Hantu-Hantu Ingatan

Pude Jari

5 min read

Langit makin mendung di taman Ismail Marzuki. Ranseus duduk di depan sebuah kolam dengan ikan-ikan yang hilir mudik. Di depan kantin Nusantarium. Melihat pemberitaan yang tak ada henti membuatnya ingin mengutuk diri jadi ikan saja. Siapa tahu negara ikan-ikan menerimanya jadi anggota. Kolam di depan kantin ini, jadi tempat strategis membangun negara ikan-ikan. Segala ingatan tak diperlukan, sebab perikanan tak harus adil dan beradab. Kemanusiaan telah dikutuk jadi batu. Bayang-bayang menyakitkan yang semakin sering muncul dalam beberapa waktu ini, akan terkubur di dubur dan keluar di sepiteng saja. Harusnya begitu. Harusnya? Tidak…

***

Sejak kecil  Ranseus meyakini ada yang aneh dengan kinerja otaknya. Gejala yang timbul dari kinerja otak ini semakin sering muncul ketika ia datang ke kota ini. Kota yang namanya dahulu hanya ia dengar  dalam televisi, koran, atau dalam ponsel butut Bapa. Begini, cara kerja otak anehnya. Ketika matanya menangkap pandang seseorang ia bisa melihat melintasi batas yang tak mungkin. Sebuah film kusut akan terputar secara otomatis. Kemampuannya ini kadang membuatnya takut. Sebab rasanya ngeri bisa membaca ingatan dalam pandangan mata. Ranseus pernah omong kepada Bapa dan Mama tapi orang-orang tidak percaya dan sambil bercanda mengatakan Ranseus bisa saja jadi suanggi  kalau lama-lama tinggal di kampung. Yah, mana mungkin kan seseorang bisa melihat ingatan dalam mata orang lain? Karena lelah menjelaskan membuat keinginan Ranseus jadi ikan semakin besar, sebesar ikan paus yang biasa Bapa tangkap ketika musimnya tiba.

***

Jalanan Jakarta tetap menyebalkan. Ruwet dan macet. Pembangunan ada di mana-mana. Tidak pernah selesai sejak ia pertama kali menginjakkan kaki ke Jakarta untuk belajar.

Namun Ranseus tetap harus berangkat kerja seperti biasa. Ia seorang guru di sebuah sekolah Menengah Kejuruan swasta di pusat kota. Hari-hari ngelaju. Bersumpek-sumpekan dengan beragam manusia yang warna-warni sepulang kerja yang memabukkan. Kadang-kadang ia bayangkan dirinya berubah jadi balon ketika diimpit oleh orang dari berbagai arah. Kemudian meletus dan berubah lagi menjadi buih-buih di aliran air mampet yang mengalir di tengah kota. Dan hilang. Hilang bersama ingatan-ingatan yang mengimpit datang sesuka hati.

***

Suatu hari ketika memasuki akhir minggu. Di kamis yang ke sekian, di depan bangkunya, Ranseus melihat dua orang perempuan dengan pakaian hitam dan rambut potongan bob, asyik ngobrol. Memegang masing-masing sebuah payung hitam, padahal di luar sedang tidak hujan.

Semacam sebuah video diputar secara acak, perempuan yang pertama dengan rambut kelabu di hadapannya, menemukan matanya  tiba-tiba berubah menjadi lebih muda 26 tahun dari umurnya. Perempuan itu sedang menyuapi sepiring nasi kepada seorang anak lelaki berumur 20-an awal, di dalam MRT yang sedang melaju pada seorang anak lelaki, bukankah anak-anak lelaki tidak senang dimanja demikian? Namun anak dan ibu di hadapannya tersenyum begitu tulus, satu sama lain. Seperti tidak ada hari esok. Tidak ada kegelapan, tidak ada tangisan. dan tidak ada ingatan.

Film yang berikutnya tiba-tiba hadir ketika perempuan lainnya melihat pada matanya, rasanya seperti masuk dalam pusaran air bah, ia melihat perempuan muda di hadapannya ngobrol asyik dengan seorang laki-laki berkumis tebal, tubuh yang kurus, dan tahi lalat di pipi sebelah kiri. Dua orang itu ngobrol dengan intim menggunakan dialek Jawa Timur-an yang khas. Senyum keduanya terkembang, Ranseus lamat-lamat mendengarkan.

“Bu, berkas-berkas malam nanti untuk Mawar jangan lupa disiapkan.”

“Berkas yang itu jangan sampai hilang. Kalaupun hilang biar kamu saja yang tahu.”

“Bu, besok saya minta dibuatkan makan yang enak biar nanti sampai Belanda tidak perlu makan yang lain. Saya tidak tahu cocok atau tidak dengan makanan Belanda.”

“Bu tapi nanti sampai Singapura, apa sebaiknya saya tidak usah makan saja yah? Ibu buatkan bekal untuk saya.” Sang suami banyak berbicara soal rapat, makanan, mawar, dan Belanda. Istri hanya manggut-manggut dan tersenyum. Orang-orang di sekitar seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi. Mereka biasa-biasa saja. Ranseus tetap melihat dua film itu terputar acak, amburadul, tercecer di sana-sini. Kadang-kadang keempat orang itu akan menatap matanya dengan sengaja dan tersenyum.

“Ranseus, ingatlah bahwa yang tidak menghormati kemanusiaan dia hanya layak jadi batu. Jadi batu.” Kata lelaki dengan kumis tebal itu sambil tersenyum. Sedang orang-orang di dalam ruangan itu berubah jadi ikan-ikan dengan tubuh manusia. Berhimpitan untuk segera keluar. Tidak peduli.  Mereka harus bekerja.

***

Semenjak kejadian itu, Ranseus jadi semakin takut, menatap mata siapapun. Kini film acak yang diputar di hadapannya semakin jelas. Seakan ia betul-betul masuk dalam lakon di depannya. Kehidupan harus tetap berjalan dengan biasa-biasa saja, sehari-hari Ranseus tetap harus menghadapi anak-anak yang bandel kena puber kepengen cepat dadi dewasa. Hidup sebagai guru di tengah gemerlap kota metropolitan yang beken begini membuatnya harus juga mencari sampingan yang lain. Kadang-kadang ia memilih untuk bekerja jadi barista di kedai kopi yang gandrung didatangi anak muda. Anak-anak dengan geliat semangat membara menghadapi dunia. Ada satu anak yang selalu datang di setiap ia bekerja, setelah Ransius selesai mengajar. Mata gadis itu berbinar-binar, seperti mata ikan mas koi yang bulat ketika melihat dirinya. Anak perempuan dengan umur awal dua puluhan itu kadang datang dengan almet hijau daun yang disampirkan di kursi. Hari itu keduanya pertama kalinya berbincang. Ranseus menatap matanya.

Putaran film acak tiba-tiba muncul, ia melihat seorang guru yang mengajar di sebuah desa dengan papan tulis seadanya, anak-anak hanya bertelanjang kaki. Memakai baju seadanya. Ingus yang meleleh turun dan mereka tetap tersenyum. Guru itu menyapanya.

“Ranseus, sudah jadi guru ko? Di jakarta enak kah, tidak?”

Tatapan mata guru wanita yang baru saja menyapanya membuat Ranseus kembali tersadar. Ia tahu ingatan milik siapa yang baru saja terputar.

Gadis yang menyapanya tadi membuka suara, “Mas, saya lagi ada project gitu dari kampus. Nyari mas-mas guru yang nyambi pekerjaan lain.”

“Rencananya, saya dan teman-teman mau ngadain survei, untuk melihat kebijakan-kebijakan orang ataslah, masa katanya mau bikin aplikasi kayak pesan antar gitu biar bisa order jasa guru kan medeni yo. Eh maaf mas, saya orang Jawa soalnya. Hehehe.” Ranseus diam hanya mendengarkan. Kemudian bersuara.

“Hmm, saya cuma guru di sekolah swasta, Mbak. Tapi kalau memang bisa membantu saya senang sekali.” Ranseus menjawab sambil menerima orderan-orderan yang masuk. Orang-orang terus berdatangan. Gadis di depannya terus bicara, Ranseus tertegun melihat ruangan berubah jadi kolam dengan air yang butek dan bau. Ranseus tiba-tiba terbatuk-batuk, ikan-ikan dalam kolam di taman Ismail Marzuki muncul di hadapannya. Mereka warna-warni, mewujud menjadi para pelanggan yang datang.

Suara gadis itu semakin jauh, saat ia menengok untuk mengecek kondisi gadis itu ia telah bermetamorfosa menjadi semut. Banyak sekali semut, mereka berarak mengerubungi jas almet yang tersampir di kursi, membawanya ke tengah ruangan. Ranseus hanya melihat dari samping, dengan kepala yang sudah kepenuhan. Sayup-sayup dari televisi terdengar warta berita, “Dibuka-dibuka pendaftaran program profesi guru gratis untuk mahasiswa yang sudah menempuh studi S-1. Semua jurusan boleh mendaftar yang penting punya ijazah.”

Sementara para semut yang ada di hadapannya marah-marah dan berteriak-teriak tapi suaranya tak terdengar sama sekali. Mereka berbaris rapi membentuk barisan. Semut-semut itu semakin banyak, mungkin menyanyikan hymne semut. Hymne perjuangan. Di setiap jalan yang dilewati orang-orang. Semut-semut itu  terus-terusan teriak. Sedang orang-orang berkepala ikan itu tetap makan dan melanjutkan aktivitas. Kepala Ranseus jadi semakin mumet, menjadi-jadi.

Gadis itu memanggilnya lagi, “Gimana, Mas… Jadi?”

***

Setelah begitu banyak kejadian yang datang, Ranseus semakin sering mengalami sakit kepala yang hebat. Sangat hebat hingga rasanya seluruh tulang belulang tercabik dari tubuhnya. Karena begitu sakit, maka ia putuskan untuk mendatangi rumah sakit. Dalam perjalanan, ia menaiki angkutan umum seperti biasa. Hari itu di awal tahun, dari ponsel-ponsel pengguna transjak terdengar lagu-lagu pendek yang viral.

Lirik lagu itu berulang kali terputar-putar di setiap pemberhentian dari ponsel-ponsel para pekerja yang buru-buru. Dari angkot-angkot, atau dari warung-warung kopi di pinggir jalan. Entah itu lagu apa, tapi lagi dan lagi terngiang-ngiang dalam kepala. Selebaran-selebaran ditebarkan di mana-mana seperti Bapa menjaring ikan-ikan masuk dalam pukat. Orang-orang itu memutar-mutar lagu itu.

Hingga ia melihat televisi wajah dua orang dengan baju biru yang gemoy, ia melihat wajah familiar itu. Entah di ingatan yang mana ia pernah bertemu. Seorang warta berita muncul dari televisi mendadak darah keluar dari televisi, membanjiri tempat Ranseus berpijak. Mengalir seperti air bah. Tak terbendung oleh apapun. Dari aliran itu muncul tunas-tunas aneh. Duri-duri muncul pada batang tumbuhan berbunga itu, kembang menguncup, merekah dengan indah. Ranseus mengenalinya sebagai bunga kecintaan semua orang dengan warna merahnya yang ranum, terlalu merah, mungkin menyerap aliran air bah itu terlalu dalam.

Setelah pewarta berita pergi, dua orang di televisi itu tetap tersenyum, sambil berjoget-joget dan bergandengan tangan. Merayakan kemenangan. Ranseus jadi semakin takut ia akan berubah menjadi ikan seperti manusia-manusia yang ia temui di jalan, di rumah, di sekolah atau di manapun. Mereka semua berkepala ikan. Mengobrol dan makan seperti manusia. Hidup dengan biasa-biasa saja, tidak melihat dan mengingat apapun. Semuanya aman-aman saja seperti ikan-ikan di dalam kolam di taman Ismail Marzuki.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Pude Jari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email