Menulis karena dunia terlalu serius ditanggapi tanpa satire, dan terlalu getir untuk ditinggal diam.

Genosida Beraroma Lavender dan Puisi Lainnya

Gilang Ramadhan

2 min read

Resolusi Tanpa Gigi

anak itu duduk di sudut tenda
mengunyah sesuatu
yang tak pernah ada.

mungkin angin,
mungkin kenangan roti
yang diceritakan ibunya
seperti dongeng yang hilang halaman akhirnya.

giginya copot
bukan karena usia,
tapi karena serpih bom
tiba-tiba menyentilnya.

di luar,
seorang lelaki tua membacakan
resolusi terbaru dunia
kepada seekor kucing kurus
yang tertidur di atas sisa kasur.

ia membaca perlahan
seperti membaca puisi,
karena tahu,
tidak ada yang mendengarkan.

kata-kata seperti:
gencatan, damai, hak sipil, akses bantuan
terbang di udara
dan jatuh ke tanah
seperti burung mati.

di kamp pengungsian,
tak ada satu pun kata
yang bisa dimasukkan ke dalam mulut
kecuali diam.

dan anak itu,
masih duduk di sudut tenda,
mengunyah bayangan ibunya
yang pernah berkata:
“suatu hari nanti,
kita akan makan roti bersama malaikat
di langit pertama.”

(2025)

Pizza dan Roti

seorang ibu di ramallah
menjerang air
yang tak jadi mendidih.
panci di atas tungku
diam seperti langit
setelah ledakan terakhir.

ia menabur garam
yang diambil dari matanya sendiri.
bukan untuk rasa,
hanya untuk mengenang
bahwa pernah ada laut
yang tak berubah jadi kuburan.

di tel aviv
seorang jenderal duduk tenang,
memotong pizza
dengan pisau yang bersih.
ia tidak melihat
apa yang mengalir dari tepiannya:
mozarella,
dan darah yang entah dari mana.

anak-anak di jabaliya
bermain di reruntuhan.
seorang di antaranya berkata,
“ini bukan sekolah,
ini rumah batu
yang belum sempat jadi rumah.”

ia menulis
dengan kapur patah:
ayah mati demi gandum.
lalu diam,
karena pesawat tak menyukai puisi.

di hebron
pohon zaitun bicara lirih:
“kami dulu tempat burung-burung bersarang,
sekarang kami tempat luka-luka digantung.”

di meja makan dunia
ada tempat kosong
dengan nama yang dilipat rapi: palestina
tak ada yang memanggilnya duduk.
mereka terlalu sibuk
memilih topping
di atas roti yang tak terbakar.

pizza dan peluru
adalah dua kata
yang tak seharusnya berdampingan.
tapi hari ini,
kami belajar bahwa
lidah diplomasi
lebih tajam dari peluru itu sendiri.

dan ketika dunia selesai bersendawa,
kami masih menggali
tanah
untuk tubuh-tubuh kecil
yang belum sempat tumbuh gigi.

(2025)

Doa Tanpa Roti

di nuseirat,
seorang anak menengadah,
bukan untuk meminta langit,
karena ia tahu
langit tak punya apa-apa
selain dentum dan abu.

ia hanya ingin tahu
bagaimana caranya
berdoa
tanpa disela bunyi sirine.

ibunya diam,
mulutnya bergerak-gerak
seperti nyala lilin kecil
dalam angin yang pelan-pelan kejam.

di meja mereka,
jika bisa disebut meja,
ada piring kosong
dan doa yang juga kosong.

roti telah pergi
bahkan sebelum gandum sempat tumbuh.

dan di tempat jauh,
ada tangan-tangan bersih
menyusun janji-janji
dalam bahasa yang tak mengerti lapar.

di jenin,
seorang lelaki tua menggumam:
“Tuhan pasti sibuk hari ini.”
lalu menyeka debu
dari mushaf yang tinggal setengah.
yang setengah lainnya
telah disobek
oleh waktu yang terlampau bising.

di dalam tenda pengungsian,
doa berdesak-desakan
dengan amis keringat,
dengan batuk anak-anak,
dengan bau kain basah
yang sudah dua minggu
tak sempat dijemur.

dan langit pun hanya menunduk.
mungkin malu,
atau mungkin sedang menunggu
siapa yang lebih dulu habis:
doa atau tubuh.

(2025)

Genosida Beraroma Lavender

seorang wanita di deir al-balah
menjemur pakaian
yang tak sempat dicuci.

matahari terlalu sibuk
menerangi laporan resmi
yang ditulis dengan huruf kecil
dan ejaan yang wangi.

di luar layar,
dunia menyemprotkan wewangian
ke ruang-ruang sidang
yang berbicara tentang
proporsi, keamanan, dan hak membela diri.

lavender,
kata mereka,
menenangkan pikiran
setelah melihat video
yang terlalu merah
dan terlalu anak-anak.

di dalam tenda,
seorang gadis kecil
menggambar rumah
dengan krayon patah.
atapnya miring,
pintunya hilang.

tapi langitnya ungu.

“seperti sabun yang dulu dipakai ibu,”
katanya.
“waktu kami masih punya air.”

dan sementara tubuh-tubuh
disusun di pinggir jalan
seperti karung beras yang kosong,
seorang reporter berkata:
“bau darah tak terlalu menusuk
karena angin hari ini harum.”

lavender.

dan perempuan itu,
yang tadi menjemur pakaian,
duduk diam di bawah tali jemuran
yang kini tergantung
nama-nama anaknya.

(2025)

Musim Lapar

musim berganti
tapi perut kami tetap kosong.
langit mengabarkan hujan,
tapi yang jatuh adalah suara bom
dan potongan sayap burung
yang tak sempat terbang.

kami menyebut tempat ini kota,
padahal yang tersisa
hanya reruntuhan
dan papan-papan kayu
dengan coretan tanggal kematian.

setiap pagi,
seorang lelaki mendorong gerobak
yang berisi sisa roti
yang tak jadi dimakan kemarin.
ia berhenti di setiap sudut
untuk melihat apakah
seseorang telah mati di sana.

dan di sore hari,
anak-anak bermain perang-perangan
tanpa tahu
bahwa permainan itu
sedang dimainkan di atas mereka,
oleh negara-negara
yang terlalu jauh
untuk merasa bersalah.

ibu kami menanak batu
karena katanya,
“aroma tanah bisa mengenyangkan
meski hanya sebentar.”

dan malam pun tiba
seperti biasa:
tidak membawa mimpi,
hanya dingin
dan hitungan korban terbaru
yang dibisikkan perlahan
oleh angin kepada tembok.

jika ini disebut kehidupan,
maka kami telah hidup
terlampau lama
untuk tidak kelaparan.

(2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Gilang Ramadhan
Gilang Ramadhan Menulis karena dunia terlalu serius ditanggapi tanpa satire, dan terlalu getir untuk ditinggal diam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email