Langit sore yang gelap menggantung rendah, sehitam arang yang belum padam. Angin menderu, mengetuk jendela dengan irama kasar, sementara hujan menorehkan garis-garis panjang di kaca rumah kontrakan kecil itu. Dari dalam, Arka duduk membisu. Ponsel di tangannya bergetar pelan, mengabarkan sebuah petaka.
Pesan singkat itu dingin dan mengejutkan, seperti kilatan petir di luar: “Per tanggal hari ini, Anda resmi diberhentikan. Perusahaan tengah melakukan efisiensi. Terima kasih atas pengabdian Anda.”
Arka menatap kata-kata itu berkali-kali, seakan setiap huruf menancap di dadanya seperti paku. Delapan tahun ia mengabdi di pabrik tekstil itu—mulai dari penyapu lantai hingga dipercaya mengurus ekspedisi. Kini, semua runtuh begitu saja.
Ia berdiri di dekat jendela. Jalanan basah, lampu jalan berkelip pucat, daun-daun jatuh seperti serpihan doa yang tak pernah sampai ke langit. Di dalam dirinya, badai lain sedang mengamuk: bagaimana ia harus menjawab senyum ibunya yang sejak siang menyiapkan dua piring lauk kesukaan, karena tahu hari ini adalah hari gajian?
“Mak…” Suara Arka pecah ketika ia menghampiri dapur.
Ibunya menoleh, masih dengan senyum lembut. “Iya, Nak. Capek, ya, di pabrik?”
Arka menelan ludah. “Aku… dipecat, Mak.”
Piring sayur di tangan ibunya hampir terlepas. Arka cepat meraih, lalu memapah ibunya duduk di kursi rotan reyot. Matanya berair, tapi ia berusaha tenang.
“Mak…” Arka menahan napas. “Aku bisa cari kerja lagi.”
Namun, ibunya justru terisak. “Arka… Bapakmu malam ini dioperasi. Dokter bilang jantungnya harus segera dipasang ring. Biayanya… dua puluh juta.”
Arka terpaku. Dunia seakan berhenti di antara suara hujan dan dentum guntur. Tak ada jeda bagi kabar buruk untuk menyiapkan hati.
Malam itu, ia berlari ke rumah sahabat lamanya, Lestari, yang sudah bekerja belasan tahun di pabrik. Perempuan itu menatapnya iba. “Aku cuma bisa pinjamkan lima juta, Kak. Maaf.”
Arka menerima uang itu dengan senyum yang dipaksakan. Namun, sebelum ia pamit, Lestari membisikkan rahasia yang lebih pahit daripada hujan malam itu. “Kau korban nepotisme. Bukan salahmu. Bos mengorbankanmu demi ponakannya sendiri.”
Arka hanya mengangguk. Di kepalanya, wajah pemuda kurus yang dulu satu sekolah dengannya muncul: murid paling arogan, pemabuk, penjudi. Kini duduk manis di kursi yang seharusnya masih ia tempati.
Ia menahan getir. “Kalau bukan rezekiku di sana, berarti ada jalan lain untukku, Tar.”
Di jalan sepi menuju rumah sakit, motor Arka melaju pelan. Gerimis menempel di jaketnya, menambah dingin yang menusuk tulang. Ia menarik tabungannya di ATM: lima belas juta, hasil dari hidup hemat bertahun-tahun.
Namun, saat mengurus administrasi, petugas menyodorkan rincian biaya operasi: tiga puluh lima juta. Arka nyaris roboh.
“Aku janji uangnya ada besok,” katanya putus asa.
“Tidak bisa, Mas. Administrasi harus lunas malam ini,” tegas petugas.
Arka terdiam. Air hujan yang menetes dari rambutnya terasa lebih berat daripada dunia itu sendiri. Malam itu juga, ia menjual motornya ke tetangga dengan harga terpaksa: tujuh belas juta. Digabung dengan tabungan dan pinjaman Lestari, akhirnya ia menyerahkan uang tiga puluh lima juta ke petugas administrasi.
Namun takdir tidak selalu tunduk pada kerja keras manusia. Esok paginya, operasi gagal. Dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah muram. “Kami sudah berusaha. Maaf… Bapak tidak tertolong.”
Langit seolah runtuh ketika Arka menerima penjelasan dokter yang singkat itu. Ibunya pingsan di pelukannya. Arka duduk kaku, membeku bersama dinginnya kursi ruang tunggu.
Jenazah bapaknya diantar dengan ambulans yang meraung-raung, menyingkap senyap jalanan kota. Di pemakaman, tanah basah mencium tubuh yang selama ini menjadi penopang keluarga. Ibunya tersungkur di sisi nisan, menggenggam kayu sederhana bertuliskan nama suaminya. Arka paham perasaan ibunya yang tak rela menerima nasib ini.
Arka menatap langit, tempat awan hitam bergulung tanpa jeda. Angin menampar wajahnya, seakan mengingatkan: nasib buruk tak datang sendiri, ia selalu membawa kawanan.
Dan di sana, berdiri bos pabrik tempat Arka sebelumnya bekerja. Lelaki yang kemarin memutuskan hidupnya dengan satu pesan singkat. Wajahnya kosong, menatap upacara duka tanpa suara.
Arka mengepalkan tangan, lalu melepaskannya perlahan. Tidak ada yang tersisa malam itu selain hujan, kuburan basah, dan satu janji pada dirinya sendiri: Bahwa badai boleh merobohkan atap, boleh menghapus pekerjaan, bahkan boleh merenggut ayahnya. Tetapi ia tak akan membiarkan badai itu memadamkan tekadnya untuk bangkit.
Di langit yang runtuh, ia menggenggam nasib buruk itu erat, sebagai luka sekaligus alasan untuk terus berjalan.
*****
Editor: Moch Aldy MA
