Keep calm and stay cool!

Malam dan Perempuan Limapuluh Tahun

Pitrus Puspito

2 min read

Perempuan itu berusia lima puluh tahun, dan waktu seolah berhenti mengenalnya setelah angka itu melekat pada dirinya. Ia tidak menikah, tidak pula merasa perlu menjelaskan alasannya kepada siapa pun. Dunia terlalu riuh untuk menerima penjelasan yang sunyi. Ia memilih diam.

Ia tinggal sendiri di sebuah rumah kecil yang selalu bersih, seakan keteraturan adalah satu-satunya cara menahan kekacauan di dalam kepala. Setiap benda memiliki tempatnya, setiap kebiasaan berulang tanpa variasi. Rutinitas baginya bukan sekadar kebiasaan, melainkan pagar yang menjaga agar hidupnya tidak runtuh ke jurang kecemasan.

Ia sangat tertutup, bukan karena membenci manusia, melainkan karena percakapan selalu menyisakan yang tak bisa ia jelaskan. Orang-orang terlalu cepat bertanya tentang masa depan, tentang rencana, tentang alasan mengapa hidupnya berjalan seperti ini. Padahal ia sendiri tak tahu jawaban yang pantas.

Malam adalah waktu yang paling ia cintai.

Saat matahari tenggelam dan dunia perlahan meredup, ia merasa menjadi utuh. Gelap meniadakan tuntutan. Malam tidak memintanya menjadi apa pun. Ia bisa duduk berjam-jam di dekat jendela, menatap lampu jalan yang berpendar redup, mendengarkan detak jam dinding yang terdengar seperti napas rumah itu sendiri.

Di malam hari, kesepiannya terasa jinak.

Kadang, di sela sunyi yang panjang, ia merindukan sosok lelaki. Bukan seseorang yang spesifik, bukan pula wajah dari masa lalu. Ia hanya merindukan keberadaan lain yang bernapas di ruangan yang sama—seseorang yang bisa ia dengar langkahnya di dapur, atau batuk kecilnya di tengah malam. Kerinduan itu datang tanpa permisi, seperti angin dingin yang menyelinap lewat celah pintu.

Namun rindu itu tidak pernah ia biarkan tumbuh terlalu lama. Ia tahu, harapan adalah sesuatu yang berbahaya bagi orang sepertinya. Ia belajar mencabut perasaan sebelum ia sempat berakar. Kesepian lebih aman daripada penantian.

Anehnya, ada malam-malam ketika ia justru menikmati kesendirian itu. Saat sunyi terasa penuh, bukan ksosong. Saat ia merasa cukup dengan secangkir teh hangat dan buku yang terbuka di pangkuan. Pada malam-malam seperti itu, ia meyakinkan dirinya bahwa hidup tanpa pasangan bukanlah kegagalan, melainkan pilihan yang tak semua orang mampu jalani.

Masalahnya, malam tidak abadi.

Yang paling ia takuti adalah siang hari.

Siang membawa cahaya dan cahaya menelanjangi segalanya. Di siang hari, ia harus bangun, bekerja, berinteraksi, dan menghadapi kenyataan bahwa usianya terus bertambah sementara hidupnya seakan berhenti di satu titik. Di bawah matahari, ia tidak bisa bersembunyi dari bayangan masa depan yang kabur.

Ia cemas, bukan karena takut mati, melainkan karena takut hidup terlalu lama sendirian. Takut suatu hari nanti tubuhnya melemah tanpa ada yang menyadarinya. Takut menjadi perempuan tua yang hanya dikenal sebagai “yang tinggal sendirian di ujung gang.”

Setiap pagi, saat cahaya masuk melalui celah tirai, jantungnya selalu berdetak sedikit lebih cepat. Ia menunda bangun, seolah dengan tetap terbaring ia bisa menahan siang agar tidak datang. Tetapi waktu tidak pernah bernegosiasi.

Ia pernah bertanya pada dirinya sendiri, apakah hidupnya akan selalu seperti ini. Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban, seperti awan yang tak pernah menjadi hutan. Masa depan terasa seperti ruang kosong—tidak sepenuhnya gelap, tetapi juga tidak menjanjikan terang.

Pada usia lima puluh, ia sadar bahwa hidup tidak lagi menawarkan banyak kemungkinan baru. Pilihan-pilihan besar telah lewat, dan yang tersisa hanyalah cara berdamai dengan keputusan yang pernah diambil atau tidak diambil. Kesadaran itu membuat dadanya sesak, namun ia belajar bernapas pelan-pelan.

Setiap malam sebelum tidur, ia sering berbisik, hampir tak terdengar, “Malam, jangan berlalu.” Bukan karena ia membenci siang, tetapi karena malam memberinya ruang untuk jujur pada dirinya sendiri. Di malam hari, ia boleh rapuh tanpa takut dinilai.

Ketika akhirnya pagi datang, ia tetap bangkit. Ia menyeduh teh, membuka jendela, dan membiarkan cahaya masuk meski dengan enggan. Ia tahu, hidup menuntut keberanian yang sunyi. Keberanian untuk terus berjalan meski tanpa kepastian.

Ia mungkin kesepian. Ia mungkin cemas. Namun setiap hari yang ia lewati adalah bukti bahwa ia masih bertahan.

Dan barangkali, di antara malam yang ingin ia genggam dan siang yang harus ia hadapi, di sanalah hidupnya berlangsung: tenang, rapuh, dan tetap berarti, meski tanpa saksi selain dirinya sendiri.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Pitrus Puspito
Pitrus Puspito Keep calm and stay cool!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email