Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Budak Tanpa Tuan: Mengapa Kita Mengeksploitasi Diri Sendiri?

Lalu Rifki Rahman

4 min read

Kita hidup di zaman yang menjunjung tinggi akan kebebasan. Semua orang didorong untuk tampil, berbicara, dan bekerja tanpa henti. Dan rasanya generasi sekarang lebih bebas dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Begitulah sekiranya pandangan Byung-Chul Han atas kondisi masyarakat “modern” dalam bukunya The Burnout Society (2010). Han merupakan filsuf berdarah Korea-Jerman yang menaruh banyak perhatiannya pada perkembangan dunia digital. Han acap kali mengkritik budaya digital, media sosial, dan bagaimana cara kerja kapitalisme modern. Ia melihat masyarakat modern saat ini tidak lagi dikendalikan oleh sistem yang kasar dan menakutkan, sebagaimana sistem dalam sekolah, penjara, kantor, dan lainnya, melainkan adanya sebuah sistem yang mendorong untuk terus-menerus menjadi lebih baik, lebih idela, dan lebih “produktif”.

Tidak jauh sebenarnya jarak antara Han dan Foucault. Namun, pemikirannya bertolak belakang. Bagi Foucault, masyarakat modern dibentuk oleh kedisiplinan, sekolah mengajarkan kepatuhan, pabrik-pabrik menuntut ketertiban, rumah sakit mengatur tubuh, dan penjara menghukum orang-orang yang melakukan pelanggaran. Dan pesan yang disampaikan didalamnya adalah: “kamu tidak boleh…”. Kalimat ini mengandung batas yang jelas antara yang dizinkan dan yang dilarang.

Baca juga:

Memang saat ini larangan masih ada, namun suasananya sangatlah berbeda. Larangan tidak begitu terasa. Yang kentara saat ini adalah dorongan positif: “kamu bisa…”. Kamu bisa sukses jika kamu berusaha. Kamu bisa kaya jika cukup kreatif. Kamu bisa sehat jika disiplin. Kamu bisa terkenal jika konsisten membangun citra. Seolah-olah dunia memberikan ruang tanpa batas bagi semua orang.

Jika hanya melihat secara sekilas mata, maka akan terdengar seperti kabar yang turun dari surga. Tidak ada lagi tembok yang menghalangi. Tidak lagi ada aturan yang terlalu kaku. Namun, Han melihat terdapat kejanggalan di dalamnya. Menurutnya, ketika semua orang diyakini bahwa mereka “bisa”, maka ketika mereka mendapati kegagalan, itu akan menjadi beban pribadi. Kesalahan akan dianggap bersumber dari dirinya sendiri, bukan lagi pada sistem.

Berangkat dari sinilah, kemudian “tekanan” mulai bekerja. Tekanan bukan lagi sebagai paksaan dari luar, melainkan sebagai tuntutan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Kita “harus” bergerak, “memperbaiki diri”, dan terus “membuktikan kemampuan”.

Han menyebut zaman saat ini sebagai zaman “Achievement Society”. Di mana kita tidak lagi diperintah untuk patuh, melainkan didorong untuk berprestasi. Kita tidak lagi dikontrol oleh larangan, melainkan oleh ambisi. Dan ambisi sangat berbeda dengan larangan, ambisi tidak pernah mengenal kata “cukup”.

Akibatnya, menurut Han, adalah munculnya kelelahan khas, berbeda dari kelelahan yang dirasakan oleh zaman-zaman sebelumnya. Kelelahan yang bukan hanya sebatas fisik, melainkan juga kelelahan batin.

Tekanan dari Diri Sendiri

Jika dulu orang merasa tertekan karena aturan dari luar, atasan yang galak, aturan kantor yang ketat, atau norma sosial yang keras, sekarang bentuknya berbeda. Tekanan itu sering muncul dari dalam diri sendiri. Tidak ada yang benar-benar memaksa kita bekerja sampai tengah malam, tetapi kita merasa bersalah jika tidak melakukan. Tidak ada yang memaksa kita membuka media sosial setiap jam atau bahkan menit, tetapi kita takut tertinggal informasi atau trend yang sedang viral.

Kita hidup dalam suasana persaingan yang halus. Kita ingin terlihat aktif, produktif, dan terus berkembang. Kita tidak ingin dianggap kalah. Tanpa sadar, kita membandingkan diri dengan teman lama, rekan kerja, bahkan orang yang tidak kita kenal di internet. Melihat pencapaian orang lain sering membuat kita merasa harus melakukan lebih banyak.

Menurut Byung-Chul Han, keadaan ini adalah bentuk self-exploitation, yaitu ketika seseorang mengeksploitasi dirinya sendiri. Jika dalam pemikiran Karl Marx ada perbedaan antara tuan dan budak, yang satu memerintah, dan yang lain bekerja. Maka dalam masyarakat sekarang keduanya menyatu dalam satu diri. Kita menjadi tuan bagi diri kita sendiri, sekaligus menjadi budak yang harus menuruti perintah itu.

Kita yang membuat target. Kita yang memaksa diri untuk mencapainya. Kita juga yang menyalahkan diri sendiri jika gagal.

Tekanan seperti ini terasa lebih “halus” karena tidak datang dari luar. Ia muncul dalam bentuk ambisi, motivasi, dan keinginan untuk berhasil. Namun karena datang dari dalam, tekanan itu sulit dihentikan. Tidak ada jam kerja yang jelas. Tidak ada batas yang tegas antara waktu kerja dan waktu istirahat. Bahkan saat sedang bersantai, pikiran kita masih dipenuhi rencana dan kekhawatiran.

Akibatnya, masalah yang muncul pun berbeda dari masa lalu. Jika dulu banyak orang mengalami konflik batin karena terlalu banyak larangan, sekarang banyak orang merasa lelah, cemas, dan kehilangan arah karena merasa harus selalu mampu. Banyak yang mengalami stres dan depresi bukan karena terlalu dibatasi, tetapi karena merasa harus terus membuktikan diri.

Singkatnya, kita tidak lagi lelah karena terlalu banyak “tidak boleh”. Kita lelah karena terlalu banyak “bisa”, dan merasa harus memanfaatkan semua kemungkinan itu sekaligus.

Tidak Ada Kata “Cukup”

Di zaman sekarang, hampir semua hal dinilai dari seberapa “berguna” dan “menghasilkan” sesuatu. Produktivitas tidak lagi terbatas pada pekerjaan di kantor atau usaha mencari nafkah. Ia masuk ke hampir seluruh bagian hidup kita.

Tubuh, misalnya, tidak cukup hanya sehat. Ia harus ideal, cantik dan ganteng, dan harus terus dipoles. Langkah kaki dihitung, kalori dicatat, jam tidur dipantau. Pikiran juga harus selalu fokus dan efisien. Jika sulit berkonsentrasi, kita merasa ada yang salah dan harus segera diperbaiki.

Waktu luang pun tidak benar-benar bebas. Liburan harus tetap produktif, belajar hal baru, membaca buku pengembangan diri, mengikuti kursus daring. Hobi tidak lagi sekadar kesenangan, tetapi sering diarahkan agar bisa “dijual” atau setidaknya membangun citra diri. Bahkan pertemanan kadang dinilai dari manfaatnya: apakah bisa menambah relasi, membuka peluang, atau memperluas jaringan.

Dalam suasana seperti ini, kita jarang merasa cukup. Setiap kali satu target tercapai, muncul target berikutnya. Standar terus naik. Media sosial memperlihatkan orang-orang yang tampak lebih berhasil, lebih mapan, dan lebih produktif. Tanpa sadar, kita ikut menyesuaikan ukuran keberhasilan kita berdasarkan apa yang kita lihat.

Produktivitas akhirnya bukan lagi sekadar soal bekerja dan menghasilkan uang. Ia berubah menjadi ukuran nilai diri. Orang yang sibuk dianggap penting. Orang yang jadwalnya penuh dianggap sukses. Sebaliknya, orang yang lebih santai sering dicurigai tidak serius atau kurang ambisi.

Akibatnya, hidup terasa seperti daftar tugas yang tidak pernah selesai. Selalu ada hal yang harus diperbaiki, ditingkatkan, atau dicapai. Bahkan ketika tubuh ingin beristirahat, pikiran masih sibuk memikirkan apa yang belum dilakukan.

Media Sosial dan Tuntutan untuk Terus Aktif

Media sosial membuat tekanan untuk berprestasi terasa jauh lebih kuat. Setiap hari kita melihat pencapaian orang lain: foto liburan ke luar negeri, kabar promosi jabatan, bisnis yang berkembang, tubuh yang semakin ideal, sertifikat pelatihan yang baru diraih. Hampir semuanya terlihat rapi dan berhasil.

Jarang sekali kita melihat proses yang panjang, kegagalan, atau rasa ragu di baliknya. Yang tampil di layar adalah hasil terbaik. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup kita dengan potongan-potongan keberhasilan itu.

Baca juga:

Akhirnya muncul dorongan untuk ikut bergerak. Kita merasa harus menunjukkan sesuatu juga. Harus mengunggah capaian, harus aktif berpendapat, harus terlihat berkembang. Diam terasa seperti tertinggal.

Yang menarik, bahkan kemarahan dan kritik pun ikut masuk ke dalam pola ini. Ketika kita marah di kolom komentar, membuat tagar protes, atau membagikan video yang mengkritik ketidakadilan, kita merasa sedang melawan. Kita merasa sudah berpartisipasi dan mengambil sikap.Namun di saat yang sama, setiap klik, komentar, dan unggahan itu menambah data. Kita tetap aktif di dalam sistem. Platform digital tidak terlalu peduli apakah kita sedang memuji atau marah. Yang penting kita terus terlibat.

Semakin kita bereaksi, semakin lama kita bertahan di sana. Akibatnya, kritik sering berhenti sebagai tontonan. Kita merasa sudah melakukan sesuatu hanya dengan berkomentar atau membagikan konten. Kita merasa sudah “turun tangan” hanya dengan ikut meramaikan percakapan. Padahal di luar layar, keadaan tidak banyak berubah. Energi kita habis untuk bereaksi, tetapi jarang berlanjut menjadi tindakan yang nyata dan berkelanjutan.

Akhirnya dan juga barangkali bahwa kebebasan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa memilih untuk tidak selalu mengejar, tidak selalu mengikuti trend yang sedang viral, dan tidak selalu untuk menjadi pribadi untuk orang lain. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Lalu Rifki Rahman
Lalu Rifki Rahman Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email