Kabar dari Mimpi
Sudah kubaptis nyawa ini
dalam kamar yang diterangi lilin
setengah meleleh,
cahaya gemetar menari di dinding,
menyentuh bahu telanjangmu,
membentuk bayang yang jujur
dari doa-doa kita.
Kau berdiri di ambang malam,
gaun tipis menempel pada kulit basah,
napasmu mengaburkan cermin di punggungmu.
Aku melihat lehermu bergerak pelan,
denyut nadi bergetar di bawah leher,
dan di bawahnya, payudaramu,
tegang seperti doa yang belum dikabulkan,
dengan bayangan bulan jatuh di lekukannya.
Bacalah aku, sa-yang…
Jari-jariku berjalan sepanjang punggungmu,
menelusuri lekuk yang mengarah ke pinggul,
ke bukit yang naik-turun dalam ritme binal,
ke belahan di mana surga bersembunyi
—
tempat embun meresap ke dalam daging,
tempat waktu berhenti untuk sejenak.
Bacalah aku, sa-yang…
Lalu aku mencium perutmu,
di mana kulit terasa seperti kain sutra
yang baru saja disetrika oleh panas tubuh,
dan bibirku bergerak lebih rendah,
ke tempat di mana engkau membuka diri,
di mana gelombang laut bertemu pasir,
di mana kesunyian mendesah
seperti angin
yang tersesat di antara bebatuan.
Bacalah! ba-calah a-ku, sa-yang…
Kakimu mengapit pinggangku,
tubuhmu terangkat sedikit,
seperti ranting pasrah dalam angin jahat.
Dan di antara helaan napas,
aku mendengar suaramu,
parau, memanggilku seperti
doa yang terlupakan,
seperti nyanyian gereja
yang dinyanyikan dengan ragu,
seperti pengakuan dosa
yang tidak ingin ditebus.
Tap-i say-ang…
Saat kita tenggelam dalam
gelombang yang naik,
ketika tubuh kita menjadi satu mantra,
aku berpikir—
jika ini bukan surga,
maka ia telah jatuh terlalu dekat.
Tapi pagi akan datang,
dan kita akan kembali menjadi asing,
meninggalkan jejak yang hanya
diingat oleh sprei kusut
dan embun di jendela.
(2025)
–
Aku ke Tubuhmu
Aku datang ke tubuhmu,
ke bukit-bukit yang mendesah pilu,
tempat di mana surga menyaru
menjadi dosa yang terlalu merindu.
Aku masuk ke lembah tubuhmu,
tempat kesucian berlumur waktu,
lembut seperti pagi yang basah,
gemetar dalam nyala yang pasrah.
Ah, aku datang ke tubuhmu, sayang,
tempat gairah berbentuk bayang.
Tubuhmu melengkung seperti gelombang,
menerjang aku—dan aku tenggelam.
Aku datang ke tubuhmu,
ke celah rahasia yang mencium gelap.
Altar kesucianmu terbakar,
dan lilin-lilin kecil menari liar
di tangan malam yang penuh getar.
Katakan padaku, sayang,
kau ikut denganku ke lorong ini?
Ke sudut waktu yang tak lagi dihitung,
di mana denyut kita membunuh sunyi?
Tapi kini aku tahu,
tubuhmu adalah bumi yang menganga,
mengisap waktu, menelan makna,
dan aku, seperti sungai yang berkelana,
berhenti di muara tubuhmu—lalu hilang.
Aku datang ke tubuhmu,
ke setiap simpul dan jaringnya,
tempat alam raya berhenti berdoa,
karena segala doa
sudah menjadi tubuhmu.
Dan aku tahu,
tak ada surga lain selain ini.
(2025)
–
Alasan untuk Menunggumu
Jendela terbuka,
angin malam menelusup celah kulitmu,
mengangkat bulu-bulu kecil di lehermu
seperti doa yang tak pernah selesai.
Malam ini, aku membaca tubuhmu
seperti Alkitab terlarang,
setiap halaman basah oleh
napas kita yang tertahan.
Tawa di dadamu—
bukan suci, hanya jujur,
seperti dengus di lorong motel murahan.
Ketika aku menanam diriku
di dalammu,
kita menjadi tanah basah
yang ditumbuhi bunga berduri.
Dewa cinta tak peduli;
dia hanya berdiri di sudut kamar,
mengisap rokok terakhir
dan meniupkan asap ke bumi.
Darahku—
berdenyut di bawah jari-jarimu,
sel-sel putih berdesakan,
menciptakan ritme dari erangan.
Kamu adalah pabrik yang memeras tubuhku,
dan aku, buruh yang tak pernah pulang,
mengejar kelelahan manis itu.
Hujan menghantam genting.
Kita bergelut seperti hewan lapar
di tanah liat ini.
Nafsu adalah pencuri
yang meninggalkan bekas luka
di waktu yang sudah tak kita pedulikan.
Tubuhmu—sempurna dalam pori-pori basahnya—
adalah altar yang mengisap persembahan.
Aku dengar bisikan di antaranya:
bisikan selimut yang hancur,
bisikan lantai yang berderit,
bisikan jiwa-jiwa yang bergetar
sebelum akhirnya terkapar.
Jendela itu masih terbuka,
seperti mulutmu,
menunggu untuk ditutup
atau untuk dilupakan.
Kekasih, datanglah lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
(2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
