Melilau Kehilangan yang Kesekian
ada layu mengapung
hampa di malam rahim
tak datang menunggu jemari
bayangan berlari kecil
cermin menembus
bisu menyapa nama
berdengung pada tubuh kosong
dalam pelukan siapa
semu merangkul angin
pagi bercerita cahaya
sosok hilang sebelum
terpejam bola mata sepasang
hati menyimpan lantunan
tak pernah terdengar
dari bibir tak lahir
waktu menyesap
meninggalkanku
dalam larik kosong
(Surabaya, 2025)
–
Melilau Cermin
bulan sabit dia menangis, sayangku. menangis dalam cermin retak lantaran aku tak tahan melihat wajahnya. sayang, untungnya kau tidak masuk ke dalam cermin itu. sayang, jika kamu tak pernah ada, selamanya ada hanyalah angin luka. angin membisikkan nama kau tak pernah dikenal dalam setiap lagu pengantar tidur lagu-lagu untuk tak pernah bangun. kursi goyang berderit sendirian, menunggu tawa hingga lesap sebelum sempat bertatap. demi waktu kau tak pernah kembali, sayangku, aku dan entah apa namanya berpelukan di antara riak sunyi. sementara dunia terlalu tak acuh, jika memang belum saatnya ini terlalu menyakitkan.
(Surabaya, 2025)
–
Dara
aku membeli hari ini
sepatu kecil untuk rabaan tak sempat
halaman rumah berjalan
aku menyulam tempat tidur
dengan kupu-kupu dan kura-kura
untuk cericau air mata
lantunan tembang dara
pengantar
untuknya kau tak mendengar
(Surabaya, 2025)
–
Gugur
gerigi menggilas waktu langit
usai masa sudah menunggu
genggaman mencari kosong
ucapan tembang terbata-bata
rahmat datang tak sempat
tuhan kau maha menyendiri dan maha tidak tergesa-gesa,
aku ikhlas.
(Surabaya, 2025)
–
Melilau Lesap
jemari di sela pagi
aroma manis susu masih tersari
dan di sudut ranjang
amis sunyi makin ketara di antara nara
sudah kali berapa kuatur rak tanpa tahu untuk siapa tawa disusun
aku hanya mencari jejak terbawa arus mata air mata
tanganku gemetar
menyentuh dinding
karena udara terlalu malam
demi waktu
suara hanya tinggal lipatan
dalam kotak bergambar awan
(Karawang, 2025)
–
Anjani
ketika
kau berangkat
pada agustus tahun lalu
februari, maret tahun ini
tuhan mungkin sedang memakan buah
stroberi di surga firdaus
lalu,
malaikatnya mungkin sedang menambal
jalan berlubang di utara jawa
namun, kau berangkat seperti cahaya
yang padam sebelum azan subuh berkumandang
dalam tubuh
digantikan sunyi menjadi lorong altar kosong
pernah diisi ritus-ritus kecil
kau
melihat bara tak sempat
lesat telah kembali
semua doa tertinggal
hingga kau kembali tinggal
bumi dan matahari di sela-sela banal
–
Tepat Pada Malam Tahajud dan Witir
ketika malam
tahajud dan witir
dosa tubuh sepasang menumpah sekitar kaki langit
tubuh aku bukan lagi tubuh
melainkan kitab senantiasa menyulut halaman-halaman birahi
kemudian terbakar sebelum sempat diulas
dan kau, tubuh kau adalah lembaran merah padma
terpatri tinta air mata persembahan
tempat doa-doa dilangitkan tak sempat dengan tangan dibasuh
sela jari kau
harum tak lagi bunga-bunga persembahan
hanya tali pengingat bahwa malam itu tak menyisakan suci
merah ranjang hotel
adalah tergadai tanah suci
sejumput roh kudus
pernah singgah
lalu pergi
embusan desah akhir
lupa kami bertakbir
siapa berani bicara
tentang surga;
tentang neraka;
tentang iba nyeri sunyi;
suara itu doa-doa
telah lesap
bahkan sebelum diberi nama
dan langit
membisu setelah keberangkatan roh kudus
pagi menunggu gorden hotel dibalik
dengan adzan menyesap tak sempat
(Bojonegoro, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
