ANJING-ANJING
anjing-anjing di langit hitam
menari-nari
tubuhnya pucat
seperti terbuat dari sebagian api putih
jatuh satu per satu bagai biji hujan
menembus dinding-dinding
kepala kami
musik berdentum di telinga
ke dada
meruntuhkan sebagian jiwa kami
rongga-rongga dalam tubuh kami
menganga
diisi oleh anjing-anjing
–
ANAK MANUSIA
ayat-ayat firman tuhan
jatuh ke rerumputan
seekor domba memangkas
dan mencernanya
di dalam lambung kelaparan
firman tuhan tak mengenyangkan,
katanya
lalu ia muntahkan ayat-ayat firman tuhan
di kandang domba
dari muntahannya
terdengar tangis anak manusia
–
MEI I
malam pucat mengasingkan diri kepada sepi lampu-lampu jalan
jalanan menua menghitung amarah manusia dan kecemasan
waktu melingkar di pergelangan tangan tergesa-gesa meraih usia
mei, bulan padam separuh malam itu
–
MEI II
mei, masa kecilmu dulu tetap saja
anak-anak di pangkuan jalanan
melompat-lompat mengeja jakarta
–
MEI III
titik-titik hitam di tubuhku
adalah bekas-bekas ciumanmu
–dan saat air matamu meleleh menjadi api
kota telah memucat dan pedih
–
KEPADA IBU
mempertemukan luka-luka
dan merawat jutaan belatung
di lubang-lubang dada menganga
aku telah tumbuh menjadi gadis tangguh
dari omong-kosong rayuan
dan kaki-kakiku telah tumbuh berduri
dan tulang-tulang tubuhku telah mengeras
dan tangan-tanganku telah tumbuh lebih panjang
dan rambut di kepalaku telah tumbuh bercabang-cabang
tapi hatiku tetap bukan milikku, ia milik luka-luka
*****
Editor: Moch Aldy MA
