Pengajar di sekolah menengah pertama

Melilau Kehilangan yang Kesekian dan Puisi Lainnya

Fio F. Yussup

1 min read

Melilau Kehilangan yang Kesekian

ada layu mengapung
hampa di malam rahim
tak datang menunggu jemari

bayangan berlari kecil
cermin menembus
bisu menyapa nama

berdengung pada tubuh kosong
dalam pelukan siapa
semu merangkul angin

pagi bercerita cahaya
sosok hilang sebelum
terpejam bola mata sepasang

hati menyimpan lantunan
tak pernah terdengar
dari bibir tak lahir

waktu menyesap
meninggalkanku
dalam larik kosong

(Surabaya, 2025)

Melilau Cermin

bulan sabit dia menangis, sayangku. menangis dalam cermin retak lantaran aku tak tahan melihat wajahnya. sayang, untungnya kau tidak masuk ke dalam cermin itu. sayang, jika kamu tak pernah ada, selamanya ada hanyalah angin luka. angin membisikkan nama kau tak pernah dikenal dalam setiap lagu pengantar tidur lagu-lagu untuk tak pernah bangun. kursi goyang berderit sendirian, menunggu tawa hingga lesap sebelum sempat bertatap. demi waktu kau tak pernah kembali, sayangku, aku dan entah apa namanya berpelukan di antara riak sunyi. sementara dunia terlalu tak acuh, jika memang belum saatnya ini terlalu menyakitkan.

(Surabaya, 2025)

Dara

aku membeli hari ini
sepatu kecil untuk rabaan tak sempat
halaman rumah berjalan

aku menyulam tempat tidur
dengan kupu-kupu dan kura-kura
untuk cericau air mata

lantunan tembang dara
pengantar
untuknya kau tak mendengar

(Surabaya, 2025)

Gugur

gerigi menggilas waktu langit
usai masa sudah menunggu
genggaman mencari kosong
ucapan tembang terbata-bata
rahmat datang tak sempat

tuhan kau maha menyendiri dan maha tidak tergesa-gesa,
aku ikhlas.

(Surabaya, 2025)

Melilau Lesap

jemari di sela pagi
aroma manis susu masih tersari
dan di sudut ranjang
amis sunyi makin ketara di antara nara

sudah kali berapa kuatur rak tanpa tahu untuk siapa tawa disusun
aku hanya mencari jejak terbawa arus mata air mata

tanganku gemetar
menyentuh dinding
karena udara terlalu malam

demi waktu

suara hanya tinggal lipatan
dalam kotak bergambar awan

(Karawang, 2025)

Anjani

ketika
kau berangkat
pada agustus tahun lalu
februari, maret tahun ini
tuhan mungkin sedang memakan buah
stroberi di surga firdaus
lalu,
malaikatnya mungkin sedang menambal
jalan berlubang di utara jawa
namun, kau berangkat seperti cahaya
yang padam sebelum azan subuh berkumandang

dalam tubuh
digantikan sunyi menjadi lorong altar kosong
pernah diisi ritus-ritus kecil

kau
melihat bara tak sempat
lesat telah kembali

semua doa tertinggal
hingga kau kembali tinggal
bumi dan matahari di sela-sela banal

Tepat Pada Malam Tahajud dan Witir

ketika malam
tahajud dan witir
dosa tubuh sepasang menumpah sekitar kaki langit

tubuh aku bukan lagi tubuh
melainkan kitab senantiasa menyulut halaman-halaman birahi
kemudian terbakar sebelum sempat diulas

dan kau, tubuh kau adalah lembaran merah padma
terpatri tinta air mata persembahan
tempat doa-doa dilangitkan tak sempat dengan tangan dibasuh

sela jari kau
harum tak lagi bunga-bunga persembahan
hanya tali pengingat bahwa malam itu tak menyisakan suci

merah ranjang hotel
adalah tergadai tanah suci
sejumput roh kudus
pernah singgah
lalu pergi
embusan desah akhir
lupa kami bertakbir
siapa berani bicara
tentang surga;
tentang neraka;
tentang iba nyeri sunyi;
suara itu doa-doa
telah lesap
bahkan sebelum diberi nama
dan langit
membisu setelah keberangkatan roh kudus

pagi menunggu gorden hotel dibalik
dengan adzan menyesap tak sempat

(Bojonegoro, 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Fio F. Yussup
Fio F. Yussup Pengajar di sekolah menengah pertama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email