“Kamu anak psikologi, ya? Coba tebak aku orangnya seperti apa?”
Pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh seseorang yang mengetahui bahwa lawan bicaranya sedang atau pernah kuliah jurusan psikologi. Biasanya, pertanyaan itu disampaikan dengan senyum penuh rasa ingin tahu, seolah-olah kita bisa mengerti isi pikiran orang hanya melalui tatapan mata, gerakan tangan, hingga cara bicara wkwkwk.
Entah sejak kapan ilmu Psikologi mendapat reputasi seperti itu. Barangkali karena kita sering melihat adegan film ketika seorang psikolog bisa mengetahui trauma masa lalu seseorang, bahkan masa depan seseorang hanya melalui obrolan ringan. Atau mungkin karena konten-konten di sosial media yang gemar menyederhanakan perilaku manusia menjadi rumus yang terdengar meyakinkan, seperti orang yang jarang membalas pesan berarti tidak tertarik, atau orang yang banyak tertawa diam-diam berarti menyimpan kesedihan.
Masalahnya, ilmu psikologi bukan ilmu trawang atau ilmu dukun. Ilmu psikologi tidak mengajarkan kita untuk sembarangan menyimpulkan isi kepala orang lain, apalagi mengklaim mengetahui kepribadian seseorang hanya berdasarkan temuan atau bacaan singkat.
Baca juga:
Ilmu psikologi mempelajari perilaku manusia dan proses mental manusia dengan pendekatan ilmiah, menggunakan teori, metode penelitian, serta pengamatan kontekstual.
Seseorang yang terus tersenyum tidak otomatis sedang menyembunyikan kesedihan atau orang yang terlihat percaya diri belum tentu merasa aman dengan dirinya sendiri. Perilaku yang sama bisa muncul karena alasan yang berbeda, bergantung pada situasi, pengalaman hingga keadaan orang yang mengalaminya.
Ironisnya, kita sering merasa sudah memahami seseorang hanya dari beberapa percakapan. Orang pendiam disebut bohong, yang banyak tertawa dianggap menyimpan kesedihan, sementara yang jarang membalas pesan dicap tidak tertarik. Padahal, manusia tidak sesederhana daftar ciri kepribadian di media sosial.
Lantas, bagaimana sebenarnya psikologi memahami perilaku manusia? Apakah Bahasa tubuh dan teori kepribadian tidak bisa digunakan untuk mengenali seseorang? Tentu bisa, tetapi ada batas dan cara yang perlu dipahami. Sebab, memahami manusia membutuhkan lebih dari sekadar tebakan. Di sinilah kita perlu mengerti psikologi sebagai ilmu, bukan kebiasaan menerka-nerka isi kepala orang lain.
Kepribadian Manusia Bukan Tebak-tebakan
Barangkali salah satu hal yang menarik sekaligus menyebalkan adalah bahwa kita tak pernah benar-benar selesai mengenal seseorang. Hari ini ia tampak begitu ramah, besok ia bisa memilih bersikap angkuh atau membuang pandangan dari kita. Seseorang yang kita kenal humoris ternyata menyimpan banyak kecemasan. Sebaliknya, seseorang yang kita kenal dingin, ternyata ia adalah orang pertama yang membantu ketika kita kesusahan.
Carl Gustav Jung, seorang psikolog asal Swiss, memperkenalkan konsep persona untuk menjelaskan wajah atau peran seseorang yang ditampilkan ketika berhadapan dengan dunia sosial. Tentu, kita punya peran yang berbeda-beda. Di hadapan seorang bos atau juragan mungkin kita berusaha terlihat sopan dan sungguh-sungguh. Sementara, di hadapan teman-teman kita bebas memutuskan perilaku apa adanya. Kita masih orang yang sama, tetapi cara kita menampilkan diri bisa berubah mengikuti keadaan.
Di sisi lain, pengalaman saya sendiri justru membuat persoalan ini lebih lucu. Sebagai seorang yang belajar psikologi, saya pernah mengikuti tes tulis kepribadian di salah satu perusahaan tempat saya melamar kerja di Surabaya. Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan pilihan ganda dan deskripsi dengan jawaban yang menghasilkan skor sangat baik, sampai mengarah pada kategori perfeksionis. Padahal, kalau ditanya apakah saya benar-benar perfeksionis, rasanya tidak juga wkwkwk.
Saya hanya berusaha memilih jawaban yang sekiranya bisa membantu saya lolos seleksi. Dari situ saya sadar, hasil tes kepribadian tidak selalu menggambarkan diri manusia secara utuh. Ada kemungkinan orang menjawab berdasarkan sosok ideal yang ingin ditampilkan, bukan berdasarkan kebiasaan dan perilakunya setiap hari.
Dalam psikologi, kecenderungan tersebut dikenal sebagai social desirability bias, yaitu kecenderungan seseorang memberikan jawaban yang dianggap dapat diterima secara sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa upaya memahami pribadi manusia juga berhadapan dengan persoalan kejujuran, kesadaran diri, dan situasi ketika seseorang menjalani tes. Artinya, hasil tes perlu ditafsirkan secara hati-hati, bukan langsung dianggap sebagai gambaran mutlak tentang diri seseorang.
Baca juga:
Bahkan, Gordon Allport, salah satu tokoh psikologi kepribadian dari Amerika Serikat, memandang kepribadian manusia adalah organisasi yang dinamis dalam diri individu. Kata dinamis menjadi penting karena manusia bukan sekadar kumpulan sifat yang bekerja secara mekanis. Pengalaman, lingkungan, serta perjalanan hidup individu dapat memengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasakan, hingga mengambil keputusan.
Barangkali inilah yang membuat manusia sulit didefinisikan secara mutlak. Kita bisa mengenal seseorang bertahun-tahun, mengetahui kebiasaanya, bahkan merasa hafal bagaimana ia merespons suatu masalah hidupnya, tetapi tetap ada sisi dirinya yang luput dari pemahaman kita.
Jadi, kalau suatu hari ada yang bertanya apakah anak psikologi bisa menebak kepribadian orang lain, jawaban saya mungkin cukup begini: kami bisa memahaminya, tetapi bukan berarti kami berhasil mendefinisikannya. Toh, memahami manusia bukan perkara seberapa cepat kita bisa memberikan penilaian atau menjatuhkan penghakiman, melainkan kesediaan untuk terus mengenal tanpa buru-buru merasa paling tahu. (*)
Editor: Kukuh Basuki
