Doa yang Panjang Sekali
aku berdoa panjang sekali.
kalimatnya runtut,
tata bahasanya rapi.
tapi langit tetap bening,
tak ada hujan jawaban.
baru kusadari,
doaku kekurangan air mata.
ia kering
seperti tanah yang terlalu sering dipijak,
terlalu jarang disiram penyesalan.
tuhan,
ajarkan aku menangis
tanpa merasa lemah.
–
Surah 112
satu
hanya satu
di tengah hidup
yang beranak-pinak seperti utang
tidak beranak
tidak diperanakkan
kalimat ini seperti batu
yang menolak retak
aku membacanya
dan merasa kecil
sebab hidupku terlalu bercabang
terlalu banyak tuhan-tuhan kecil:
ambisi
reputasi
validasi
angka sitasi
keesaan adalah revolusi
ia menggulingkan
segala berhala
yang tak kita sadari
kita bangun sendiri
–
Surah 113
aku berlindung
dari subuh yang terlalu cepat
dari iri yang terlalu lihai
dari bisik yang tak punya wajah
malam kadang melahirkan
pikiran-pikiran aneh
seperti pabrik bayangan
aku membaca pelan
dan merasa
sedang menutup jendela
agar angin
tak sembarang masuk
–
Surah 114
di dalam kepala
ada lalu lintas
bisikan datang
tanpa plat nomor
ia menyuruh
ia membujuk
ia mengomentari
aku berlindung
dari diriku sendiri
dari versi yang lebih gelap
yang suka menawar niat
manusia memang aneh
setan diikat
tapi pikirannya tetap liar
–
Asmaul Husna yang Tertinggal di Lidah
aku menghafal-Mu
seperti menghafal lirik lagu:
fasih di luar kepala,
gagap di dalam dada.
Ya Rahman.
Ya Rahim.
Ya Malik.
nama-nama itu berkilau
seperti kelereng di mulut anak kecil,
indah,
tapi belum tentu dipahami.
Tuhan,
apakah Engkau tersenyum
melihatku menyebut-Mu
tanpa benar-benar memanggil?
atau Engkau justru menunggu
satu nama saja
yang keluar
dari luka paling dalam?
–
Latihan Sakaratul Maut
aku sering berlatih mati
di kepalaku sendiri.
membayangkan siapa yang menangis,
siapa yang benar-benar kehilangan,
siapa yang hanya datang karena undangan.
tapi kematian tidak tertarik
pada dramaku.
ia datang tanpa rehearsal.
tanpa trailer.
tanpa pesan pengingat.
dan ketika napas menjadi asing,
yang paling kucari bukanlah harta,
bukan nama,
bukan gelar,
melainkan satu sujud
yang benar-benar bersih
dari pamer.
aku takut
di detik terakhir
yang kuingat justru hal-hal kecil
yang tak sempat kucabut dari hati.
(Yogyakarta, 2026)
*****
Editor: Moch Aldy MA
