Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Doa yang Panjang Sekali dan Puisi Lainnya

Salman Alade

1 min read

Doa yang Panjang Sekali

aku berdoa panjang sekali.
kalimatnya runtut,
tata bahasanya rapi.

tapi langit tetap bening,
tak ada hujan jawaban.

baru kusadari,
doaku kekurangan air mata.

ia kering
seperti tanah yang terlalu sering dipijak,
terlalu jarang disiram penyesalan.

tuhan,
ajarkan aku menangis
tanpa merasa lemah.

Surah 112

satu
hanya satu

di tengah hidup
yang beranak-pinak seperti utang

tidak beranak
tidak diperanakkan

kalimat ini seperti batu
yang menolak retak

aku membacanya
dan merasa kecil

sebab hidupku terlalu bercabang
terlalu banyak tuhan-tuhan kecil:
ambisi
reputasi
validasi
angka sitasi

keesaan adalah revolusi

ia menggulingkan
segala berhala
yang tak kita sadari
kita bangun sendiri

Surah 113

aku berlindung
dari subuh yang terlalu cepat
dari iri yang terlalu lihai
dari bisik yang tak punya wajah

malam kadang melahirkan
pikiran-pikiran aneh

seperti pabrik bayangan

aku membaca pelan
dan merasa
sedang menutup jendela

agar angin
tak sembarang masuk

Surah 114

di dalam kepala
ada lalu lintas

bisikan datang
tanpa plat nomor

ia menyuruh
ia membujuk
ia mengomentari

aku berlindung
dari diriku sendiri

dari versi yang lebih gelap
yang suka menawar niat

manusia memang aneh

setan diikat
tapi pikirannya tetap liar

Asmaul Husna yang Tertinggal di Lidah

aku menghafal-Mu
seperti menghafal lirik lagu:
fasih di luar kepala,
gagap di dalam dada.

Ya Rahman.
Ya Rahim.
Ya Malik.

nama-nama itu berkilau
seperti kelereng di mulut anak kecil,
indah,
tapi belum tentu dipahami.

Tuhan,
apakah Engkau tersenyum
melihatku menyebut-Mu
tanpa benar-benar memanggil?

atau Engkau justru menunggu
satu nama saja
yang keluar
dari luka paling dalam?

Latihan Sakaratul Maut

aku sering berlatih mati
di kepalaku sendiri.

membayangkan siapa yang menangis,
siapa yang benar-benar kehilangan,
siapa yang hanya datang karena undangan.

tapi kematian tidak tertarik
pada dramaku.

ia datang tanpa rehearsal.
tanpa trailer.
tanpa pesan pengingat.

dan ketika napas menjadi asing,
yang paling kucari bukanlah harta,
bukan nama,
bukan gelar,

melainkan satu sujud
yang benar-benar bersih
dari pamer.

aku takut
di detik terakhir
yang kuingat justru hal-hal kecil
yang tak sempat kucabut dari hati.

(Yogyakarta, 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email