan terhadap orang lanjut usia juga menjadi cerminan nilai kemanusiaan. Diamond menemukan variasi ekstrem yakni adanya masyarakat yang sangat menghormati lansia sebagai penjaga pengetahuan dan tradisi, tetapi ada pula yang meninggalkan mereka ketika sumber daya menipis. Ia tidak menilai berdasarkan moral modern, melainkan menunjukkan bahwa setiap kebijakan lahir dari kebutuhan bertahan hidup. Namun, di balik realitas keras itu, Diamond membaca pesan universal bahwa cara kita memperlakukan orang tua mencerminkan pandangan kita terhadap kehidupan itu sendiri apakah kita memandang manusia sebagai bagian dari komunitas atau sekadar individu yang produktif secara ekonomi.
Dalam bab-bab akhir, Diamond menggabungkan refleksi personal dan ilmiah untuk menjelaskan tiga fenomena manusia yang universal yakni agama, bahasa, dan kesehatan. Agama menurutnya, berakar pada kebutuhan psikologis untuk menghadapi ketidakpastian, ketakutan, dan kematian. Dalam masyarakat tradisional, agama tidak terpisah dari kehidupan sosial. Ia menjadi sarana pengatur moral, peneguh solidaritas, dan penjelas fenomena alam. Dengan menelaah praktik kepercayaan lokal, Diamond menunjukkan bahwa spiritualitas tradisional menyimpan fungsi sosial yang mendalam, bahkan sebelum agama-agama besar muncul.
Bahasa menjadi tema menarik lainnya dalam buku setebal 666 halaman ini. Masyarakat tradisional biasanya multilingual, dan kemampuan itu, menurut penelitian kognitif, memperkuat kapasitas otak dalam berpikir abstrak dan fleksibel. Diamond menyesalkan bahwa dunia modern, melalui globalisasi bahasa, justru mempersempit cakrawala linguistik manusia. Setiap bahasa yang punah menandakan hilangnya cara berpikir unik tentang dunia. Dalam konteks ini, buku ini bukan hanya refleksi antropologis, tetapi juga seruan moral untuk melestarikan keberagaman budaya.
Baca juga:
Sementara dalam aspek kesehatan, Diamond menyoroti ironi besar dunia modern. Penyakit yang dulu jarang muncul di masyarakat tradisional seperti hipertensi, obesitas, diabetes, dan penyakit jantung kini menjadi epidemi global. Modernitas telah memperpanjang usia manusia, tetapi sering kali mengorbankan kualitas hidup. Pola makan alami, aktivitas fisik tinggi, dan keterhubungan sosial masyarakat tradisional justru lebih menyehatkan secara menyeluruh. Pesan yang hendak disampaikan Diamond jelas bahwa modernisasi tanpa keseimbangan biologis dan sosial justru membuat manusia kehilangan harmoni dengan tubuh dan lingkungannya.
Kekuatan utama The World Until Yesterday terletak pada kemampuannya menjembatani sains dan refleksi moral. Diamond tidak sekadar menulis antropologi populer, tetapi mengajukan filsafat hidup yang bersumber dari pengamatan empiris. Ia menolak pandangan yang menganggap masyarakat modern sebagai puncak evolusi sosial. Baginya, masyarakat tradisional bukanlah masa lalu manusia, melainkan cermin yang memperlihatkan aspek-aspek kemanusiaan yang telah pudar.
Meski demikian, buku ini tidak lepas dari kritik. Beberapa antropolog menilai pendekatan Diamond cenderung bersifat evolutionary determinist, seolah masyarakat tradisional merepresentasikan masa lalu manusia secara linear menuju modernitas. Kritik ini sah, karena banyak komunitas adat kini hidup dalam relasi kompleks dengan dunia modern tanpa kehilangan identitasnya. Namun di sisi lain, penulis melihat justru hal itu yang membuat buku Diamond penting, ia tidak memberi jawaban final, melainkan membuka ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Ia memaksa kita mempertanyakan apa yang sebenarnya kita sebut sebagai kemajuan, dan apakah kehidupan yang serba efisien ini benar-benar membuat kita lebih bahagia.
Bagi pembaca Indonesia, buku ini sangatlah relevan. Indonesia adalah rumah bagi ratusan masyarakat adat yang masih hidup dengan sistem nilai tradisional, dan sering kali dipandang tertinggal. Padahal, sebagaimana ditekankan Diamond, mereka justru menyimpan pelajaran penting bagi dunia modern tentang cara menjaga keseimbangan dengan alam, membangun solidaritas sosial, dan menciptakan perdamaian tanpa kekerasan. Dalam konteks global yang dilanda krisis lingkungan, konflik sosial, dan keterasingan psikologis, pelajaran dari masyarakat tradisional terasa semakin mendesak untuk dipelajari.
Akhirnya, The World Until Yesterday bukanlah ajakan untuk kembali hidup seperti di masa lampau, tetapi undangan untuk mengingat kembali apa yang membuat kita menjadi manusia. Jared Diamond menulisnya dengan kesadaran bahwa masa lalu tidak bisa dihidupkan, tetapi bisa dijadikan guru. Dunia hingga kemarin mungkin telah berlalu, tetapi kebijaksanaan yang dikandungnya tetap menjadi cahaya bagi dunia hari ini. Membaca buku ini, tidak hanya memahami sejarah sosial manusia, tetapi juga menemukan cara untuk menjadi manusia yang lebih utuh di tengah dunia yang serba modern. (*)
Editor: Kukuh Basuki
