Memenangkan Peperangan
Kupanggil kau sekali, kau tuli
Kupanggil kau beberapa kali, kau tak peduli
Aku lupa kapan terakhir kali
kita mengurai cerita dalam ruang nyata
yang sesekali sesak oleh racauan
atau omong kosong yang mengecup malam hingga pagi
Kau mengubur kenangan dalam peperangan,
riuh dalam layar,
sunyi seorang diri
Aku menunggumu di persimpangan,
sampai kau memenangkan peperangan,
namun pada akhir cerita,
sampai kerut wajahku menyala,
peperangan itu tak pernah benar-benar usai
–
Suara-Suara yang Hilang
Ramai, ramai, suara itu menggema di udara
Ketika satu per satu kebenaran terkubur bersama waktu
dan dusta menjadi kebenaran yang baru
Telingamu tersumbat oleh dendam masa lalu
Entah kekalahan atau kemenangan yang semu
Tangisan dan kemarahan
seperti tembang kenangan yang membalut luka
Toh masih ada mereka yang berjalan bersamamu
Mereguk darah dan air mata, memuaskan ego yang tak kunjung habis
Dunia masih berjalan seperti biasanya
Teriakan itu tetap di sana
Namun kau memilih tetap melaju,
sampai suara-suara itu menjadi begitu lirih,
dan lenyap dalam radarmu.
–
Debu dan Roda
Kau menjadi tua di antara debu dan roda
Menguntai hari-hari dengan mimpi yang semakin tak pasti
dan harapan yang terkikis perlahan
Tubuhmu laksana mesin yang enggan menuntut jeda
Sebab pada pundakmu tergantung semua rencana
Langkahmu tertahan oleh deretan angka
Sedang isi kantongmu begitu-begitu saja
Kau ingin memuntahkan kesal,
tapi kau disergap daftar tagihan
juga pesan yang selalu kau ulang,
bahwa setelah kesulitan ada kemudahan,
setelah kesulitan ada kemudahan.
*****
Editor: Moch Aldy MA
